RI Bidik Pasar Makanan Minuman dan Kopi Korsel

Kamis, 10 Desember 2015

Jakarta, MINDCOMMONLINE.COM –   Produk-produk makanan dan minuman Indonesia memiliki peluang besar masuk dan menguasai pasar Korea Selatan (Korsel). Potensi produk makanan olahan di Korea Selatan cukup menjanjikan.

Pada tahun 2014, impor Korea Selatan untuk makanan olahan mencapai USD 8,1 miliar dengan pertumbuhan 7,55% per tahun selama periode 2010-2014. Negara pemasok utama yaitu Amerika Serikat dengan pangsa 20,4%; China
16,37%; Filipina 6,88%; Thailand 6,57%; dan Australia 6,11%. Sementara Indonesia menduduki urutan
ke 15 dengan pangsa 1,8%.

“Kita memiliki peluang cukup besar untuk merebut pangsa impor produk makanan olahan di Korea
Selatan dan harus kita manfaatkan sebaik-baiknya,”  kata Menteri Perdagangan Thomas Lembong Mendag sebelum menjalani rangkaian pertemuan bilateral di Korea Selatan pada 9-11 Desember 2015.

Produk impor utama untuk makanan olahan oleh Korea Selatan adalah olahan makanan lainnya (HS 2106) dengan nilai impor USD 935 juta (11,55%), gula tebu atau gula bit (HS 1701) sebesar USD 822 juta (10,16%), olahan kerang dan udang (HS 1605) USD 386 juta (4,77%), olahan buah (HS 2008) USD 326 (4,04%), cokelat dan produk dari olahan kakao (HS 1806) USD 322 juta (3,99%).

Tantangannya, pemerintah Korea Selatan menerapkan standar tinggi dengan alasan keamanan pangan. “Eksportir makanan olahan Indonesia harus mengetahui dan mampu memenuhi persyaratan mulai dari bahan-bahan yang digunakan hingga proses pengolahan,” ucapnya.

Sementara itu, sebagai penghasil kopi terbaik, Indonesia dapat merebut pasar kopi di Korea Selatan. “Kopi sangat digemari masyarakat Korea Selatan. Kita perlu melakukan strategi khusus untuk lebih mempromosikan dan membentuk positioning kopi Indonesia di pasar Korea Selatan,” kata Mendag.

Fakta menunjukkan bahwa hampir seluruh kopi di Korea Selatan berasal dari impor yang angkanya
mencapai USD 527 juta pada 2014. Selain itu, data lain, sebanyak 53% orang dewasa lebih memilih
minuman kopi dibandingkan jenis minuman lainnya, seperti jus, minuman cokelat, susu, ataupun
softdrinks. Diperkirakan setiap orang dewasa Korea Selatan mengonsumsi 2 kg kopi setiap tahunnya.

“Sekitar 90% kopi yang diimpor Korea Selatan adalah green beans yang memiliki harga relatif lebih
murah dibandingkan kopi yang dihasilkan Indonesia. Namun demikian, Indonesia masih memiliki
peluang memasarkan specialty coffee dan single-origin. Kebanyakan penikmat kopi di Korea Selatan
belum mendapatkan informasi mengenai hal tersebut,” lanjut  Thomas.

Pemasok terbesar kopi ke Korea Selatan adalah Brasil, Kolombia, dan Viet Nam, dengan pangsa pasar
masing-masing 16,2%; 15,6%; dan 10,3%. Sedangkan Indonesia berada di posisi ke-15 dengan pangsa
pasar 1,59% atau sebesar USD 8,3 juta.
Untuk mendorong ekspor Indonesia ke Korea Selatan,  Menteri Thomas  juga akan bertemu
Chairman of Korea Trade-Investment Promotion Agency (KOTRA) dan Chairman of Korea International
Trade Association (KITA) guna mendiskusikan peluang kerja sama di bidang promosi perdagangan.
Salah satu cakupan kerja sama adalah fasilitasi para eksportir Indonesia dalam melakukan promosi di
website KITA melalui layanan e-marketplace dan Global Business Matching Services (GBMS).

“Kami berharap KOTRA dapat mendukung promosi produk Indonesia di pasar Korea Selatan, sekaligus
mendorong perusahaan Korea Selatan berinvestasi di Indonesia,” kata Mendag.

Total perdagangan Indonesia dengan Korea Selatan pada 2014 tercatat sebesar USD 22,47 miliar.
Sementara pada periode Januari-September 2015 mencapai USD 12,52 miliar dengan penurunan
sebesar 25,92% dibandingkan periode yang sama tahun 2014 yang sebesar USD 16,90 miliar.

Korea Selatan merupakan negara tujuan ekspor nonmigas Indonesia urutan ke-7 dengan share 3% dari
total keseluruhan ekspor pada 2014. Ekspor nonmigas Indonesia ke Korea Selatan pada 2014 mencapai
nilai USD 5,72 miliar. Namun, nilai ini menurun 5,55% dibanding ekspor tahun 2013 yang tercatat
sebesar USD 6,05 miliar.

Sementara itu, ekspor nonmigas Indonesia ke Korea Selatan pada Januari-September 2015 tercatat senilai USD 4,23 miliar. Nilai ini juga menurun sebesar 1,23% dibanding ekspor periode Januari-September 2014 yang sebesar USD 4,28 miliar.

Sedangkan tren ekspor nonmigas Indonesia ke Korea Selatan lima tahun terakhir (2010-2014) adalah
sebesar 5,73%, dimana ekspor pada 2010 sebesar USD 6,87 miliar menjadi USD 5,71 miliar pada 2014. (ray)

 

Leave a Comment