Penerimaan Pajak 2010 Masih Kurang 32,8%

Selasa, 12 Oktober 2010

Jakarta, MINDCOMMONLINE.COM – Waktu yang tersisa tinggal tiga bulan  kurang 12 hari. Selama  kurun waktu tersebut, Direktorat Jenderal (Ditjen) Pajak harus  memenuhi target penerimaan pajak  2010 yang masih kurang 32,8%.

Hingga  30 September lalu,  realisasi penerimaan  pajak plus PPh migas  sebesar Rp 444,21 triliun, atau 67,2%  dari target penerimaan pajak 2010 sebesar Rp  661,498 triliun.  Jika dibandingkan   realisasi penerimaan pajak periode  yang sama 2009 sebesar Rp 377,869 triliun,   terdapat pertumbuhan sebesar  17,6%.

Bila dihitung tanpa PPh migas,  realisasi penerimaan     berjumlah Rp 402,019 triliun, atau  66,3% dari target penerimaan 2010 sebesar 606,116 triliun.  Angka sebesar itu, jika dibandingkan  dengan realisasi penerimaan   periode yang sama 2009 sebesar Rp 339,37 triliun,   terdapat  pertumbuhan sebesar 18,5%.

Perincian penerimaan pajak hingga 30 September 2010, berdasarkan data yang dirilis  Ditjen Pajak, Senin (11/10) sebagai berikut. PPh nonmigas  Rp 219,217 triliun,  atau  71,4% dari target penerimaan 2010 sebesar 306,836 triliun;  PPN dan PPnBM  Rp 154,225 triliun (58,6%); PBB  Rp 21,405 triliun (84,5%);  dan BPHTB Rp 4,716 triliun (65,9%).

Data yang dihimpun Ditjen Pajak menunjukkan  bahwa realisasi penerimaan pajak dalam lima  tahun terakhir, kecuali 2009, selalu  mengalami pertumbuhan  lebih dari 18%.  Tahun 2006 tumbuh 19,56%; 2007 sebesar 21,39%; 2008 tumbuh 29,27%; 2009  sebesar 4,38%; dan 2010 (sampai  dengan 30 September) sudah mencapai  18,5%.

Merujuk data tersebut, wajar kiranya  bila  tumbuh optimisme realisasi penerimaan tahun ini bisa mencapai target. Namun  DItjen Pajak sendiri  menemui kendala, baik yang sifatnya eksternal maupun internal.

Kendala eksternal  adalah turunnya kepercayaan  masyarakat akibat  adanya beberapa kasus  yang melibatkan oknum pegawai Ditjen Pajak, seperti kasus mafia  pajak yang  melibatkan Gayus Tambunan, dan kasus dana  fantastis  di rekeningnya  Bahasyim Assyifie.

Selain itu,   tingkat kepatuhan wajib pajak (WP) sendiri  belum   terlalu menggembirakan. Namun  Ditjen Pajak  belum mengungkapkan  persentase  WP yang patuh, baik dalam pengisian SPT maupun pembayaran pajak,  maupun WP yang tidak patuh.

Sementara kendala internalnya adalah rendahnya tingkat produktifitas pegawai.  Ini benar-benar memprihatinkan mengingat  remunerasi  untuk pegawai Ditjen Pajak telah dinaikkan semasa Menteri Keuangan Sri Mulyani.  Bila  hal ini tidak segera dibenahi,  akan  menjadi amunisi bagi para  pengamat untuk mengkritisi kinerja  Ditjen Pajak.

Ditjen Pajak sendiri    berupaya mengatasi  berbagai kendala tersebut dengan meluncurkan crash program,  yang difokuskan  pada  9 bidang yang sifatnya prioritas. Yakni,  tata nilai dan budaya kerja;  pemeriksaan;  keberatan;  banding;  ekstensifikasi;   pengawasan kepatuhan;  sumber daya manusia;  teknologi informasi dan komunikasi; serta organisasi.

Akankah crash program ini  berhasil mengatasi ketiga kendala  di atas? Idealnya,  target penerimaan pajak 2010 tercapai, syukur-syukur melampaui target,  begitu pula  dengan  target  crash program.

Inilah  pekerjaan rumah  jajaran Ditjen Pajak. Untuk jangka pendek,  mereka harus bisa memenuhi target penerimaan pajak dalam waktu 3 bulan kurang 12 hari. Untuk jangka menengah-panjang,  tiga kendala harus bisa diatasi  dengan crash program.  Selamat berjuang!  (ra)

Leave a Comment