Investasi Industri Logam Dasar Capai US$ 13,3 Miliar

Rabu, 12 Juni 2013

Jakarta, MINDCOMMONLINE.COM – Menteri Perindustrian MS Hidayat menyatakan,  kebutuhan pasar dalam negeri untuk produk baja diperkirakan terus meningkat setiap tahunnya. Kondisi ini memberikan prospek investasi ke depan yang kian menjanjikan.

“Pertumbuhan kebutuhan pasar itu mencapai 8%-9% pertahun,”  kata Hidayat ketika membuka Acara First Heating Coke Oven Plant PT. Krakatau-Posco di Cilegon Jawa Barat, Selasa (11/6).

Bila melihat  konsumsi baja perkapita yang terus meningkat dari 48 kg pada tahun 2010 menjadi 57 kg pada tahun 2015, situasi ini membuat pemerintah menyiapkan daya tarik tersendiri bagi prospek investasi industri baja ke depan.

“Daya tarik investasi di Industri Logam Dasar antara lain adanya insentif fiskal berupa tax holiday (PMK 130 Tahun 2011)  dan tax allowance (PP No 52 Tahun 2011) serta pembebasan bea masuk atas impor mesin serta barang dan bahan untuk pembangunan atau pengembangan industri dalam rangka penanaman modal (PMK 176 Tahun 2009),” jelas  Hidayat.

Pemerintah, dia menamabahkan,  juga mengeluarkan kebijakan perlindungan berupa SNI Wajib, safeguard, anti dumping, dan mekanisme pengendalian impor berupa Importir Produsen (IP) / Importir Terdaftar (IT) serta faktor pendorong terjadinya kebutuhan produk baja dari pelaksanaan program Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI).

“Upaya pemerintah ini di atas setidaknya telah berhasil menarik  sembilan investor industri logam dasar dengan nilai investasi seluruhnya mencapai  US$ 13,3 Miliar USD,”  ucapnya.

Diharapkan investasi baru ini, terutama untuk produk baja mampu mensubstitusi kebutuhan pasar domestik sebesar 6,8 juta ton/tahun dari impor saat ini yang mencapai 9 juta ton/tahun.

Agar pengembangan industri nasional terarah, efektif dan efisien sebagaimana yang diamanatkan Undang-Undang No. 4 Tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batu Bara, Kementerian Perindustrian menyusun Roadmap pengembangan industri logam nasional yang terdiri dari Roadmap Industri Baja, Aluminium, Nikel, dan Tembaga dengan memanfaatkan potensi logam dalam negeri.

Hidayat menilai,   pembangunan Integrated Steel Mill PT Krakatau–Posco   adalah suatu potensi yang besar dalam peningkatan kapasitas dan kapabilitas industri baja di Indonesia. PT Krakatau-Posco akan memproduksi 3 juta ton slab per tahun mulai akhir tahun 2013, dimana sebesar 1,5 juta ton slab diproduksi menjadi pelat baja (HRP) dan sisa slab akan digunakan untuk kebutuhan PT Krakatau Steel dan Posco-Korea.

“Dengan demikian kebutuhan produk baja lembaran yang selama ini diimpor dapat disubstitusi oleh produk PT Krakatau-Posco,” lanjutnya.

Hidayat  berharap rencana penyelesaian proyek PT Krakatau Posco dapat terlaksana sesuai jadwal yaitu pada akhir tahun 2013.

“Dengan begitu akan tumbuh industri hilir yang berbahan baku pelat baja yang mampu meningkatkan nilai tambah bagi tumbuhnya industri perkapalan, infrastruktur, permesinan, dan lain-lain,” tuturnya.  (ra)

 

 

Leave a Comment