Fokus IA-CEPA Bergeser ke Sektor Jasa dan Ekonomi Digital

Senin, 21 Maret 2016

Jakarta, MINDCOMMONLINE.COM –  Tema pertemuan para pemimpin ekonomi dunia di Davos  tentang revolusi industri menginspirasi Menteri  Perdagangan  Thomas Lembong mengubah arah kerja sama Indonesia-Australia.

Dalam lawatannya ke  Austrialia, 15-18 Maret 2016,   Tom Lembong menyatakan bahwa kerja sama Indonesia-Australia akan bertransformasi dari sektor pertanian dan industri ke sektor jasa dan digital economy. Penegasan ini disampaikan dalam kerangka Indonesia-Australia Comprehensive Economis Partnership Agreement (IA-CEPA).

“Mengikuti perkembangan dan tren di abad ke-21, maka fokus IA-CEPA akan bergeser ke sektor jasa dan ekonomi digital. Untuk itu Indonesia membutuhkan banyak pekerja profesional di berbagai bidang,” jelas Mendag Tom usai melakukan pertemuan dengan Menteri Perdagangan dan Investasi Australia Steven Ciobo dan Special Envoy for Trade Andrew Robb di Canberra, Rabu (16/3).

Indonesia melirik sejumlah sektor yang bakal memberikan manfaat bagi Indonesia dan Australia. Salah satunya menambah lapangan kerja baru. Sektor jasa seperti perawat, juru masak, fashion and jewellery designers, menurut Tom, akan dapat memberikan symbolic benefit.

“Indonesia akan menjalin kerja sama di bidang vocational training dan capacity building dengan Australia. Kesempatan magang di Australia juga akan makin terbuka,” lanjut Tom.

Pada bidang fashion, kedua negara sepakat untuk berkolaborasi dan saling bertukar desainer muda. Setiap perwakilan Indonesia di luar negeri nantinya diharapkan menyediakan fashion support. Australia bahkan menggunakan fashion diplomacy untuk mempromosikan industri fashion dalam negerinya.

Mendag Tom juga melihat sektor jasa pendidikan sebagai peluang investasi baru bagi Australia. Melihat  tingginya demand masyarakat Indonesia menempuh pendidikan di Australia, Mendag menawarkan Australia untuk melakukan joint venture di kawasan ekonomi khusus di Jawa Barat.

Selain itu, juga diharapkan terbangun kerja sama di bidang infrastruktur, seperti pembangunan jalan tol.

Sebelumnya, Mendag Tom dan Mendag Australia telah mengumumkan pengaktifan Indonesia-Australia Business Partnership Group (IA-BPG) untuk memaksimalkan perundingan IA-CEPA yang akan dimulai pada Mei 2016.

Sebagai langkah awal telah dibahas beberapa early outcomes yang dibagi menjadi advanced outcomes (program daging dan ternak, serta pertukaran keterampilan) yang dapat diimplementasikan dalam waktu enam bulan dan developing outcomes masih memerlukan kajian lebih lanjut.

Pada kesempatan courtesy call, Mendag Tom dengan Menteri Luar Negeri Australia Julie Bishop juga disepakati bahwa skema IA-CEPA akan menggunakan high technology di sektor tradisional. IA-CEPA ditargetkan dapat diselesaikan dalam jangka waktu 12-18 bulan ke depan.

Lawatan Mendag Tom ke Australia juga ingin menunjukkan keseriusan pemerintahan Presiden Joko Widodo terhadap kemudahan berbisnis di Indonesia.

Pada forum bisnis yang berlangsung di Melbourne, Kamis (17/3), Mendag menargetkan Indonesia masuk peringkat ke-40 dunia dalam kemudahan berbisnis (ease of doing busines).

“Indonesia bertekad untuk masuk dalam peringkat 40 besar dunia dalam ease of doing business. Berbagai upaya sudah kita lakukan. Salah satunya reformasi ekonomi berupa deregulasi untuk menarik investor baik dari dalam maupun luar negeri,” tuturnya.

Dalam forum ini, Mendag juga menyampaikan bahwa kedua negara, Indonesia-Australia, sepakat menjadikan kerja sama IA-CEPA sebagai kegiatan yang menyenangkan (‘fun’). Kesepakatan-kesepakatan yang dihasilkan kedua negara diharapkan akan terus bergulir tanpa mengalami hambatan baik dari dalam maupun luar negeri.

“Diharapkan ke depannya, kolaborasi kedua negara dapat menciptakan power house Asia,”  ucapnya.

Dalam pertemuan dengan   CEO Macquarie Group Asia, Alex Harvey,  Selasa (15/3) di Sydney, Australia,  Tom Lembong mengundang Macquarie untuk bekerja sama dengan sektor perbankan Indonesia dalam pengelolaan aset.

Sebagai negara dengan jumlah populasi dan jumlah penduduk usia produktif yang tinggi, aset-aset Indonesia dapat dikelola secara ekonomis. Aset tersebut akan diinvestasikan di beberapa sektor, seperti pendidikan, pembangunan jalan tol, peternakan, dan water management.

Menanggapi undangan ini, Macquarie akan melakukan penjajakan dengan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) atau Bank Mandiri guna memetakan capital flow di Indonesia dan kemudian diinvestasikan untuk pengembangan infrastruktur Indonesia.

Sebagai tindak lanjut, rencana kerja sama tersebut akan dibahas beberapa minggu kemudian di Jakarta.

Pada hari yang sama di Sydney, Mendag juga berdiskusi dengan perwakilan dari red meat and cattle industry, yaitu Managing Director of Meat Livestock Australia, CEO Australian Livestock Exporters’ Council, Chairman Red Meat Advisory Council, dan CEO Livecorp.

Dalam pertemuan ini, pebisnis Australia menyampaikan perhatiannya terkait sistem notifikasi alokasi impor daging Indonesia dan juga biaya yang dikeluarkan untuk memperoleh sertifikat halal.

Mendag menanggapi bahwa pada saat ini Indonesia dalam proses deregulasi di beberapa sektor dan diharapkan sektor pertanian dapat menjadi lebih modern sehingga dapat meminimalisasi isu-isu politik.

Sementara itu, pada kunjungan ke Freelancer.com, Mendag menyampaikan bahwa Indonesia akan fokus pada bidang digital economy, seperti e-commerce dan e-licensing. Rencana kebijakan ini disambut baik oleh Freelancer.com. Freelancer.com juga akan membuka cabang di Jakarta.

Nantinya, akan terdapat beberapa peluang pekerjaan, khususnya bagi engineering dan data science system. Selain itu, Indonesia memiliki kontribusi yang besar pada perusahaan ini dan merupakan top 5 workers di Freelancer.com.

Mengakhiri kunjungannya ke Sydney, Mendag juga berkunjung ke Nurses Training Center di University of Sydney. Mendag memiliki misi untuk menjalin kerja sama di bidang vocational training untuk perawat Indonesia atau joint research. Misi ini dilatarbelakangi budaya Indonesia yang ramah sehingga dapat mendukung Indonesia di sektor hospitality.

Apalagi tren aging population di negara maju, Indonesia berencana meningkatkan keahlian perawat sehingga dapat bekerja atau magang di luar negeri. University of Sydney saat ini sedang menyusun kurikulum kompetensi agar alumni dapat bekerja sebagai registered nurses.  (ray)

Leave a Comment

WP Facebook Auto Publish Powered By : XYZScripts.com