Wamendag: Sumut Salah Satu Kontributor Ekspor Nonmigas Penting Bagi Indonesia

Oleh rudya

Senin, 9 November 2020

Jakarta, MINDCOMMONLINE.COM – Wakil Menteri Perdagangan Jerry Sambuaga menyebut Sumatra Utara (Sumut) sebagai salah satu provinsi yang memberikan kontribusi ekspor nonmigas cukup tinggi bagi Indonesia.

Pada 2019, Sumatera Utara menduduki peringkat ke-9 sebagai provinsi yang memberikan
kontribusi ekspor nonmigas dengan total ekspor sebesar USD 7,28 miliar (4,73 persen dari total
ekspor nonmigas Indonesia).

Hal itu disampaikan Wamendag Jerry saat melepas ekspor produk sarang burung walet dan keripik
singkong PT Ori Ginalnest Indonesia dan PT Alpha Gemilang Sejahtera bersama Gubernur Sumatera Utara Edhy Rahmayadi di Medan, Sabtu (7/11). Dengan capaian seperti itu, Wamendag Jerry memberikan apresiasi kepada pemerintah dan pelaku usaha di Sumut.

“Kami berterima kasih dan memberikan apresiasi kepada Pak Gubernur, pemerintah kabupaten dan
kota, serta seluruh pelaku usaha di Sumut atas capaian yang diraih. Kita berharap ekspor makin
memberikan kontribusi penting bagi perekonomian dan kesejahteraan masyarakat, termasuk di
Sumut ini,” kata Jerry.

Kinerja neraca perdagangan Indonesia sangat baik dengan membukukan surplus hingga USD 13,5
miliar. Kontribusi ekspor nonmigas menjadi makin penting dengan mencatat USD 111, 25 miliar
untuk periode Januari—September 2020. Jika dilihat dari data ekspor pada periode Januari—
Agustus 2020, ekspor nonmigas Sumatera Utara tercatat sebesar USD 4,91 miliar atau naik 0,40
persen dari periode yang sama tahun sebelumnya.

Menurut Jerry, Indonesia tengah gencar menjaga dan meningkatkan ekspor. Peningkatan ekspor
tidak terhenti karena pandemi Covid-19. Jerry juga menyebut berbagai perjanjian perdagangan
secara bilateral maupun multilateral sebagai salah satu cara untuk memberikan keunggulan
kompetitif bagi produk-produk Indonesia.

“Hari ini kita serahkan Surat Keterangan Asal (SKA) kepada para pelaku usaha agar produknya
dikenal berasal dari Indonesia. Dari situ mereka akan mendapatkan pemotongan tarif bahkan
hingga nol persen ke negara tujuan. Dengan begitu, harganya bisa ditekan dan bisa bersaing,”
imbuh Jerry.

Jerry menjelaskan, SKA adalah sebuah pernyataan resmi dari Pemerintah Indonesia mengenai asal
sebuah produk ekspor. SKA merupakan salah satu instrumen yang dihasilkan oleh perjanjian
perdagangan yang dilakukan oleh Kementerian Perdagangan bersama kementerian dan lembaga
lain. Negara tujuan ekspor akan mengenali asal produk dari SKA tersebut dan memberikan
pemotongan tarif hingga nol persen sesuai dengan perjanjian yang telah ditandatangani dengan
Indonesia.

Sementara itu, Gubernur Sumut Edhy Rahmayadi menyambut gembira dan berharap sinergi antara
pemerintah pusat dan daerah dapat terus ditingkatkan. “Produk Sumatra Utara sangat beragam dan banyak yang punya peluang ekspor. Kami harap Kementerian Perdagangan memberikan perhatian khusus bagi ekspor Sumatra Utara,” ujar Edhy.

Menanggapi permintaan tersebut, Wamendag Jerry mengatakan mengembangkan produk-produk
daerah untuk diekspor menjadi prioritasnya. Ia menyebut pembangunan infrastruktur yang sangat
masif di era Presiden Jokowi akan mendukung hal tersebut. Ia yakin tol lintas Sumatra akan
meningkatkan arus perdagangan dan menekan biaya logistik

“Kami akan memadukan upaya-upaya dengan infrastruktur yang ada, sehingga produk masyarakat
semakin mudah mencapai pasar, baik domestik maupun luar negeri. Ini kerja lintas lembaga dan
para pemangku kepentingan. Kami senang dan siap berkolaborasi dengan semua pihak agar produk masyarakat Sumut bisa dimaksimalkan dalam perdagangan,” kata Jerry.

Wamendag Jerry Sambuaga mengapresiasi semangat pantang menyerah para pelaku usaha dan
usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) yang terus berproduksi hingga melaksanakan ekspor di
masa pandemi Covid-19. Perusahaan sarang burung walet PT Ori Ginalnest Indonesia berhasil
mengekspor sarang burung walet ke China, Eropa, Amerika Serikat, Australia, Taiwan dan Singapura
sebesar Rp 24,29 miliar. Sedangkan PT Alpha Gemilang Sejahtera mengekspor 20 ton keripik
singkong ke Korea Selatan secara rutin 2—3 kali dalam sebulan.

