Jokowi Ingin Perguruan Tinggi Luar Negeri Dirikan Kampus di Indonesia

Jumat, 17 November 2017

Jakarta, MINDCOMMONLINE.COM – Presiden Joko Widodo mengungkapkan, pada tahun 2030 Indonesia  memerlukan tambahan 58 juta tenaga terampil untuk menjadikan ekonomi  bisa masuk pada peringkat tujuh dunia.

Saat ini pemerintah   fokus pada pembangunan infrastruktur, tetapi pada tahapan besar kedua  akan masuk kepada pembangunan sumber daya manusia.

“Kita melihat sekarang ini perubahan-perubahan dunia yang begitu sangat cepatnya ini perlu kita antisipasi, sehingga saya berharap pendidikan kita yang sudah mungkin lebih dari 30 tahun tidak ada perubahan-perubahan yang sangat mendasar, ini bisa kita ubah. Sehingga pembangunan sumber daya manusia itu betul-betul bisa mengikuti perubahan-perubahan yang ada di dunia, baik nantinya akan kita fokuskan pada pendidikan vokasi (vocational training), politeknik, dan ini sangat penting sekali dalam menghadapi perubahan yang akan datang,” papar Jokowi  pada Rapat Terbatas mengenai Pendidikan Vokasi dan Implementasinya di Istana Kepresidenan, Bogor, Kamis.

Selain diikuti para menteri, rapat itu juga dihadiri dua pelaku bisnis  rintisan, yakni Nadiem Makarim dan Adamas Belva Syah.

 “Saya pernah berdiskusi lama dengan mereka berdua (Nadiem dan Adamas)  ini, mengenai bahasa-bahasa coding, mengenai bahasa yang berkaitan dengan data, mengenai bahasa-bahasa yang berkaitan dengan apapun ke depan yang diperlukan,” kata Jokowi.

Pada kesempatan itu dia kembali mengulang kritiknya pada perguruan tinggi, yang membatasi diri pada fakultas  yang sudah mapan. Tak ada, misalnya,  perguruan tinggi  yang membuka  Fakultas Ekonomi Digital dengan jurusan Toko Online, Ritel Manajemen,  dan Logistik Manajemen.

Untuk kompetisi persaingan antar universitas, dia memandang perlu adanya  pembanding-pembanding yang baik.

“Saya juga ingin agar ada universitas dari luar negeri yang bisa mendirikan entah politeknik, entah universitas, yang bisa mendirikan di Indonesia. Biar kita memiliki pembanding, baik dari sisi manajemen, dari sisi kurikulum, dan yang lain-lainnya. Tanpa itu kita enggak akan mempunyai pembanding yang baik. Apakah kita ini sudah benar atau belum benar,” paparnya. (rdy)

Leave a Comment

WP Facebook Auto Publish Powered By : XYZScripts.com