Indonesia Terus Bidik Pasar Selandia Baru

Rabu, 7 Maret 2018

Jakarta, MINDCOMMONLINE.COM –   Indonesia terus berupaya membuka akses pasar Selandia Baru sebagai  tujuan ekspor, termasuk untuk buah tropis. Upaya tersebut kembali dilakukan dalam forum Senior  Official’s Meeting on Trade and Investment Framework (SOMTIF) ke-6 antara Pemerintah  Indonesia dan Selandia Baru di Jakarta, Senin (5/3).

Jika kerja sama terwujud, buah tropis asal  Indonesia seperti salak, mangga, nanas, dan pisang akan dapat mengikuti jejak manggis yang  sudah masuk sejak 2014 lalu.

Pada pertemuan SOMTIF ke-6 ini, Dirjen Perundingan Perdagangan Internasional Kementerian  Perdagangan Iman Pambagyo menjadi Ketua Delegasi Indonesia. Sedangkan, Delegasi Selandia   Baru dipimpin oleh Principal Adviser, Trade & Economic Group, Ministry of Foreign Affairs and  Trade Mark Trainor.

“Bagi Indonesia, pembukaan akses pasar khususnya untuk buah tropis memiliki peluang yang baik.  Harapan kami, buah-buahan tropis dari Indonesia seperti salak, mangga, nanas, dan pisang dapat  segera diekspor ke Selandia Baru,” ungkap Iman.

Salah satu isu yang menjadi perhatian dalam forum SOMTIF ke-6 adalah pembukaan akses pasar  terkait perdagangan barang di bidang pertanian. Kedua negara berkeinginan menjalin kerja sama  lebih lanjut terkait komoditas ekspor unggulan masing-masing.

Jika Indonesia ingin membuka  akses pasar buah tropis di Selandia Baru, sebaliknya Selandia Baru ingin meningkatkan ekspor
bawang bombai, susu, dan daging ke Indonesia.

Dalam pertemuan tersebut, dibahas pula berbagai isu hambatan perdagangan terkait produk  pertanian kedua negara. Kedua delegasi sepakat bahwa isu pertanian akan dibahas lebih  mendetail di forum bilateral bidang pertanian pada ASEAN-Australia New Zealand Free Trade  Agreement (AANZFTA) yang diagendakan berlangsung di pertengahan Maret 2018 di Selandia  Baru.

Indonesia dan Selandia Baru kembali menegaskan komitmen untuk meningkatkan kerja sama  perdagangan dan investasi melalui forum tahunan SOMTIF. Forum ini mendiskusikan isu-isu  perdagangan dan investasi, sekaligus mencari terobosan untuk meningkatkannya. Forum SOMTIF  juga mewadahi kerja sama bilateral di bidang-bidang seperti pertanian, energi, pendidikan,
pariwisata, serta peningkatan promosi di bidang perdagangan dan investasi.

“Pertemuan SOMTIF ke-6 ini merupakan upaya konkret untuk meningkatkan perdagangan kedua  negara yang ditargetkan mencapai Rp400 trilliun atau NZD 4 miliar dalam periode sepuluh tahun  (2014-2024),” jelas Iman.
Pada tahun 2017, Selandia Baru merupakan negara tujuan ekspor nonmigas terbesar ke-34 dan  negara asal impor ke-26 bagi Indonesia. Total perdagangan tahun 2017 sebesar USD 1,2 miliar  dengan nilai ekspor Indonesia sebesar USD 437,8 juta. Sedangkan, impor Indonesia dari Selandia  Baru sebesar USD 751,2 juta.

Defisit neraca perdagangan Indonesia terhadap Selandia Baru  sebesar USD 313,4 juta. Tren total perdagangan kedua negara rata-rata menurun 3,82% selama  periode 2013-2017. Oleh sebab itu kedua negara berupaya agar tren tersebut dapat dikoreksi melalui berbagai upaya promosi dagang dan penyelesaian isu dagang.

SOMTIF digagas tahun 2005 saat kunjungan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono  ke Selandia Baru, dan ditindaklanjuti  melalui kunjungan Perdana Menteri Selandia Baru ke Indonesia tahun 2007.

Pada tahun 2007,   Menteri Perdagangan RI dan Selandia Baru menandatangani suatu kerangka kerja untuk meningkatkan perdagangan dan investasi kedua negara. Pertemuan pertama terlaksana pada 14– 15 Juli 2008 di Wellington dan sejak saat itu dilaksanakan secara bergantian di kedua negara.

Forum SOMTIF ke-6 juga menekankan pentingnya promosi dagang di antara kedua negara. Terkait  hal tersebut, Kemendag merencanakan Misi Dagang dan Forum Bisnis di Selandia Baru pada 16–19  Maret 2018 yang akan melibatkan para pelaku usaha Indonesia.

“Presiden RI selalu menekankan bahwa salah satu sumber pertumbuhan ekonomi adalah kinerja  ekspor. Walaupun penduduk Selandia Baru tidak besar, namun jika dikaji lebih dalam, Indonesia  belum memanfaatkan potensi pasar dan sumber investasi Selandia Baru secara maksimal. Untuk  itu, misi dagang kali ini akan menjembatani penetrasi ekspor atau investasi yang lebih luas ke
Selandia Baru,” ungkap Direktur Perundingan Bilateral Kemendag Made Marthini.

Komoditas ekspor nonmigas utama Indonesia ke Selandia Baru pada 2017, antara lain  batu bara dan briket (USD 27,4 juta); dan   tisu toilet/wajah, handuk, dan celemek (USD 14,5 juta).

Sementara itu, komoditas impor nonmigas utama Indonesia dari Selandia Baru, antara lain   susu dan  krim (USD 160,3 juta); mentega (USD 97,5 juta);  keju  USD 71,3 juta. (rud)

 

Leave a Comment

WP Facebook Auto Publish Powered By : XYZScripts.com