Waduk Kedung Ombo Direhab, Airi 61.482 Ha Lahan Pertanian di Jateng

Selasa, 8 Oktober 2019

Jakarta, MINDCOMMONLINE.COM-Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) merehabilitasi lima daerah irigasi  di dalam sistem Waduk Kedung Ombo, Kabupaten Grobogan, untuk mengairi lahan pertanian seluas 61.482 hektare (Ha) di Jawa Tengah.

Kelima daerah irigasi tersebut ,yakni Klambu Kiri 20.549 hektare, Klambu Kanan 10.354 hektare, Klambu Wilalung 6.586 hektare, Sidorejo 7.938 hektare, dan Sedadi 16.055 hektare. Secara keseluruhan, perbaikan jaringan kelima daerah irigasi tersebut telah rampung seluruhnya pada tahun 2018.

“Daerah irigasi Klambu Kiri dan Klambu Kanan dibangun sejak tahun 1980-an, namun belum pernah ada perbaikan masif sebelum 2015. Rehabilitasi sistem jaringan irigasi pada Daerah Irigasi Klambu mendesak mengingat kerusakan saluran yang mengakibatkan berkurangnya debit air dan sawah di hilir tidak kebagian air karena kemampuan sistem mengalirkan air menyusut menjadi 60%-70%  dari kapasitas sesungguhnya” kata Menteri PUPR Basuki Hadimuljono, Selasa (8/10).

Dengan rehabilitasi, Waduk Kedung Ombo dapat difungsikan kembali dengan lebih optimal sesuai rencana sebagai bagian dari program rehabilitasi tiga juta hektare guna mendukung Ketahanan Pangan Nasional, terutama di Jawa Tengah yang merupakan salah satu lumbung pangan nasional.

Menteri Basuki mengatakan rehabilitasi sistem irigasi Waduk Kedung Ombo sangat penting dilakukan, karena tidak ada lagi lahan sawah yang memiliki luas sebesar itu di Pulau Jawa. Menurutnya dengan perbaikan irigasi, Indeks Penanaman bisa lebih tinggi dari semula 150%-180%  menjadi 200%-280 %.

Waduk Kedung Ombo yang diresmikan penggunaannya pada tahun 1991 merupakan waduk multi-guna yang dengan fungsi utama sebagai penyedia air irigasi dan air baku, pengendalian banjir, perikanan, serta wisata. Waduk tersebut mempunyai kapasitas tampung maksimal sebesar 703 juta meter kubik untuk melayani kebutuhan air di empat wilayah yaitu Grobogan, Kudus, Demak, dan Pati.

Dalam perjalanan waktu 10-15 tahun beroperasi maka jaringan irigasi sudah mulai ada kerusakan, sehingga kapasitasnya menurun,  sampai hanya tinggal 60 persen dari kapasitas rencana. Kegiatan rehabilitasi secara menyeluruh dilakukan sejak tahun 2015 bersumber dari APBN dengan kontrak tahun jamak 2015-2018. (sr)

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *