Kepala BNPB Willem Rampangilei  menjelaskan, penambahan jumlah pengungsi yang signifikan diakibatkan oleh faktor psikologis masyarakat  sekitar yang ketakutan, sehingga ikut mengungsi walaupun lokasinya aman.

Untuk mengantipasi hal tersebut pemerintah telah melakukan sosialisasi untuk memberikan pemahaman kepada masyarakat bahwa pemerintah telah menetapkan kawasan bahaya dan tidak bahaya.

“Saat ini sebanyak 28 desa yang masuk kawasan bahaya, oleh sebab itu pemerintah berusaha menghimbau kepada masyarakat yang berada diluar 28 desa itu, untuk segera kembali kerumahnya masing-masing” ucap Willem.

PVMBG (Pusat Vulkanologi Mitigasi Bencana dan Geologi)  telah menetapkan 9 km adalah kawasan rawan bahaya dan 12 km kawasan bahaya  secara sektoral. Dimana sektor tersebut adalah wilayah bahaya terhadap material-material yang dikeluarkan jika terjadi erupsi. Sedangkan diluar 12 km adalah wilayah terdampak abu vulkanik yang dapat mengganggu kesehatan.

BNPB telah mensosialisasikan kepada masyarakat mengenai bahaya erupsi Gunung Agung dengan menyebarkan leaflet, peta rawan bencana dan buku-buku komik bencana kepada anak-anak di lokasi pengungsi.

Sementara itu, untuk merelokasi hewan ternak, Pemerintah Kabupaten   Karangasem telah menyiapkan tanah seluas 300 hektar dan proses evakuasi ternak akan dilakukan oleh satgas TNI. Saat ini sekitar 10.000 hewan ternak yang harus dievakuasi.

“Masyarakat diharapkan untuk selalu waspada karena erupsi Gunung Agung dapat terjadi setiap saat dan selalu ikuti himbauan pemerintah,” kata  Sutopo Purwo Nugroho, Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB. (rud)