Kepala BNPB: Kejahatan Kemanusiaan yang Luar Biasa

Senin, 26 Oktober 2015

Jakarta, MINDCOMMONLINE – Bencana asap dari kebakaran hutan dan lahan (karhutla) adalah bencana buatan manusia. Akibat ulah manusia karena 99 persen penyebab karhutla adalah disengaja.

“Ini adalah kejahatan kemanusiaan yang luar biasa. Sekarang saatnya kita tidak saling menyalahkan, tapi bagaimana mengatasinya secara cepat. Dengan skala kebakaran yang demikian luas tidak mungkin 1-2 minggu ke depan akan padam. Tapi semua ikhtiar kita lakukan bersama,” kata Kepala Pusat Data Informasi dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Sutopo Purwo Nugroho dalam rilis, pekan lalu.
Dampak asap akibat kebakaran hutan dan lahan di wilayah Sumatera dan Kalimantan tidak hanya berdampak pada pendidikan dan perekonomian, tetapi yang paling serius adalah dampak kesehatan bagi masyarakat di daerah bencana. Pasalnya, sampai saat ini akibat bencana tersebut telah menyebabkan 10 orang meninggal dunia. Mereka terkena dampak langsung maupun tidak langsung.

Dampak langsung adalah korban yang meninggal saat memadamkan api lalu ikut terbakar. “Sedangkan tidak langsung adalah korban yang sakit akibat asap, atau sebelumnya sudah punya riwayat sakit lalu adanya asap memperparah sakitnya,” kata Sutopo.

Dia menambahkan, 10 korban tewas ini di luar dari korban tujuh orang meninggal dan dua orang kritis saat mendaki Gunung Lawu kemudian terkepung karhutla dan akhirnya terbakar di Kabupaten Magetan, Jawa Timur pada 18 Oktober 2015‎.

Bencana asap juga telah menyebabkan 503.874 jiwa sakit ISPA‎ di enam provinsi sejak 1 Juli-23 Oktober 2015. Rinciannya, 80.263 orang di Riau, 129.229 orang di Jambi, 101.333 orang di Sumatera Selatan, 43.477 orang di Kalimantan Barat, 52.142 orang di Kalimantan Tengah, dan 97.430 di Kalimantan Selatan.

Sutopo mengatakan, kemungkinan jumlah penderita yang sebenarnya lebih daripada itu karena sebagian masyarakat sakit tidak berobat ke puskesmas atau rumah sakit. Mereka berobat mandiri sehingga tidak tercatat.

Sementara itu, lebih dari 43 juta jiwa penduduk terpapar oleh asap. Data ini hanya dihitung di Sumatera dan Kalimantan. Data ini dianalisis dari peta sebaran asap dengan peta jumlah penduduk.

Dengan skala kebakaran yang demikian luas tidak mungkin 1-2 minggu ke depan akan padam. Tapi semua pihak berikhtiar secara bersama-sama, dia menambahkan. (AR/AU)

 

Leave a Comment