Kardinal Turkson mengatakan, sektor pertanian termasuk perkebunan (agricultural) termasuk perkebunan kelapa sawit bisa menjadi sektor usaha untuk menghapus kemiskinan. Kardinal Turkson berpesan bahwa keseimbangan antara kegiatan ekonomi dan pengelolaan lingkungan harus tetap dijaga.
Konferensi ini merupakan forum penting untuk bertukar pikiran dan berdialog antar pemangku kepentingan mewakili pemerintah, Organisasi Non Pemerintah, akademisi dan pengusaha agrikultural termasuk sawit dan kelompok-kelompok masyarakat sipil.
“Kami (pemerintah Indonesia-red) tidak ada maksud sama sekali untuk ‘menggunakan’ Vatikan untuk bertentangan dengan pihak manapun,” jelas Menko Luhut mengenai posisi Vatikan yang murni hadir sebagai fasilitator untuk menyampaikan fakta yang lengkap mengenai industri kelapa sawit dari sudut pandang kemanusiaan dan pengurangan kemiskinan.
Turut hadir sebagai pembicara pada sesi ini Duta Besar Malaysia untuk Vatika Tan Sri Bernard Giluk Dompok, Kardinal Peter Turkson, Rektor Pontifical Urban University Alberto Trevisial, James Fry dari Oxford, Frans Claassen dari Europan Palm Oil Alliance, Prof. Pietri Paganini dari John Cabot University, dan Thomas Mielke dari Oil World.
Menko Luhut melanjutkan pidatonya dengan menjelaskan mengenai pertumbuhan ekonomi Indonesia yang telah telah menunjukkan kinerja yang cukup baik. Selama dekade terakhir, ekonomi Indonesia tumbuh rata-rata sekitar 5,7%, tercepat ketiga di antara G20 setelah Tiongkok dan India. Rasio Gini Indonesia terus menyusut dari 0,4 menjadi 0,3 dalam tiga tahun menunjukkan keberhasilan kebijakan ekonomi pemerintah. Beberapa lembaga bahkan meramalkan bahwa pada 2030 – 2050, Indonesia akan menjadi ekonomi terbesar ke-5 dunia di G20. Kinerja ekonomi itu tidak mungkin terjadi tanpa kontribusi yang signifikan dari sektor pertanian Indonesia.
Sektor pertanian berkontribusi signifikan terhadap perekonomian Indonesia. PDB dari sektor pertanian rata-rata 4,1 Miliar Euro per tahun pada periode 2010 hingga 2018. Pada tahun 2014, sektor pertanian mempekerjakan sekitar 40,12 juta orang, atau sekitar 33% tenaga kerja Indonesia. (rud)