Ekspor Makanan Olahan Ditargetkan Naik Hingga 10,5%

Senin, 24 November 2014

Jakarta, MINDCOMMONLINE.COM –    Direktorat Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional (PEN) Kementerian Perdagangan I menargetkan ekspor di sektor makanan dan minuman olahan terdongkrak hingga 10,5%, menyusul ekspor kopi tahun lalu sudah menembus angka USD 1,17 miliar.

“Sebagai penghasil kopi terbesar ke-3 di dunia setelah Brazil dan Vietnam, Indonesia wajib mendorong ekspornya. Nilai ekspor kopi pada tahun 2013 mencapai USD 1,17 miliar. Kami harapkan nilai ekspor makanan olahan Indonesia terdongkrak hingga sebesar 9,5% – 10,5%,” kata Dirjen PEN Nus Nuzulia Ishak, akhir pekan lalu.

Ditjen PEN kembali memfasilitasi eksportir dan pelaku kopi untuk meningkatkan ekspornya. Dalam pameran Tea & Coffee China pada 12-14 November 2014 yang bertempat di Shanghai New International Expo Centre (SNIEC), Shanghai, Republik Rakyat Tiongkok (RRT), harum aroma kopi terbaik Indonesia seperti kopi Luwak, Toraja, Gayo, Jawa, Bali, dan Mandailing memikat penikmat kopi negeri Tirai Bambu itu.

Sebagai pasar potensial bagi produk kopi, permintaan RRT pada kopi impor begitu besar. RRT menempati urutan ke -18 sebagai importir kopi Indonesia.

“Nilai ekspor kopi ke RRT selama lima tahun terakhir terus tumbuh dengan tren sebesar 82,6% karena gaya hidup minum kopi menggeser konsumsi teh di RRT. Kami melihat ini sebagai sebuah peluang memperluas pasar,” tutur Nus.

Pameran Tea & Coffee China merupakan bagian dari Pameran Food and Hospitality China (FHC) 2014, salah satu pameran produk makanan di RRT yang diikuti oleh 1.820 ekshibitor dari 70 negara dan dikunjungi oleh 26.188 pengunjung.

Mengusung tema “Remarkable Indonesia”, kopi Indonesia tampil dalam dua paviliun Kemendag seluas 90 m2 dan Kementerian Perindustrian seluas 40 m2. Kemendag memfasilitasi lima anggota Gabungan Eksportir Kopi Indonesia (GAEKI) dari 12 eksportir dan pelaku usaha kopi, yakni UD IndoCommodity, CV. AA Production/Kopi Luwak Nusantara, UD Eref/Art Coffee, PT. Domba Bali Persada/Domba Coffee, CV. Banua Hills, Soeltan Coffee, PT. Fortunium/Ventura Coffee.

Selanjutnya, PT. Aneka Coffee Industry, PT. Muliasari Permai, PT. Maharaja Pusaka Nusantara, CV. Inkoi Rajawali/Toraja Arabica Coffee, dan PT. Perpustakaan Kopi/The Coffee Library.

Total nilai transaksi peserta selama pameran adalah sebesar USD 1.124.000 untuk produk green bean coffee dan roasted bean coffee jenis Arabica Gayo dan Arabica Mandailing.

Saat ini, ekspor kopi Indonesia ke RRT masih didominasi oleh green bean coffee yang nilainya relatif rendah.
Ekspor kopi Indonesia perlu diarahkan ke roasted bean coffee yang memiliki nilai
tambah lebih tinggi.

Untuk menyasar konsumen yang lebih luas, pelaku usaha kopi Indonesia dapat terus mempromosikan ekspor kopi instan untuk entry level selain menyasar ke segmen pasar yang lebih premium dengan mempromosikan kopi spesial, termasuk kopi luwak melalui coffee shop dan hotel berbintang.
Kopi Indonesia begitu kaya citarasa dan aroma unik yang tak tertandingi.

“Indonesia memiliki kopi luwak sebagai kopi termahal di dunia. Promosi ini sekaligus jadi upaya menangkis berbagai kampanye hitam tentang kopi luwak. Coffee is a language in itself,”  kata  Nus  mengutip
perkataan aktor kawakan RRT, Jackie Chan.

Chen Zhi Ming, Sekjen Shanghai Coffee Enterprise Association yang berkesempatan mengunjungi
Paviliun Indonesia menyampaikan potensi konsumsi kopi di Shanghai dan sekitarnya.

Saat ini, di Shanghai dan sekitarnya terdapat 4.000 kafe dan 200 perusahaan pemanggangan kopi dengan
kebutuhan 20.000 ton kopi setiap tahunnya.

Berdasarkan data riset dari Minte, jumlah kafe di RRT meningkat dua kali lipat dari 15.898
menjadi 31.283 selama periode 2007-2012. Merek global seperti Starbucks masuk RRT pada 1999
dengan menyasar generasi muda dan segmen pasar premium.

Starbucks  tercatat memiliki 1.001 cafe dan menargetkan membuka 1.500 outlet di seluruh RRT pada akhir 2015. Di Shanghai, sebagai kota yang lebih awal mengenal budaya minum kopi sekaligus memiliki pertumbuhan konsumsi kopi tertinggi,  Starbucks memiliki lebih dari 100 outlet.

CEO Starbucks Howard Schultz menyampaikan bahwa suatu saat RRT akan menjadi pasar terbesar kedua Starbucks setelah Amerika Serikat. (ra)

Leave a Comment