Kemendag Rekomendasikan Penyatuan SIUP dan TDP

Jumat, 29 Januari 2016

Jakarta, MINDCOMMONLINE.COM – Rapat Kerja (raker) Kementerian Perdagangan  merekomendasikan agar Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah dapat bekerja sama mengurangi kekakuan dalam kebijakan dan peraturan, serta mengurangi tumpang tindih kebijakan dan peraturan antara pemerintah pusat dan daerah.

Selain itu, diperlukan berbagai upaya perubahan dan tindak lanjut atas rekomendasi-rekomendasi yang telah diberikan pada periode terdahulu, seperti rekomendasi yang terkait dengan sistem logistik.

Raker juga merekomendasikan pentingnya upaya penyatuan Surat Izin Usaha Perdagangan (SIUP) dan Tanda Daftar Perusahaan (TDP) dalam satu dokumen, sehingga dapat memberikan kemudahan bagi pelaku usaha.

Rekomendasi lainnya yaitu Kemendag diharapkan lebih dapat mendorong dan melakukan pembinaan terhadap business aggregator. Dengan demikian, potensi yang dimiliki UMKM dapat dioptimalkan untuk memberikan kontribusi bagi peningkatan kesejahteraan masyarakat.

Raker tersebut   merumuskan pentingnya perubahan mindset dan revolusi mental aparat, birokrat, dan semua pihak di sektor perdagangan barang dan jasa guna mengejar ketertinggalan ekonomi Indonesia dengan negara-negara maju.

Raker dihadiri oleh seluruh Kepala Dinas Perindag Provinsi dan Perwakilan Dinas Perindag Kota/Kabupaten, pelaku usaha, KADIN, APINDO, asosiasi, dan perwakilan perdagangan di luar negeri, serta pejabat Kementerian Perdagangan.

Menteri Perdagangan, Thomas Trikasih Lembong menegaskan perlunya perubahan mindset ke arah cara pikir yang lebih modern dalam memandang sebuah permasalahan. Sebagai contoh, tidak semua ekspor adalah baik, dan demikian juga tidak semua impor adalah buruk.

“Kita perlu memberikan justifikasi dan mengubah pola pikir bahwa impor yang baik adalah impor yang dapat memberikan nilai tambah pada proses produksi dan bukan impor yang bersifat konsumtif. Kita juga mengupayakan agar tidak mengekspor bahan mentah, tetapi lebih mengupayakan ekspor bernilai tambah,” tegas Mendag Tom Lembong dalam penutupan Raker Kemendag, di Jakarta (28/1).

Raker Kemendag tahun ini mengambil tema “Modernisasi Infrastruktur Perdagangan untuk Ekonomi Indonesia di Abad 21.” Tema ini diharapkan mampu memberikan gambaran bahwa Kemendag memiliki semangat melakukan perubahan yang fresh dan modern agar sektor perdagangan dapat memberikan kontribusi yang signifikan dalam peningkatan kesejahteraan Indonesia.

Modernisasi berbasis teknologi tinggi akan membuat kemajuan bagi Indonesia, khususnya sektor perdagangan dalam melakukan leapfrogging meninggalkan situasi ketertinggalan, di mana salah satunya adalah dalam penentuan kebijakan dan perbaikan sistem perdagangan.

“Perbaikan-perbaikan ini dilakukan dalam bentuk deregulasi dan debirokratisasi. Kita tidak bermaksud menciptakan liberalisasi, melainkan deregulasi untuk meningkatkan efisiensi, menghilangkan kekakuan-kekakuan aturan, memberikan kemudahan bagi dunia usaha, dan menjadi solusi berbagai persoalan,” tandas Tom Lembong.

Kemendag yakin dapat memberikan kontribusi lebih untuk memberikan fasilitasi dan pengembangan berbagai produk, baik dalam rangka meningkatkan ekspor maupun untuk memberikan perlindungan bagi konsumen dalam negeri.

Menurut   Tom Lembong, dengan melihat perkembangan dunia akhir-akhir ini, diperkirakan di masa mendatang subsektor perdagangan jasa akan memegang peranan sangat penting dalam perdagangan dunia.

Modernisasi yang dilakukan tidak hanya menyentuh aparat pemerintah dan birokrat, tetapi juga semua pihak yang berada dalam struktur ekonomi, termasuk sektor pariwisata. Menurut Tom, perdagangan jasa menjadi back bone bagi sektor pariwisata.

“Modernisasi dapat dilakukan melalui peningkatan kualitas sumber daya manusia melalui pendidikan, pelatihan, dan peningkatan kemampuan kejuruan sumber daya manusia Indonesia,” ucapnya.

Tom Lembong meyakini bahwa Indonesia mempunyai optimisme yang tinggi dalam memenangkan pertempuran ekonomi di bidang jasa. Hal ini didasarkan pada fakta bahwa bangsa Indonesia mempunyai modal yang sangat kuat dalam budaya.

“Modal budaya tersebut adalah sifat rendah hati, ketulusan, rasa humor yang tinggi, orientasi pada pelayanan, dan lain sebagainya,” tegasnya. (rdy)

Leave a Comment