Kemendag Dorong Implementasi SRG untuk Pemulihan Ekonomi Dampak Covid-19 di Sulawesi Selatan

Kamis, 3 September 2020

Jakarta, MINDCOMMONLINE.COM – Menteri Perdagangan Agus Suparmanto mengatakan Sistem Resi Gudang (SRG) dapat dimanfaatkan untuk mendorong pemulihan ekonomi daerah dari pandemi Covid-19. Untuk mewujudkan gagasan tersebut, Kementerian Perdagangan dan Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan berkomitmen mengembangkan implementasi SRG pada
pembangunan sektor perdagangan dan industri yang berbasis sumber daya dan komoditas
lokal.

“Kemendag mengupayakan agar SRG dapat dimanfaatkan dalam upaya pemulihan ekonomi
akibat pandemi Covid-19 ini,” kata Mendag Agus.

Sejalan dengan gagasan tersebut, Kepala Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi
(Bappebti), Sidharta Utama memantau sejumlah gudang SRG di Makassar, Sulawesi Selatan,
Selasa-Rabu (1-2/9).

“Keterbukaan informasi terkait ketersediaan stok dan standardisasi mutu komoditas SRG
diharapkan mampu memberikan kepercayaan dan keamanan yang lebih besar dalam aktivitas
perdagangan, serta akan mendorong peningkatan daya saing komoditas yang berorientasi
ekspor. Untuk itu, Kemendag dan Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan mendorong para
pelaku usaha di Sulawesi Selatan untuk memanfaatkan SRG dengan lebih optimal dalam
mendukung kegiatan ekspor komoditas,” kata Sidharta saat membuka pertemuan teknis
dengan pelaku usaha dan dinas perdagangan kabupaten/kota se-Sulawesi Selatan di Makassar,
Rabu (2/9) sebagai bagian dari rangkaian peninjauan.

Hasil peninjauan menunjukkan SRG telah berjalan baik di Sulawesi Selatan. “Gudang SRG yang
telah berjalan dengan baik dan mempunyai pengelola gudang antara lain SRG di Bantaeng,
Gowa, Luwu Timur dan Luwu Utara,” jelas Sidharta.

Implementasi yang sudah berjalan baik, terutama untuk komoditas gabah dan beras, berada di
wilayah Sidrap dan Pinrang yang dikelola oleh PT Pertani. Sedangkan implementasi SRG untuk
rumput laut yang telah berjalan untuk pemenuhan kebutuhan industri dalam negeri maupun
permintaan ekspor adalah SRG yang dikelola oleh Koperasi Serikat Pekerja Merdeka Indonesia
(Kospermindo) dan PT Wahana Pronatural, Tbk di Makassar. “SRG mampu menunjukkan
perannya sebagai instrumen pembiayaan dengan komoditas tujuan ekspor keluar negeri,”
tutur Sidharta.

Sementara itu, hasil peninjauan terhadap pengelola gudang SRG menunjukkan secara umum
pengelolaan sudah berjalan baik. Pengelola gudang tersebut antara lain Koperasi Serba Usaha
Adi Luwung di Kabupaten Luwu Timur serta Koperasi Tani Bontolempangan di Kabupaten
Gowa. “Kinerja ini terlihat dari keaktifan SRG dalam penerbitan resi gudang secara
berkelanjutan,” ungkap Sidharta.

Sedangkan pengelolaan SRG yang masih perlu didorong kinerjanya adalah Koperasi Ere Mattika
di kabupaten Bantaeng dan KSU Mitra Setia di Kabupaten Luwu Utara. “Salah satu upaya yang
dapat dilakukan adalah melalui pengelola gudang baru sehingga ada semangat baru dalam
menggerakkan ekonomi dan mempercepat pemulihan ekonomi nasional yang saat ini terpukul
oleh pandemi Covid-19,” imbuh Sidharta.

Sidharta juga menyampaikan, hingga saat ini, Kemendag telah memberikan bantuan berupa 12
Gudang SRG beserta fasilitasnya yang tersebar di kota dan kabupaten di Sulawesi Selatan. Ke12 Gudang SRG tersebut yaitu masing-masing satu gudang SRG di Gowa, Palopo, Pinrang,
Bantaeng, Takalar, Sidrap, Luwu, Luwu Utara; serta masing-masing dua gudang SRG di Bone
dan Luwu Timur.

Implementasi SRG di Indonesia mengacu pada Undang-undang Nomor 9 Tahun 2006, yang
diubah dengan Undang-undang Nomor 9 tahun 2011. Awalnya, SRG didesain sebagai
instrumen tunda jual dan alternatif pembiayaan, sehingga gudang SRG mampu meningkatkan
pendapatan dan kesejahteraan bagi para petani dan pelaku usaha pada pasar dalam negeri
maupun yang berorientasi ekspor. (udy)

Leave a Comment