Timur Tengah Bergejolak, Harga Minyak Sentuh Level Tertinggi Sejak 2014

Kamis, 12 April 2018

Jakarta, MINDCOMMONLINE.COM – Harga minyak dunia menyentuh level tertinggi sejak akhir 2014. Lonjakan harga terjadi pasca pernyataan Arab Saudi yang mencegat serangan peluru kendali ke arah Riyadh. Selain itu, harga meroket tersebut juga dipicu oleh peringatan Presiden AS Donald Trump kepada Rusia terkait aksi militer di Suriah.

Dilansir dari Reuters pada Kamis (12/4), harga minyak mentah berjangka Brent naik US$ 1,02 menjadi US$ 72,06 per barel pada penutupan perdagangan, setelah sempat menyentuh level US$ 73,09 per barel. Ini merupakan level tertinggi sejak 1 Desember 2014.

Kenaikan juga terjadi pada harga minyak mentah berjangka AS West Texas Intermediate (WTI) sebesar US$ 1,31 atau dua persen menjadi US$ 66,82 per barel. Harga WTI sempat menyentuh level US$ 67,45 selama sesi perdagangan.

Kedua harga minyak acuan berada di level tertinggi sejak lebih dari tiga tahun terakhir, akibat kekhawatiran terhadap risiko geopolitik di Timur Tengah lebih besar dibanding sentimen peningkatan persediaan minyak mentah AS.

Harga minyak juga mengalami reli kenaikan harga, seiring pernyataan Trump yang mengancam bakal menembakkan peluru kendali di Suriah. Washington dan sekutunya telah mempertimbangkan untuk melancarkan serangan udara, menyusul dugaan serangan gas beracun yang terjadi pekan lalu.

Beberapa maskapai penerbangan utara mengubah rute penerbangan setelah badan pengatur lalu lintas udara Eropa memberikan peringatan kepada pesawat yang terbang di timur Mediterania. Hal itu dilakukan untuk mengantisipasi potensi terjadinya serangan udara di Suriah.

Pernyataan Presiden AS Donald Trump yang menyatakan misil akan berdatangan ke Suriah. Tentu saja, hal ini mendorong Rusia untuk mendukung Presiden Bashar al-Assad karena dugaan serangan bahan kimia kepada pemberontak. Komentar Trump menaikkan prospek konflik langsung terkait Suriah untuk pertama kalinya antara AS dan Rusia. “Tahun lalu Rusia dan Suriah tidak membalas misil-misil AS. Namun, kali ini skala kemungkinan serangan oleh AS dan sekutu-sekutunya mungkin akan lebih besar. Jika Rusia membalas, maka perang akan lebih besar,” katar Hidenori Suezawa, analis pasar keuangan di SMBC Nikko Securities, demikian dikutip kompas.com.

Sementara itu, bursa Asia tertekan sejalan dengan ancaman aksi militer AS ke Suriah yang membuat investor khawatir. Indeks saham Asia Pasifik di luar Jepang MSCI terpeleset 0,95 persen pada sesi awal perdagangan. Adapun indeks sahan Nikkei 225 merosot 0,4 persen. Kemarin (11/4) waktu setempat, indeks S&P 500 melemah 0,55 persen dan indeks Nasdaq Composite anjlok 0,36 persen serta indeks energi SPNY menguat lebih dari 1 persen karena kenaikan harga minyak. (au)

Leave a Comment