Mengapa HAKI Itu Penting?

Rabu, 27 April 2011

Jakarta, MINDCOMMONLINE.COM –  Pertanyaan di atas diajukan oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dalam acara  Pembukaan Konvensi  Nasional Hak Kekayaan Intelektual (HAKI)  Sedunia di Istana Negara,  Selasa (26/4).

Tanpa menunggu jawaban dari  hadirin, SBY menjawab sendiri pertanyaan itu. Menurut dia, ada empat alasan pentingnya HAKI. Pertama,  ini menyangkut sesuatu yang berdimensi jangka panjang  bagi bangsa kita.

“Bagi bangsa Indonesia adalah yang berkaitan dengan peradaban sebuah bangsa, civilization,” katanya.

Sebuah bangsa yang unggul, kata SBY,  berperadaban maju manakala bangsa itu memiliki penghormatan pada pranata hukum, rule of law, dan juga mengakui, serta menghormati yang disebut dengan property right, hak milik.

“Saya ingin lengkapi karena juga berkaitan dengan dunia inovasi, research and development, inventions, discovery, yaitu bangsa akan maju manakala memiliki etos kerja yang tinggi, bangsa yang mau berkeringat dan bekerja keras. Tentu patut mereka yang bekerja keras itulah yang mendapatkan pengakuan atas kerja kerasnya, di antaranya adalah HAKI yang dimilikinya,” dia memaparkan.

Kedua, manakala kita menghormati, menjunjung tinggi, dan memproteksi HAKI, maka kita bisa mendorong daya inovasi dan kreativitas yang lebih pesat lagi.

“Mengapa putra-putri bangsa itu termotivasi dan ingin melakukan inovasi dan penemuan besar-besaran? Karena karyanya diakui dan dihormati. Sangat wajar,” ucapnya.

Ketiga, HAKI  juga  berhubungan dengan  insentif. Kalau berkaitan dengan kesejahteraan, maka insentifnya haruslah insentif ekonomi, insentif kesejahteraan.

Menurut SBY,  orang yang menemukan sesuatu, produk tertentu, hampir pasti itu melalui kerja keras, penelitian dan pengembangan yang sering menghabiskan waktu, energi, bahkan biaya. Oleh karena itu, patut kalau karyanya, ciptaannya, hasilnya juga mendapatkan imbalan yang pantas.

“Jadi, di sini intellectual power yang telah diwujudkan menjadi suatu produk, itu mesti mendapatkan penghargaan dan insentif yang tepat, sama dengan insentif yang dihargakan, yang dinilaikan, yang diberikan kepada properti yang nonintelektual. Sama ini. Ada intellectual property dan non-intellectual property,” dia mengungkapkan.

Keempat,  pembajakan  atas hak cipta harus diberantas.

“Empat hal itulah yang mesti kita lihat secara utuh manakala bangsa ini sungguh-sungguh ingin menghormati, mengakui, mengembangkan, dan memberikan perlindungan pada HAKI di masa depan,” tuturnya.

Pada kesempatan itu SBY juga  mengoreksi istilah Hak Kekayaan Intelektual.  Menurut dia, yang tepat adalah Hak  Milik Intelektual atau  Hak Kepemilikan Intelektual.

Alasannya,  kekayaan dalam bahasa Indonesia, bahasa Inggrisnya itu adalah well atau riches.

“Kaya itu wealthy atau rich. Kalau properti, itu milik. Barangkali karena namanya hak kekayaan, tidak begitu kena dari konsep hukumnya. Tapi kalau hak milik intelektual, hak kepemilikan intelektual milik seseorang janganlah dicuri, janganlah dibajak, janganlah disalahgunakan,” SBY menjelaskan.

SBY juga menyinggung soal  daya saing  sebuah negara. Dia menilai, intellectual property protection itu salah satu instrumen untuk mengukur sejauh mana sebuah negara memiliki daya saing yang tinggi.

“Kalau kita makin menghormati, mengakui, dan memproteksi hak kepemilikan intelektual ini, maka insya Allah daya saing kita juga akan semakin tinggi,” demikian Presiden SBY. (ra)

Share tulisan ini Share on FacebookTweet about this on TwitterShare on Google+Email this to someone