1,27%, Realisasi Defisit APBN-P 2011

 

Selasa, 3 Januari 2012

Jakarta, MINDCOMMONLINE.COM –  Realisasi pendapatan negara  2011  sebesar Rp 1.199,5 triliun, atau 102,5% dari  target APBN-P 2011. Sementara realisasi belanja negara sebesar Rp  1.289,6 triliun (97,6%).

Dengan  demikian,   realisasi defisit  APBN-P  2011 mencapai 1,27%,  melampaui target yang ditetapkan sebesar 2,09% atau Rp 150,8 triliun.

“Alhamdulillah, (realisasi  defisit APBN-P 2011 – Red) di bawah 1,5%  dengan besaran Rp 90,1 triliun. Inilah potret atau realisasi dari APBN 2011,” kata Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dalam  pengantar  pada  sidang kabinet paripurna di Kantor Presiden, Selasa (3/1).
SBY juga mengungkapkan sejumlah   prestasi ekonomi Indonesia selama 2011, seperti inflasi  sebesar 3,79%, yang tercatat sebagai terendah di kawasan Asia Pasifik.

Sementara pertumbuhan ekonomi kuartal IV-2011  mencapai  6,5%.

“Itu (pertumbuhan ekonomi kuartal IV-2011 – Red)  tertinggi di kawasan negara-negara ASEAN. Bahkan good news yang lain adalah ekspor kita tembus angka psikologis, yaitu US$ 200 miliar dolar . Ini tentu memberikan spirit kepada kita, semangat pada kita untuk bukan hanya mempertahankannya, tapi lebih meningkatkan lagi di tahun anggaran 2012 ini,” SBY menjelaskan.

Di bidang energi, SBY menambahkan, dalam jangka pendek dan jangka menengah  pemerintah  harus   menjalankan kebijakan pengaturan volume BBM dan juga konversi atau perubahan jenis BBM ke bahan bakar gas dan sejumlah kebijakan yang lain.

“Opsi yang kita pilih sekarang ini untuk mengurangi subsidi berkaitan dengan subsidi BBM dan subsidi listrik adalah pengaturan atau pembatasan volume. Kita cegah pemborosan. Dengan demikian, besaran dari subsidi itu akan berkurang. Saya mendapatkan laporan akhir, sebetulnya subsidi tahun ini juga sudah berkurang dibandingkan tahun lalu. Namun kita ingin ke depan betul-betul memastikan subsidi ini tepat sasaran, kemudian dalam jumlah yang proporsional dibandingkan keseluruhan besaran APBN kita,” SBY memaparkan.

Menurut dia, ada dua hal penting menyangkut energi nasional yakni kecukupan energi dan  efisiensi penggunaan energi.

“Kita ingin memastikan dengan policy yang benar, dengan manajemen yang benar, ke depan kebijakan kita tepat dua-duanya. Teknologi juga bisa kita hadirkan, dan yang lebih penting, gaya hidup atau perilaku masyarakat harus kita bawa. Mereka harus sadar suatu saat energi sangat penting dan kebutuhan akan meledak bisa kita pecahkan masalah itu, manakala sekali lagi, energi kita cukup, dan kemudian kita betul-betul efisien dalam menggunakan hal energi,” ungkapnya. (ra)

 

 

Leave a Comment

WP Facebook Auto Publish Powered By : XYZScripts.com