Garam Impor 37.000 Ton Segera Banjiri Pasar

Jumat, 11 Agustus 2017

Jakarta, MINDCOMMONLINE.COM – Sebanyak 37.000 ton garam impor asal Australia telah berlabuh di Pelabuhan Indonesia (Pelindo) II di Kecamatan Ciwandan, Kota Cilegon, kemarin. Garam tersebut rencanaya akan didistribusikan ke seluruh pelosok tanah air yang mengalami kelangkaan garam

“Yang tiba Kamis kemarin milik PT Garam Indonesia, itu dibongkar 25.000 ton. Seminggu sebelumnya bongkar PT Sumatera Call, itu 12.000 ton,” kata Deputi General Manager Operasional PT Pelindo II Adi Sugiri, dikutip viva.vo.id, hari ini.

Garam impor tersebut rencananya akan dibongkar dengan estimasi waktu dua sampai tiga hari ke depan. Dengan demikian pendistribusiannya baru akan dilakukan minggu depan.

“Sekarang dibawa ke daerah Cikande gudangnya, PT Susanti Megah. Kita kan dukung kelancaran distribusi garam pemerintah,” katanya menerankan.

Garam impor asal negeri kanguru itu masih akan terus berdatangan beberapa hari ke depan. Sehingga diharapkan bisa menstabilkan harga garam yang saat ini sedang tinggi.

“Ini enggak hanya konsumsi Banten, mungkin untuk keseluruhan. Karena untuk pelabuhan bongkar curah ada di Banten,” katanya.

Sikap pemerintah yang demikian itu – mengimpor garam – dinilai dapat mematikan petani, atau petambak garam lokal. Sebab, kebijakan impor bisa mematikan hajat hidup petani garam lokal.

Dalam lima tahun terakhir jumlah petani garam sudah menurun drastis, yakni dari 30.668 jiwa pada 2012 menjadi 21.050 jiwa di 2016. Fakta ini berdasarkan data Koalisi Rakyat Untuk Keadilan Perikanan (KIARA).

“Artinya, ada sekitar 8.400 petani garam yang alih profesi. Sebagian besar menjadi buruh kasar, atau pekerjaan informal lainnya dan berkontribusi terhadap fenomena migrasi kemiskinan dari desa ke kota. Kondisi yang sudah parah dengan adanya kebijakan impor garam jelas memukul petani garam lokal,” kata ekonom Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Bhima Yudhistira Adhinegara, pekan lalu.

Ia menilai, pemerintah perlu mencermati dampak dari kebijakan ini. Seharusnya pemerintah fokus dalam meningkatkan kualitas hasil produksi garam lokal, sehingga daya saingnya meningkat.

“Masalahnya petambak garam lokal selalu kalah saing dengan garam impor, terutama untuk industri. 91 persen kebutuhan garam industri diimpor. Sementara itu, peningkatan teknologi bagi produsen garam lokal stagnan,” kata  Bhima menegaskan. (au)

 

Leave a Comment