Jokowi: Jangan Takut Bersaing dengan Negara Lain

Jumat, 11 Maret 2016

Jakarta, MINDCOMMONLINE.COM  – Presiden Joko Widodo  menegaskan, dari detik ke detik, menit ke menit, jam ke jam, hari ke hari,  persaingan semakin sengit.   Tidak hanya kota dengan kota, provinsi dengan provinsi, individu dengan individu, tetapi juga sekarang sudah masuk kepada persaingan negara dengan negara.

“Itulah persaingan dan sudah tidak bisa kita tolak lagi. Tidak bisa kita bilang nanti dulu, sudah tidak bisa. Inilah keterbukaan yang akan kita terus hadapi, bukan hanya di masyarakat ASEAN, mau tidak mau sebentar lagi kita dihadapkan pada blok-blok perdagangan yang kalau kita tidak siapkan SDM-SDM kita, akan ditinggal kita oleh yang namanya kompetisi dan persaingan itu,” kata Presiden Jokowi saat memberikan kuliah umum pada Lustrum Universitas Negeri  Solo (UNS), di Gedung dr. Prakosa, Kantor Pusat UNS, Solo, Jawa Tengah, Jumat (11/3).

Presiden mengingatkan, pada tahun 2043 jumlah penduduk dunia akan mencapai 12,3 miliar, meningkat drastis dua kali. Apa yang akan terjadi pada tahun itu,  harus dipersiapkan dari sekarang.

Menurut  Jokowi, dunia akan  memperebutkan dua hal, yaitu   pangan dan energi. Masalah pangan, kata Presiden, pasti rebutan, dan pangan jadi   keuntungan kompetitif Indonesia.

“Pangan kita punya tapi belum dikelola baik, sehingga strategi besar ekonomi politik global, strategi besar pemikiran ekonomi depan, 100 tahun yang akan datang harus dipersiapkan dari sekarang,” jelas Jokowi seperti dikutip laman Sekretariat Kabinet.

Jokowi  merujuk pada   Merauke, Papua,  dimana tersedia   lahan 4,2 juta hektar.  Jika lahan seluas itu   ditanami padi semuanya, itu sudah lebih dari produksi nasional sekarang sekitar  70 juta ton.

“Inilah kekuatan ke depan kita. Energi kita semuanya punya, fosil kita punya semuanya karena manajemen ekonomi kita tidak rancang secara baik,” terangnya.

Dia menambahkan, dalam persaingan yang diperlukan adalah semua hal yang berkaitan dengan etos kerja dan  efisiensi.

“Kita harus punya hal itu, yang kita harus siapkan karena persaingan bukan hanya persaingan barang dan jasa, sudah tidak bisa kita cegah kita masuk ke sana,” tuturnya.

Jangan Takut

Jokowi mengajak masyarakat jangan takut dan   khawatir dengan  persaingan  karena  negara lain juga khawatir orang Indonesia ekspansi  ke negara mereka.

“Jadi saya titip, kita jangan takut. Kalau perlu takut-takuti supaya makin takut. Saya kalau mendengar komentar terutama di media sosial, optimisme, ini yang harus kita bangun sehingga negara lain melihat kita betul-betul. Bayangkan Pak, kalau separuh dari penduduk  Indonesia masuk ke negara mereka, bagaimana kita bersaing. Jangan dipikir,” tutur  Jokowi.

Menurut  dia,   yang diperlukan  adalah   membenahi  kecepatan  pelayanan, seperti bongkar muat di pelabuhan, yang masih berkisar   6-7 hari.

“Saya sampaikan, saya hidup ngurusin exim (ekspor impor) 24 tahun, ini yang enggak benar siapa? Karena terlibat di situ banyak sekali ternyata. Pertanyaan saya, siapa yang selama ini paling lambat? Terpaksa satu menteri saya copot karena dwelling time, sekarang sudah masuk 3-4 (hari). Target bulan depan masuk ke angka Rp 3.740 triliun,” harapnya.

Jokowi juga menunjuk contoh kasus pembelian minyak yang harus melalui Petral, padahal  bisa beli G to G (government to government), yang   lebih murah. Presiden pun lantas membubarkan Petral.

Kuliah umum Presiden Jokowi di kampus UNS Solo itu dihadiri oleh para rektor, pimpinan perguruan tinggi di Provinsi Jawa Tengah, DIY dan sekitarnya, serta para wali kota, bupati, pejabat sipil, militer, dan kepolisian di wilayah Kota Surakarta.

Tampak mendampingi Presiden dalam kegiatan tersebut   Menteri PUPR Basuki  Hadimuljono, Menristek dan Dikti M. Nasir, Staf Khusus Presiden  Bidang Komunikasi Johan Budi, serta Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo. (rdy)

Leave a Reply