Konsumsi Kelas Menengah Perlu Didongkrak untuk Perbaiki Ekonomi

Senin, 9 November 2020

Jakarta, MINDCOMMONLINE.COM- Konsumsi kelas menengah perlu ditingkatkan dalam rangka memperbaiki pertumbuhan ekonomi nasional, kata  Direktur Eksekutif Eksekutif  Institute for Development of Economics and Finance  (Indef), Tauhid Ahmad

“Kelas menengah perlu didorong konsumsi yang sifatnya non-makanan dan minuman seperti transportasi dan pariwisata,” ujar Tauhid Ahmad,  Minggu (8/11).

Saat ini, menurut dia, masyarakat kelas menengah masih cenderung menahan konsumsinya seraya menanti penanganan kasus COVID-19 di dalam negeri. “Mereka belum percaya mengenai masalah kesehatan,” ucap Tauhid .

Maka itu, lanjut dia, perlu pemerintah harus dapat meningkatkan upaya-upaya kampanye protokol kesehatan pada pusat perbelanjaan, hotel, pariwisata, restoran yang clean and clear.

“Pemerintah perlu memperbaiki pola penanganan pandemi dengan fokus pada penyadaran masyarakat menghadapi gelombang kedua pandemi,” katanya.

Dalam rangka memperbaiki ekonomi nasional pada kuartal IV, Tauhid Ahmad juga mengatakan pemerintah perlu melakukan percepatan belanja pemerintah baik belanja modal maupun Program Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN).

Selain itu, lanjut dia, mengubah skema bantuan sosial (bansos) dengan fokus 20 persen ke masyarakat kelompok terbawah, dengan penambahan besaran bantuan hingga Rp1,5 juta per rumah tangga dan skema bantuan tunai.

Ia menambahkan pemerintah juga perlu melakukan terobosan penciptaan lapangan kerja dengan fokus pembangunan infrastruktur padat tenaga kerja, industri padat tenaga kerja, hingga stimulus UMKM non-restrukturisasi.

Dalam kesempatan itu Tauhid Ahmad meminta pemerintah untuk belajar dari negara lain dalam melakukan perbaikan ekonomi.

“Perbaikan ekonomi kita jauh lebih lambat dibandingkan negara mitra dagang kita. Bandingkan dengan China, AS, Singapura, Korea Selatan, dan Vietnam,” katanya.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) pertumbuhan ekonomi Indonesia mengalami perbaikan dari minus 5,32%  pada kuartal II 2020 menjadi minus 3,49%  pada kuartal III 2020. (ki)

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *