Sebelumnya, terjadi letusan pada  Rabu (11/10/2017 )pukul 10.51 Wib dengan tinggi kolom abu  vulkanik 1.500 meter. Angin bertiup lemah – sedang ke arah  timur-tenggara. Lama gempa erupsi 333 detik. Hujan abu terjadi di beberapa desa di sekitar Gunung Sinabung.

“Tidak ada korban jiwa dan penambahan jumlah pengungsi akibat letusan Gunung Sinabung. Masyarakat sudah terbiasa melihat letusan Gunung Sinabung karena sejak ditetapkan status Awas pada 2/6/2015 hampir setiap hari terjadi letusan. Desa-desa yang masuk dalam zona merah memang kosong. Ribuan jiwa masyarakat sudah mengungsi. Bahkan sebagian sudah direlokasi ke tempat yang lebih aman. Sebagian lagi menunggu relokasi,” ungkapnya.

BNPB, lanjutnya,  terus memberikan bantuan kepada pengungsi dan masyarakat sekitar Gunung Sinabung.  BNPB telah menyalurkan bantuan dana siap pakai untuk penanganan pengungsi sejak 2013 hingga September 2017 mencapai Rp 321,6 milyar untuk bantuan anak sekolah, jaminan hidup, biaya listrik, air bersih, sewa jambur untuk tempat pengungsian, pembangunan sekolah darurat, MCK, tempat ibadah, sewa rumah, sewa lahan pertanian dan sebagainya.

“Bupati Karo menjadi penanggung jawab penanganan dampak letusan Gunung Sinabung, BNPB terus memberikan pendampingan dan bantuan,” kata Sutopo.

Menurut dia, aktivitas vulkanik Gunung Sinabung masih tetap tinggi. Belum terlihat tanda-tanda adanya penurunan aktivitas vulkanik.

“PVMBG terus melakukan pemantauan secara intensif. Tidak dapat diprediksikan kapan letusan berakhir,” ucapnya.

Dia mengimbau masyarakat dan pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas dalam radius 3 km dari puncak, dan dalam jarak 7 km sektor selatan –  tenggara, dalam jarak 6 km sektor tenggara – timur, serta dalam jarak 4 km sektor utara – timur Gunung Sinabung.

“Masyarakat yang  bermukim dan beraktivitas dekat sungai – sungai yang berhulu di Gunung Sinabung agar tetap waspada terhadap ancaman bahaya lahar hujan,” dia mengingatkan.

Curah hujan, imbuhnya,  diprediksi akan terus meningkat sehingga ancaman banjir lahar hujan juga meningkat.

“Telah terbentuk bendung alam di hulu Sungai Laborus. Masyarakat yang bermukim dan beraktivitas di sekitar hilir daerah aliran sungai Laborus agar waspada karena bendungan ini dapat jebol karena tidak kuat menahan volume air sehingga mengakibatkan lahar/banjir bandang ke hilir,” tuturnya. (ray)