Anggaran Penanganan COVID-19 capai 4,2% dari PDB

Selasa, 23 Juni 2020

Jakarta, MINDCOMMONLINE.COM-Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati menyebutkan upaya pemerintah untuk menangani dampak dan wabah COVID-19 melalui program stimulus ekonomi yang mencapai Rp 695,2 triliun setara dengan 4,2%  dari Produk Domestik Bruto (PDB).

“Indonesia kalau diukur dari paket revisi Perpres 54/2020 yang kami sampaikan dengan defisit di 6,4%, maka kita memberikan stimulus 4,2% dari GDP,” kata Sri Mulyani dalam Raker bersama Komisi XI DPR RI di Jakarta, Senin (22/6).

Total anggaran penanganan COVID-19 Rp 695,2 triliun terdiri dari kesehatan Rp 87,55 triliun, perlindungan sosial Rp 203,9 triliun, insentif usaha Rp 120,61 triliun, UMKM Rp 123,46 triliun, pembiayaan korporasi Rp 53,57 triliun, serta sektoral K/L dan Pemda Rp 106,11 triliun.

Sri Mulyani menyatakan stimulus dikeluarkan oleh pemerintah bertujuan agar perekonomian yang sudah melemah tidak jatuh lebih dalam, sehingga dilakukan melalui kebijakan baik dari sisi moneter maupun fiskal.

Ia menuturkan tak hanya Indonesia yang menggelontorkan stimulus untuk memulihkan ekonomi, melainkan juga negara-negara G-20 lainnya seperti Jerman, Jepang, Italia, Inggris, Amerika Serikat, Australia, Perancis, Kanada, hingga Rusia.

“Dengan kontraksi yang sangat dalam maka semua negara melakukan program stimulus untuk menolong ekonominya,” ujar Sri Mulyani.

Sri Mulyani menyebutkan Jerman merupakan negara yang menggelontorkan stimulus paling tinggi yaitu mencapai 19,3% dari PDB, disusul Jepang dan Italia masing-masing 14,3%, Inggris 13,7%, AS 13,6%, Australia 9,9%, dan Perancis 9,5%.

Kemudian Kanada 8,6%  dari PDB, Korea 7,9%, Afrika Selatan dan Turki 6%, China 5,6%, India 5,2%, Arab Saudi 4,9%, Brazil 4,6%, Argentina 3,8%, Meksiko 3,3%, dan Rusia 1,8%.

Sementara itu Sri Mulyani menyatakan pemerintah masih akan terus mewaspadai perkembangan wabah COVID-19, mengingat jumlah kasusnya meningkat setiap hari terutama di kota-kota yang memiliki kontribusi besar terhadap perekonomian.

“Kita harus meningkatkan kewaspadaan karena jumlah kasus COVID-19 meningkat seiring dengan langkah pemerintah untuk melakukan pengujian dengan rapid test yang semakin meluas,” ujarnya.

Ia menuturkan terdapat enam daerah yang memiliki kasus COVID-19 tinggi yaitu DKI Jakarta dengan kontribusi terhadap PDB sebesar 18%, Jawa Timur 14,9%, Jawa Barat 13,4%, Jawa Tengah 8,6%, Sulawesi Selatan 3,2%, dan Kalimantan Selatan 1,1%.

“COVID-19 tidak hanya berpengaruh pada masyarakat, namun juga pada ekonomi karena daerah-daerah yang kasusnya tinggi merupakan kontributor ekonomi terbesar di Indonesia,” ujarnya. (sr)

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *