RI di Peringkat 9 Negara dengan Nilai Tambah Industri Manufaktur Terbesar

Selasa, 13 Juni 2017

Jakarta, MINDCOMMONLINE.COM –   UNIDO menempatkan  Indonesia  di  peringkat ke-9, setelah sebelumnya menduduki posisi ke-10,   negara dengan nilai tambah industri manufaktur terbesar. Dengan capaian tersebut, Indonesia sejajar dengan Inggris.

“Indonesia naik peringkat, jadi posisi ke-9 sejak 2017,” kata Menteri Perindustrian  Airlangga Hartarto  usai menerima UNIDO Representative Indonesia, Shadia Bakhait Hajarabi di Jakarta, Senin (12/6).

Menurut dia,       penilaian UNIDO tersebut dari jumlah produksi dan nilai tambah industri manufaktur yang semakin meningkat di Indonesia. “Mereka menghitungnya dari manufacturing value added. Jumlahnya terus bertambah,” imbuhnya.

Menanggapi prestasi tersebut, Airlangga menyampaikan bahwa seluruh pihak harus tetap bekerja keras untuk mendapatkan hasil yang lebih baik lagi khususnya dalam pengembangan industri dalam negeri.

“Apalagi  sektor industri merupakan kontributor terbesar bagi pertumbuhan ekonomi nasional,” tegasnya.

Berdasarkan data International Yearbook of Industrial Statistics 2016 yang dirilis oleh UNIDO, industri manufaktur di Indonesia telah memberikan kontribusi hampir seperempat bagian dari PDB.

Disebutkan pula, Indonesia mampu mempertahankan pertumbuhan positif, bahkan pada saat krisis finansial global yaitu ketika kondisi ekonomi kebanyakan negara-negara maju mengalami penurunan, sehingga Indonesia berhasil mencapai ranking 10 besar negara industri manufaktur di dunia atau top ten manufacturers of the world.

Badan Pusat Statistik mencatat, produksi industri manufaktur besar dan sedang di triwulan I-2017 naik 4,33 persen dalam setahun. Adapun produksi industri manufaktur mikro kecil triwulan I-2017 tumbuh 6,63 persen dalam setahun.

Pertumbuhan produksi industri manufaktur besar dan sedang, antara lain, disebabkan kenaikan produksi industri bahan kimia dan barang dari bahan kimia sebesar 9,59 persen, industri makanan 8,20 persen, serta industri karet, barang dari karet, dan plastik sebesar 7,80 persen.

Menperin optimistis, pertumbuhan tersebut akan lebih terdongkrak lagi apabila kebijakan penurunan harga gas dan listrik bagi industri seluruhnya dapat terealisasi.

“Bahkan, itu bisa menambah daya saing industri nasional di kancah global,” tegas Airlangga.

Langkah strategis lainnya yang perlu dilakukan adalah  melakukan harmonisasi peraturan lintas sektoral, menjaga stabilitas harga dan pasokan bahan baku industri khususnya bahan baku yang berasal dari impor, melaksanakan promosi dagang ke pasar non tradisional, serta mencari informasi kebutuhan produk dan hambatan pasar dalam rangka pengembangan pasar ekspor baru. (udy)

 

 

Leave a Comment