Empat Provinsi Dilanda Banjir

Kamis, 9 November 2017

Jakarta, MINDCOMMONLINE.COM – Hujan deras yang melanda beberapa wilayah telah menyebabkan banjir yang merendam permukiman. Bencana banjir tercatat di Aceh (Kabupaten Aceh Singkil), Sumatera Utara (Kabupaten Asahan,  Kota Medan), Jawa Barat (Kabupaten Bandung) dan Kalimantan Selatan (Kabupaten Baladangan).

“Meningkatnya curah hujan telah menyebabkan debit sungai meluap,” kata Sutopo Purwo Nugroho, Kepala Pusat Data Informasi dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Rabu.

Rusaknya daerah aliran sungai, lanjutnya,  membuat   daerah-daerah makin rentan bencana banjir. Bahkan banjir dapat terjadi berulangkali dalam satu tahun. Misal, banjir di Kecamatan Dayeuhkolot, Baleendah dan Bojongsoang Kabupaten Bandung dapat terjadi lebih dari 15 kali dalam satu tahun.

Begitu juga di Kabupaten Asahan, banjir dapat terjadi 5 kali dalam setahun. “Ini terjadi karena makin rentannya daerah tersebut akibat kerusakan daerah aliran sungai di bagian hulu, tengah dan hilir. Akibatnya permukiman makin sensitif terjadi bencana,” jelasnya.

Pada Rabu (8/11/2017) dini hari sekitar pukul 02.00 Wib, banjir melanda 8 desa di Kecamatan Suro, Kabupaten Aceh Singkil, Provinsi Aceh. Banjir terjadi setelah kawasan itu diguyur hujan deras dalam beberapa hari terakhir.

Ketinggian air akibat banjir bandang itu mencapai dua meter, tepatnya di Desa Bulusema, Kecamatan Suro, Aceh Singkil. Jalan nasional penghubung Aceh Singkil dan Subulussalam tidak bisa dilalui kendaraan.

Kedelapan desa yang terkena banjir, antara lain Desa Ujung Limus, Silatong, Tanjung Mas, Cububukan, Serasah, Lae Riman, Lipat Kajang, dan Kain Golong. Sebanyak 1.738 jiwa terdampak banjir bandang.

“BPBD  (Badan Penanggulangan Bencana Daerah) Aceh Singkil bersama TNI, Polri, Basarnas, SKPD (Satuan Kerja Pemerintah Daerah), Tagana (Taruna Siaga Bencana), PMI (Palang Merah Indonesia)  dan relawan melakukan evakuasi warga. Dapur umum telah didirikan,” ungkapnya.

“Terputusnya akses jalan menyebabkan antrean kendaraan dari arah Singkil- Subulussalam dan sebaliknya mengular. Polisi dan TNI berjaga-jaga di lokasi banjir,” imbuhnya.

Banjir juga melanda tiga kecamatan di Kabupaten Bandung, Provinsi Jawa Barat, yaitu Kecamatan Dayeuhkolot, Baleendah, dan Bojongsoang pada Selasa (7/11/2017) pukul 19.00 Wib. Hujan lebat menyebabkan Sungai Cisangkuy, Sungai Cikapundung dan Sungai Citarum meluap sehingga menggenangi 1.058 rumah dengan tinggi banjir 10-150 centimeter.

“Tidak ada korban jiwa. Masyarakat sudah terbiasa mengalami banjir. Setiap tahun daerah ini terlanda banjir sejak lama,” ucapnya.

Di Kota Medan banjir melanda permukiman di Kelurahan Gedung Johor, Kecamatan Medan Johor dan Kelurahan Sukaraja, Aur, Sei Mati, Kecamatan Medan Maimun pada 7/11/2017 pukul 03.00 Wib. Sebanyak 775 rumah dengan 1.240 KK atau 4.983 jiwa terendam banjir setinggi 100-150 centimeter.

“Banjir disebabkan hujan dengan intensitas tinggi dan meluapnya Sungai Deli. Saat ini banjir sudah berangsur surut,” tuturnya.

Saat yang bersamaan, banjir juga melanda di 9 desa di Kecamatan Halong dan Kecamatan Juai, Kabupaten Balangan, Provinsi Kalimantan Selatan pada Selasa (7/11/2017) pukul 05.00 WITA. Banjir merendam 427 unit rumah panggung dengan tinggi banjir 50-150 centimeter. Sebanyak 1.242 jiwa terdampak banjir. Tidak ada korban jiwa.

Di Kabupaten Asahan,  Sumatera Utara, banjir masih menggenangi 1.108 rumah di Kecamatan Teluk Dalam dan Kecamatan Simpang Empat. Banjir melanda sejak Sabtu (4/11/2017) hingga sekarang. Bupati Asahan belum menetapkan tanggap darurat bencana banjir hingga saat ini.

“Saat ini juga masih berlangsung banjir di Kabupaten Tapanuli Selatan Provinsi Sumatera Utara. Hujan lebat menyebabkan sungai meluap dan tanggul jebol sehingga banjir melanda di Kecamatan Angkola Sangkunur dan Kecamatan Batangtoru,” ungkapnya.

Menurut dia, BPBD bersama TNI, Polri, Basarnas, SKPD, PMI, Tagana, relawan, dan masyarakat melakukan penanganan darurat.

Kepala BNPB, kata Sutopo,  telah mengirimkan surat edaran kepada seluruh BPBD agar melakukan upaya antisipasi menghadapi banjir dan longsor. Koordinasi antar berbagai pihak dilakukan untuk antisipasi bencana. Logistik dan peralatan didekatkan pada titik-titik bencana.

“Puncak banjir dan longsor diprediksi terjadi pada Januari mendatang. Ancaman banjir dan longsor akan terus meningkat seiring dengan meningkatnya curah hujan. Masyarakat diimbau untuk selalu waspada,” demikian Sutopo Purwo Nugroho. (rdy)

 

 

Leave a Comment