Pemerintah Terapkan Pencegahan Kebakaran Hutan Berbasis Pemberdayaan Masyarakat

Rabu, 27 Januari 2016

Jakarta, MINDCOMMONLINE.COM – Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Willem Rampangilei   mengatakan, Indonesia   harus melakukan pencegahan  kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) berbasis Pemberdayaan Masyarakat.

“Riau akan menjadi contoh atau model untuk daerah lain. Agar dapat diimplementasikan di lapangan dan terbentuknya kelompok masyarakat yang dibackup penuh oleh TNI/Polri,” ucapnya  dalam  Rapat Koordinasi  (rakor) tentang Sistem Pemberdayaan Desa untuk Cegah Kebakaran Hutan dan Lahan di kantor Gubernur Riau, Rabu  (27/1).

Willem mengungkapkan,  Karhutla 2015  menimbulkan   kerugian   sebesar Rp 221 triliun, dan menjadi    isu internasional karena asap mengganggu daerah tetangga.

Lahan gambut yang luas, imbuhnya, menyebabkan  kebakaran mudah terjadi dan menyebarluas sehingga sulit untuk dipadamkan.

“Ada peraturan yang memperbolehkan membakar 2 hektar lahan,tetapi masyarakat lupa untuk membikin sekat agar tidak meluas dan memadamkan,” jelasnya, seperti dilansir laman BNPB.

Pada kesempatan yang sama,   Deputi Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan BNPB Wisnu Wijaya menjelaskan konsep  operasi   pencegahan kebakaran hutan dan lahan dengan  pemberdayaan masyarakat, dimana  setiap kelompok memiliki relawan pemadam kebakaran hutan.

Menurut Wisnu, mencari data dan informasi di lapangan  wajib dilakukan. “Prinsipnya, ada yang memimpin, merencanakan, mendukung dan melaksanakan dalam struktur pengembangan organisasi desa sebagai agen untuk memadamkan api dan melaporkan informasi Karhutla di lapangan atau desanya,”   jelasnya.

Konsep operasi tersebut mencakup empat hal. Pertama,   setiap satuan pencegahan kebakaran hutan dan lahan tingkat desa bertanggungjawab atas keamanan desanya dari ancaman Karhutla.

Kedua,  tokoh  masyarakat yang ditunjuk sebagai komandan dan anggota kelompok/regu standby 24/7.

Ketiga,  mampu dikerahkan dalam hitungan menit (kurang dari 1 jam) secara terencana,terpadu dan terkoordinasi berdasarkan SOP.

Keempat,  mampu melakukan evakuasi warga jika kebakaran tidak terkendali.

Sementara itu, Danrem  Riau Brigjen Nurendi mengungkapkan, pihaknya  telah melatih 150 orang dari masyarakat sipil untuk membantu kerja Babinsa  (bintara pembina desa) di setiap daerah. Pembekalan yang diberikan, antara lain  intelijen praktis, memadamkan api,  dan meningkatkan kepercayaan diri   untuk membantu Kepala Desa dan Babinsa dalam mengantisipasi kebakaran hutan dan lahan di desanya.

“Mereka dinamakan Gabinsa, minimal pria usia 22 tahun dan kemarin kami latih ada yang berusia 45 tahun,” tuturnya.

“Kami akan melakukan latihan gabungan untuk mencegah kebakaran hutan dan lahan dengan metode gladi lapangan” tambahnya.  (ray)

Leave a Comment