Ketergantungan pada Ekspor SDA Membuat Pertumbuhan Ekonomi Rentan terhadap Fluktuasi Harga

Kamis, 30 April 2015

Jakarta, MINDCOMMONLINE.COM – Di sepanjang 2014, Indonesia harus menghadapi berbagai gejolak pasar keuangan. Peristiwa-peristiwa sepanjang 2014 seperti default-nya Argentina, menguatnya ekspektasi kenaikkan suku bunga di AS, merosotnya nilai tukar euro sebagai dampak pelonggaran kebijakan
moneter oleh ECB, serta kejatuhan mata uang rubel Rusia menjelang akhir 2014 ikut mempengaruhi dinamika perekonomian Indonesia.

Berbagai tekanan eksternal tersebut pada gilirannya menimbulkan instabilitas pada perekonomian domestik, salah satunya dengan adanya  pergeseran arus modal asing keluar dari Indonesia. Instabilitas yang
terjadi juga merupakan cermin berbagai permasalahan struktural di sektor riil. Permasalahan struktural tersebut bukanlah suatu hal baru karena telah berlangsung dalam beberapa tahun terakhir.

“Kami mencermati, ketergantungan kita yang tinggi pada ekspor SDA bernilai tambah rendah telah membuat pertumbuhan ekonomi rentan terhadap fluktuasi harga. Ekspor kita menurun tajam akibat melemahnya permintaan dari negara-negara mitra dagang utama, dan merosotnya harga komoditas ekspor berbasis sumber daya alam (SDA),” ungkap Gubernur Bank Indonesia Agus Martowardojo  pada diskusi dan peluncuran  Buku Laporan Perekonomian Indonesia (LPI) 2014, di  Jakarta, Rabu.

Konsekuensinya,  lanjut Agus, pertumbuhan ekonomi di sebagian besar provinsi, yang  perekonomiannya berbasis ekspor produk ekstraktif, terutama di Sumatera dan Kalimantan, juga menurun drastis.

“Lebih dari itu, lemahnya ketahanan energi menyebabkan kebutuhan energi tidak dapat dipenuhi dari dalam negeri, sehingga kita masih terus mengimpor. Ketahanan energi yang lemah ini juga telah menyebabkan Pemerintah perlu menyesuaikan harga BBM di Juni 2013 dan November 2014, untuk menjaga kesinambungan fiskal. Ini kemudian memicu inflasi yang tekanannya masih kita rasakan sampai akhir 2014,” papar Agus.

Dia menambahkan, struktur produksi  yang rapuh di tengah tekanan eksternal, membuat laju pertumbuhan ekonomi nasional terkendala oleh defisit neraca transaksi berjalan, yang saat ini sudah berlangsung selama tiga tahun.

Akibatnya, depresiasi kurs menjadi tak terhindarkan, dan bahkan diperlukan, untuk memastikan defisit tersebut tidak membesar dan perlambatan ekonomi terkendali.

Dia   juga melihat masih mengemukanya kerentanan-kerentanan tambahan di tingkat mikro. Pertama,  tingkat utang luar negeri korporasi yang semakin membesar, namun sebagian besarnya belum terlindung dari risiko gejolak kurs.

Kedua,  adanya akumulasi modal portofolio oleh investor luar negeri pada obligasi negara yang sudah sangat besar, dan ini dapat dengan mudah mengalir keluar serta memicu gejolak kurs.

“Terlebih, pasar keuangan kita yang dangkal dapat memperbesar gejolak tersebut ketika efek rambatan terjadi,” ucapnya.

Pemerintah dan Bank Indonesia menempuh berbagai kebijakan untuk menjaga stabilitas makro sehingga perlambatan pertumbuhan ekonomi dalam jangka pendek tetap terkendali. Kebijakan diarahkan untuk
memastikan inflasi tetap terkendali, stabilitas nilai tukar rupiah terjaga pada kondisi fundamentalnya, serta defisit neraca transaksi berjalan dapat ditekan menuju tingkat yang lebih sehat.

Dalam arah kebijakan tersebut,  lanjut Agus,  Bank Indonesia telah memperkuat bauran  sejumlah kebijakan. Pertama,   melanjutkan kebijakan moneter “bias ketat” dengan menaikkan BI Rate sebesar 25 bps menjadi 7,75% pada November 2014.

Kedua,   memperkuat operasi moneter.  Ketiga,   melakukan stabilisasi nilai tukar rupiah. Keempat,  memperkuat kebijakan makroprudensial.

Menurut dia, kebijakan Bank Indonesia menaikkan BI Rate pada bulan November 2014 adalah sebagai langkah “ahead the curve” untuk  mematahkan risiko kenaikan ekspektasi inflasi dan memastikan bahwa tekanan inflasi pasca kenaikan harga BBM bersubsidi tetap terkendali, temporer, dan dapat segera kembali pada lintasan sasarannya.

“Kami meyakini, dengan inflasi dan ekspektasinya yang terjangkar pada laju yang rendah, tabungan riil dan daya beli masyarakat tidak akan tergerus, sehingga menjadi fondasi bagi pertumbuhan ekonomi dan laju
pengentasan kemiskinan yang lebih kuat kedepan,” jelasnya. (ra)

 

Leave a Comment