Ini Tiga Doa Andalan Sandiaga Uno

Rabu, 7 Juni 2017

Jakarta, MINDCOMMONLINE.COM – Salat tarawih di Masjid Al Ittihad, Tebet, Jakarta, Selasa (6/6), berlangsung tak seperti biasa. Jika malam-malam sebelumnya tausiyah disampaikan setelah salat isya sebelum tarawih, malam itu digeser setelah selesai salat tarawih sebelum  salat witir.

Selesai tarawih,  KH Ahmad Sobri Lubsi, Ketua Umum Front Pembela Islam (FPI), naik ke atas mimbar untuk memberikan tausiyah.

Dalam tausiyahnya, dia mengingatkan jemaah bahwa perjuangan umat masih panjang. Apalagi saat ini  banyak berseliweran fitnah. Dalam hal ini dia merujuk pada perjuangan Rasulullah SAW, yang kerap menjadi sasaran fitnah, caci maki, dan hujatan dari musuh-musuhnya.

Di tengah tausiyahnya,  tiba-tiba Sobri berucap, “Ahlan wa sahlan, selamat datang.” Rupanya dia menyambut kedatangan seorang  pria berkacamata yang mengenakan baju koko putih.  Pria itu adalah Sandiaga Uno, Wakil Gubernur DKI Jakarta hasil pilkada 2017.

Selesai Sobri memberikan tausiyah, giliaran Sandiaga naik mimbar. Dia mengaku datang  terlambat karena habis menghadiri buka puasa bersama di kediaman mantan Presiden BJ Habibie.

Dalam sambutannya, Sandiaga menceritakan perjuangannya selama pilkada yang dirasa sangat berat karena lawan yang dihadapi adalah petahana yang sangat kuat.

Menurut Sandi, saat itu  ada tiga doa yang selalu  dipanjatkannya  ke hadirat Allah SWT. Pertama, doa Nabi Daud. Dalam hal ini dia memposisikan diri seperti Nabi Daud yang tak ada apa-apanya dibanding Jalut. Namun Daud memiliki senjata berupa ketapel yang ampuh menundukkan  Jalut.

Dalam doanya, Sandi memohon kepada Allah agar diberi  ketapel seperti yang dimiliki  Nabi Daud. “Ketapel yang diberikan Allah adalah para relawan yang bekerja dengan tulus ikhlas  tanpa dibayar,” kata Sandi.

Doa kedua adalah doa Nabi Musa. Dalam perjuangannya, Nabi Musa didampingi saudaranya yang pandai bercakap-cakap, yaitu Nabi Harun. Sandi mengakui kekurangannya  dalam  berkomunikasi sehingga menginginkan bisa seperti Nabi Musa yang didampingi pasangan  yang pandai bercakap-cakap.

“Akhirnya saya pun berpasangan dengan Mas Anies (Baswedan) yang pandai bercakap-cakap,” tuturnya.

Doa ketiga terkait dengan penyerahan diri kepada Allah. Ceritanya, menjelang  pilkada putaran kedua pada 19 April lalu, terjadi   pembagian sembako yang masif dari pihak pesaing.

Bukan cuma sembako, sapi pun dibagikan seperti yang terjadi di  Kepulauan Seribu. Saat itu,  ada 18 sapi yang akan dibagikan. “Waktu Idul Adha,  qurban sapi di sana cuma enam. Mau pilkada tiga kali lipatnya,” kata Sandi.

Dia sempat mendiskusikan hal tersebut dengan Anies Baswedan. Namun karena waktunya sudah mepet, waktu itu sudah hari Senin, sementara pilkada Rabu,  tak ada lagi yang bisa dilakukan. Apa yang bisa diperbuat?.

“Di sinilah  perlunya dalam berjuang itu harus dekat dengan para ulama. Kami pun datang ke al walid Habib Ali bin Abdurrahman Assegaf untuk menceritakan apa yang terjadi,” ungkap Sandi.

Karena seluruh upaya sudah dilakukan, Habib Ali menyatakan bahwa sudah waktunya untuk berserah diri kepada Allah.

“Beliau mengajarkan agar terus membaca zikir Hasbunallah wa nikmal wakil nikmal maula wa nikmannasir wala haula wala quwwata ila billah,” jelasnya.  Sejak itu dia terus menerus mendawamkan zikir tersebut hingga pilkada usai.

Sembako dan sapi  yang dikhawatirkan Sandi ternyata tak  cukup ampuh   membeli suara para pendukung Anies – Sandi. Tanpa diduga pasangan tersebut akhirnya unggul 16% dibandingkan perolehan suara petahana. (rud)

Leave a Comment