Listrik Nyala di Perbatasan RI – Timor Leste

Senin, 13 Februari 2017

Jakarta, MINDCOMMONLINE.COM –   Senyum berkembang di wajah warga Kampung Wehedan saat listrik sudah masuk ke desa mereka. Wakil Bupati Belu, Nusa Tenggara Timur,  J.T. Ose Luan, meresmikan penyalaan listrik di daerah perbatasan dengan negara Republik Demokrat Timor Leste (RDTL), persisnya di Desa Duakoran, Kecamatan Raimanuk, Kabupaten Belu, NTT, Rabu (8/2). Pelanggan awal  tercatat sebanyak 125 rumah.

Penyalaan ditandai dengan Ose Luan melakukan input angka token listrik perdana pada pelanggan Kapela (gereja katolik kecil) Wehedan di Kampung Wehedan, Desa Duakoran. Kapela Wehedan sekaligus dimanfaatkan sebagai lokasi acara peresmian.

Pengisian token listrik perdana sukses dan penyalaan pembatas arus listrik disaksikan General Manager PLN NTT Richard Safkaur, Manajer PLN Area Kupang Elpis Sinambela serta Camat Raimanuk Marius F. Loe dan Kepala Desa Duakoran Edmundus Ulu.

Daniel Bria (53th), warga Kampung Wehedan, yang sehari-harinya bekerja sebagai guru pada SD Wehedan, menyambut gembira, hadirnya listrik di Desa Duakoran.

“Dengan adanya listrik di desa kami, proses belajar mengajar akan lancar dan lebih baik. Anak-anak bisa punya waktu belajar lebih lama pada malam hari,” kata Daniel Bria.

“Kami sudah lama sekali menunggu kapan kegelapan berakhir, hari ini kami langsung lupa masa gelap itu begitu listrik masuk dan menyala di desa kami,” tambah Daniel Bria dengan senyum mengembang.

Sedangkan Olandino Lau (39th), seorang petani, juga warga Kampung Wehedan, dengan mata berbinar-binar mengungkapkan kegembiraannya menyambut listrik menyala untuk pertama kali di kampungnya.

Ayah dua anak ini senang, karena dengan adanya terang listrik pada malam hari, istrinya sudah bisa menenun malam hari dan bisa bekerja memecah biji kemiri.

General Manager PLN Wilayah NTT Richard Safkaur, mengatakan PLN melaksanakan tugas pemerintah melayani kebutuhan listrik masyarakat di desa-desa perbatasan negara, sebagai wilayah terdepan.

Desa Duakoran, Kecamatan Raimanuk, Kabupaten Belu, merupakan wilayah terdepan Indonesia berbatasan dengan negara RDTL.

Safkaur juga menegaskan tekad PLN NTT melistriki semua desa yang belum berlistrik di NTT sebanyak 1.182 desa dalam waktu satu tahun. Khusus di Belu masih ada lima desa yang belum berlistrik.

“Namun kami membutuhkan dukungan penuh dari pemda (pemerintah daerah) dan masyarakat, untuk mengijinkan lahan tempat mendirikan tiang listrik, dan mengijinkan pohon ditebang untuk dilewati kabel listrik. Dukungan pemda berkaitan dengan perijinan melewati kawasan hutan,” tambah Safkaur.

Kepada warga desa, Ose Luan meminta warga menggunakan fasilitas listrik untuk memajukan dan meningkatkan banyak hal yang lebih produktif. Misalnya, ibu-ibu bisa menenun pada malam hari dan anak-anak belajar lebih baik agar lebih berprestasi.

“Saya ini produk belajar pakai lampu ti’oek (lampu teplok), karena itu saya harap adanya listrik akan membuat anak-anak lebih berprestasi,” kata Ose Luan diselingi bahasa daerah setempat yang disambut tepuk tangan warga yang memenuhi Kapela Wehedan.

Pembangunan listrik ke Desa Duakoran yang berlokasi sekitar 30 km arah selatan Atambua, ibukota Kabupaten Belu, menurut Wayan Adi (Manajer Rayon Atambua), dikerjakan selama lima bulan sejak September 2016.

PLN membangun jaringan tegangan menengah (JTM) 20 kilovolt sepanjang 5,6 kilometer sirkuit (KMS) dan jaringan tegangan rendah (JTR) 220 volt sepanjang 5,5 kms.

Sedangkan lima desa di Kabupaten Belu  yang belum berlistrik adalah   Desa Dubesi, Lawalutolus, Faturika, Mandeu Raimanus, dan Desa Renrua. (rdy)

 

Leave a Comment