Budaya Lokal Jadi Identitas Fesyen Indonesia

Jumat, 11 Maret 2016

Jakarta, MINDCOMMONLINE.COM –    Menteri Perindustrian Saleh Husin meminta pelaku industri fesyen nasional terus mengusung kebudayaan lokal dalam menciptakan nilai tambah pada produknya. Hal ini juga diharapkan mampu memberikan ciri khas dan identitas fesyen Indonesia yang dapat membedakan dengan negara lain.

“Selain kaya akan sumber daya alam dan manusia, Indonesia memiliki beragam kebudayaan. Jika hal tersebut diolah dengan baik, akan menjadi kekuatan kita dalam menciptakan produk fesyen dalam negeri yang berdaya saing di tengah pasar bebas saat ini,” kata Saleh   pada Pembukaan Indonesia Fashion Week (IFW) 2016 di Jakarta, Kamis (10/3).
Peresmian acara akbar itu dilakukan bersama oleh Menko Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Puan Maharani, Ketua Dewan Perwakilan Daerah (DPD) Irman Gusman dan Ketua Komisi VI   DPR   Achmad Hafisz Tohir.
 Menteri Saleh  memberi  apresiasi terhadap pelaksanaan IFW tahun ini yang memilih tema Reflections of Culture. Hal ini mendorong inspirasi para peserta, yaitu desainer nasional untuk menciptakan kreativitas karyanya dengan memberikan nilai tambah produk-produk heritage yang ada di setiap daerah di Indonesia.
Dia   berharap agar kerjasama Pemerintah dengan dunia usaha dalam mendorong pengembangan industri fesyen nasional dapat terus ditingkatkan. Terlebih lagi untuk mewujudkan Indonesia menjadi Pusat Mode Dunia pada tahun 2025.
Pada kesempatan yang sama, Menko Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Puan Maharani mengatakan corak budaya dapat menjadi inspirasi dan membangun karakter serta kepribadian industri fesyen nasional.
“Hal itu juga akan memperkuat daya saing fesyen kita terutama alam menghadapi kompetisi dengan industri fesyen global,”  kata   Puan yang juga berharap Indonesia menjadi pusat fesyen di Asean maupun dunia.
Senada, Menteri Koperasi dan UKM AA Gede Ngurah Puspayoga mengatakan, desain berbasis budaya Indonesia merupakan tantangan bagi para desainer.
“Pasar mesti dipenuhi oleh karya-karya yang mengangkat budaya para desainer. Saya optimistis karena para desainer juga telah mengenal budaya kita,”   ucapnya.
Menurut Ketua APPMI Poppy Dharsono, IFW tidak hanya event semata, melainkan juga sebuah movement (gerakan) fesyen terbesar di Indonesia yang memiliki misi membangun pondasi industri fesyen nasional, baik dari sisi SDM hingga infrastruktur dan prasarana yang menunjang.
“Acara ini akan menyatukan semua elemen penting dari fashion designer, lembaga akademis, industri kecil, pengrajin, bisnis, asosiasi hingga pemerintah untuk peningkatan daya kreativitas,” tuturnya.
Poppy menambahkan, pelaksanaan IFW kali ini memasuki tahun kelima, yang diselenggarakan pada tanggal 10 – 13 Maret 2016 di Jakarta Convention Center (JCC).
Kegiatan ini diikuti sebanyak 487 brands, 32 fashion show dengan total 12.000 outfit karya desainer dalam dan luar negeri serta 480 booth untuk industri kecil dan menengah (IKM) daerah.
 Dirjen IKM Kemenperin Euis Saedah mengatakan, IFW merupakan kegiatan yang dibina oleh Kementerian Perindustrian bersama tiga kementerian lain, yaitu Kementerian Perdagangan, Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, serta Kementerian Koperasi dan UKM.
“Dalam pembagian peran antar kementerian, Kementerian Perindustrian fokus pada aspek pelatihan dan pengembangan desain, bantuan peralatan, standardisasi produk serta memfasilitasi pilot project local brand seperti merek Reneo,” paparnya.
Bersama IFW, Kementerian Perindustrian juga telah bekerjasama dalam program Green Movement dan Standardisasi. Green Movement bertujuan untuk meningkatkan kepedulian konsumen dan produsen fesyen terhadap kelestarian lingkungan, sementara Standardisasi bertujuan untuk menyetarakan standar ukuran produk fesyen Indonesia.
Pada kesempatan tersebut, Menperin juga menjelaskan, fesyen merupakan bagian dari industri kreatif yang termasuk dalam lingkup binaan Kementerian Perindustrian sebagaimana diamanatkan pada Inpres No. 6 Tahun 2009 tentang Pengembangan Ekonomi Kreatif.
“Seiring tumbuhnya Indonesia Fashion Week hingga pelaksanaan yang kelima kalinya ini, kita melihat industri fesyen Indonesia melesat menjadi salah satu primadona subsektor industri kreatif,”  ucapnya.
Berdasarkan data Tim Studi Ekonomi Kreatif – Kemenparekraf pada tahun 2014, sektor ekonomi kreatif memberikan kontribusi sebesar Rp 641,8 triliun terhadap PDB atau di atas sektor Pengangkutan dan Komunikasi serta sektor Keuangan, Real Estat, dan Jasa Perusahaan.
“Dari jumlah tersebut, subsektor fesyen menyumbang sebesar 28,29 persen atau setara Rp. 181,5 triliun, kedua terbesar setelah subsektor kuliner yang mencapai Rp. 208,6 triliun,” ungkap Menperin.
Subsektor fesyen juga menyerap tenaga kerja terbanyak di antara subsektor industri kreatif lain, yaitu sebanyak 3.838.756 orang dari 1.107.956 unit usaha.
Sementara itu, laju pertumbuhan ekspornya juga tertinggi dibandingkan subsektor industri kreatif yang mencapai 9,51 persen.
“Fesyen berkontribusi sebesar Rp 76,78 triliun terhadap ekspor Indonesia,” tuturnya.

Yang tak kalah penting untuk dicermati, imbuhnya,   adalah angka konsumsi rumah tangga untuk subsektor fesyen yaitu sebesar Rp 282,8 triliun atau menempati urutan kedua setelah subsektor kuliner dengan angka konsumsi rumah tangga sebesar Rp 367,5 triliun. (ray)

Leave a Reply