“Kita harus berikan apresiasi kepada para pelaku ekspor karena tetap bekerja keras, optimis, dan
bisa mengoptimalkan peluang meski dalam masa pandemi. Ini juga berkaitan dengan ketahanan dan kemampuan beradaptasi perusahaan dalam berbagai keadaan,” kata Jerry.

Menurut Jerry, ekspor sarang burung walet meningkat secara konsisten di tengah pandemi.
Berdasarkan data BPS, ekspor sarang burung walet Indonesia selama kurun waktu lima tahun 2015– 2019 memiliki tren positif 34,94 persen. Ekspor sarang burung walet Indonesia pada periode
Januari—September 2020 juga mengalami peningkatan sebesar 34,45 persen yaitu sebesar USD
276,58 juta dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Negara tujuan utama sarang
burung walet Indonesia adalah Tiongkok dengan nilai mencapai USD 219,08 juta atau atau sebesar
60,19 persen dari seluruh ekspor sarang burung walet Indonesia.

“Indonesia menjadi negara penghasil sekaligus eksportir utama sarang burung walet di dunia.
Berdasarkan trademap tahun 2019 ekspor walet Indonesia berkontribusi 48,16 persen dari total
ekspor sarang burung walet dunia,” tutur Jerry.

Pandemi meningkatkan kesadaran terhadap higienitas dalam ekspor. Kesadaran dipicu oleh
mudahnya penyebaran Covid-19 kepada obyek, media, atau tenaga kerja yang menangani ekspor.
Untungnya, Indonesia telah lama memiliki perjanjian bersama dalam penetapan standar higienitas
produk. Khusus dalam ekspor sarang walet, sejak 2012, Indonesia dan Tiongkok sebagai tujuan
utama ekspor telah menandatangani protokol persyaratan higienitas, karantina, dan pemeriksaan
untuk importasi produk sarang burung walet dari Indonesia ke Tiongkok.

Sampai saat ini, dari 49 perusahaan yang telah terdaftar sebagai pemegang Eksportir Terdaftar
Sarang Burung Walet (ET-SBW), hanya 23 perusahaan yang telah mendapatkan sertifikasi ekspor
sarang burung walet ke Tiongkok.

Jerry mengingatkan, tren kesehatan dan higienitas akan meningkat di masa depan sejalan dengan
kesadaran publik akan hidup sehat. “Standar-standar kesehatan dan higienitas itu sering menjadi
nontariff barrier dalam perdagangan. Untuk itu, Kementerian Perdagangan bersama kementerian
terkait sudah mengantisipasi dengan berbagai perjanjian perdagangan baik secara bilateral maupun multilateral. Dalam perjanjian-perjanjian itu juga ada mekanisme peningkatan kapasitas pelaku usaha agar bisa memenuhi standard kesehatan produk di negara tujuan ekspor,” tandas Jerry.

Ekspor produk UMKM berbasis singkong dan ubi juga mendapat perhatian serius Wamendag Jerry.
Menurutnya, potensi ekspor Indonesia sangat banyak dan beragam. Jika digarap serius, semua
komoditas dan produk bisa diekspor, termasuk singkong.
“Ini menjadi contoh bahwa potensi itu sebenarnya ada depan kita. Tinggal kreatifitas dan keseriusan kita saja dalam mengolah dan memasarkannya,“ ujar Wamendag.

Untuk itu, pemerintah mengajak seluruh pelaku usaha untuk terus menggali potensi ekspor.
Menurut Wamendag Jerry, Kementerian Perdagangan memiliki perangkat dan program-program
yang mendukung munculnya produk-produk alternatif dalam perdagangan dan ekspor.
“Kementerian Perdagangan memiliki Direktorat Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional (Ditjen
PEN), Direktorat Bina Usaha Perdagangan Direktorat Jenderal Perdagangan Dalam Negeri, dan
lainnya. Kita memiliki banyak sekali program-program pembinaan yang komprehensif dan integratif.

Kita juga punya Atase Perdagangan, ITPC dan FTA Centre yang selalu siap sedia mendampingi dan
memberikan fasilitasi kepada para pelaku usaha. Mari, semua pelaku usaha bekerja sama dengan
kami,” ujarnya. (ray)

Silakan baca juga

Toyota Tingkatkan Program T-TEP untuk SMK di Indonesia Demi Hasilkan SDM Terampil dan Profesional

OJK Gelar Risk & Governance Summit

Uang Rupiah Logam Pecahan Rp 500 TE 1991, Rp 1.000 TE 1993, dan Rp 500 TE 1997 Dicabut dan Ditarik dari Peredaran

Leave a Comment