Tarif Listrik tak Naik, PLN Peroleh Harga Batu Bara Terendah

Jumat, 9 Maret 2018

Jakarta, MINDCOMMONLINE.COM – Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menetapkan harga batu bara khusus untuk pembangkit listrik dalam negeri sebesar US$ 70 per ton. Harga ini ditetapkan untuk membantu keuangan PT Perusahaan Listrik Negara (PLN) agar mendukung tarif listrik tidak naik hingga 2019.

Aturan itu tertuang dalam Keputusan Menteri (Kepmen) ESDM No. 1395K/30/MEM/2018 tentang Harga Batu Bara untuk Penyediaan Tenaga Listrik untuk Kepentingan Umum. Aturan tersebut merupakan turunan dari Peraturan Pemerintah (PP) No. 8 Tahun 2018 tentang Perubahan Kelima PP No. 1 Tahun 2014 tentang Kegiatan Usaha Pertambangan Mineral dan Batu Bara, dan Peraturan Menteri ESDM No. 19 Tahun 2018 tentang Perubahan Kedua Permen ESDM No. 7 Tahun 2017 tentang Tata Cara Penetapan Harga Patokan Penjualan Mineral Logam dan Batu Bara.

Kepala Biro Komunikasi, Layanan Informasi Publik dan Kerja Sama Kementerian ESDM, Agung Pribadi mengatakan, PP itu dikeluarkan lantaran mempertimbangkan daya beli masyarakat dan daya saing industri dalam negeri.

“PP ini dikeluarkan mempertimbangkan daya beli masyarakat dan daya saing industri terkait harga listrik,” kata Agung di kantor Kementerian ESDM, Jakarta, hari ini.

Ia mengatakan, PLN saat ini menggunakan sekitar 57 persen energi primer untuk pembangkit listrik yang berasal dari batu bara. Kebijakan ditetapkan mengingat harga batu bara sudah mencapai US$ 101 per ton. Apabila harga batu bara acuan di bawah US$ 70, maka yang dipakai adalah harga yang paling rendah.

“Pokoknya selain HBA (harga batu bara acuan) nasional juga ditetapkan HBA untuk pembangkit dalam negeri US$70. Ini fixed. Bila ke depan HBA di bawah US$70, maka yang diambil yang lebih rendah,” kata Agung.

Penetapan harga khusus tersebut berlaku surut sejak 1 Januari 2018 hingga Desember 2019. Artinya, kontrak-kontrak penjualan yang sudah berjalan sejak 1 Januari 2018 akan disesuaikan.

Adapun, volume maksimal pembelian batu bara untuk pembangkit listrik tersebut juga ditetapkan sebanyak 100 juta ton per tahun atau sesuai dengan kebutuhan batu bara untuk pembangkit listrik.

Selain itu, disebutkan bahwa perusahaan yang menjual batu bara untuk kepentingan listrik nasional dapat diberikan tambahan produksi sebesar 10 persen apabila memenuhi syarat sesuai ketentuan yang berlaku.

“Penetapan harga tersebut hanya berlaku untuk penjualan kelistrikan nasional. Sedangkan, penetapan harga di luar kepentingan tersebut tetap mengacu pada HBA,” kata Agung menambahkan.

Keuangan Tergerus

Sebelumnya, kenaikan harga batu bara membuat kondisi keuangan PT PLN harus diperketat. Apalagi, saat ini pemerintah telah memutuskan tarif listrik tidak naik hingga akhir 2019.

Direktur Utama PT PLN Sofyan Basir mengatakan, kenaikan harga batu bara sangat berpengaruh pada kinerja keuangan perusahaan. Ia menjelaskan, keuangan perusahaan sempat tergerus hingga Rp16 triliun pada 2017.

“Berat sekali (pengaruh kenaikan harga batu bara). Bayangkan saja 2017 itu tergerus Rp16 triliun, gara-gara kenaikan harga batu bara,” kata Sofyan, Jakarta, awal pekan ini.

Menurut dia, uang Rp16 triliun itu seharusnya bisa digunakan untuk berinvestasi pembangunan jaringan listrik di daerah tertinggal, membangun  transmisi dan sebagainya.

“Dulu kan pakai APBN (bangun transmisi dan daerah tertinggal), semenjak 2015 seluruh (pembangunan) PLN, itu dari mana? ya dari pinjaman,” kata Sofyan menegaskan.

Ia telah melaporkan kondisi keuangan PLN terkini kepada Menteri Keuangan, Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) hingga Menteri ESDM. Akhirnya, lanjut Sofyan, dari situlah pemerintah sepakat melakukan pengaturan harga acuan batu bara untuk konsumsi domestik (domestic market obligation) yang akan dituangkan dalam peraturan pemerintah (PP).

“Dari situ pemerintah ambil kesimpulan sebaiknya harganya (batu bara) sekian supaya PLN bisa tetap membangun ke depan,” kata Sofyan menerangkan.

Ia mengatakan, hal ini juga bertujuan untuk menjamin tarif listrik masyarakat tidak naik. “Juga tarif industri tidak naik, karena jika itu (terjadi) daya beli melemah, industri berhenti, pengangguran terjadi,” katanya menambahkan. (au)

Leave a Comment

WP Facebook Auto Publish Powered By : XYZScripts.com