Kemendag Jaga Distribusi Bapok dan Biaya Logistik

Kamis, 19 November 2020

Jakarta, MINDCOMMONLINE.COM – Pemerintah akan selalu berikhtiar meningkatkan distribusi barang kebutuhan pokok (bapok) dan menurunkan biaya logistik di seluruh wilayah Indonesia melalui berbagai kebijakan dan program. Dengan begitu, ketahanan pangan serta kesejahteraan para petani, peternak, dan nelayan akan selalu terjaga.

Hal tersebut disampaikan Menteri Perdagangan Agus Suparmanto dalam seminar web (webinar) Jakarta Food Security Summit ke-5, Rabu (18/11). Acara yang diselenggarakan Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia ini mengangkat tema “Momentum untuk Mendukung Petani, Peternak dan Nelayan”.


Turut hadir sebagai narasumber diantaranya Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati serta Menteri
Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah (UKM) Teten Masduki.
“Kementerian Perdagangan bekerja sama dengan instansi dan lembaga terkait akan terus berkomitmen menjaga ketahanan pangan Indonesia serta mensejahterakan para petani, peternak, dan nelayan. Dengan tercapainya hal tersebut, konsumen juga dapat menikmati ketersediaan pangan dengan pasokan yang cukup serta harga yang terjangkau secara merata,” jelas Mendag.

Menurut Mendag, saat ini masih ada beberapa bapok yang mengalami disparitas harga antar wilayah yang cukup tinggi. Hal ini disebabkan beberapa faktor, diantaranya bencana alam, sentra produksi dan distribusi yang tidak tersebar secara merata, dan bervariasinya biaya logistik di daerah.

Salah satu kebijakan Kementerian Perdagangan untuk menyikapi hal ini adalah program Gerai Maritim, yang merupakan kegiatan mendistribusikan barang, khususnya bapok dari sentra produksi/industri di pulau-pulau besar ke daerah Terpencil, Terluar dan Perbatasan (3TP).
“Tujuan utama Gerai Maritim adalah menurunkan/mengurangi disparitas harga antar daerah. Melalui program ini, yang merupakan bagian dari program Tol Laut, pemerintah memberikan subsidi biaya portto-port rata-rata 40—50 persen dari biaya freight per kontainer,” terang Mendag.

Pada 2020, terdapat 67 daerah yang dilalui Tol Laut dan Gerai Maritim. Sedangkan, pembangunan Depo Gerai Maritim dilaksanakan di 14 kabupaten, khususnya di daerah 3TP. Banyak daerah telah merasakan manfaat positif dari program ini. Terdapat 50 daerah yang merasakan penurunan harga barang setelah dilalui program tersebut.

Sementara, di masa pandemi ini, lanjut Mendag, Kementerian Perdagangan telah memanfaatkan
platform niaga elektronik sebagai strategi jangka pendek dan jangka menengah—panjang untuk
menjaga stabilitas harga bapok dan meningkatkan konsumsi produk dalam negeri.
Strategi jangka pendek yang telah dilaksanakan Kementerian Perdagangan diantaranya penandatangan kerja sama dengan beberapa platform niaga elektronik nasional, Grup Accor, dan PT Bank Nasional Indonesia. Selain itu, Kementerian Perdagangan turut mendukung penuh program Gerakan Nasional Bangga Buatan Indonesia yang diluncurkan Presiden Joko Widodo dan fokus terhadap Transformasi Digital Pelaku UMKM Indonesia.
Kementerian Perdagangan juga melakukan pelatihan virtual kepada pelaku UMKM yang ditujukan untuk meningkatkan kualitas desain kemasan dan produk. Sedangkan, untuk membantu para pelaku usaha bertahan di masa pandemi ini, Kementerian Perdagangan melakukan refocusing anggaran untuk membantu sektor yang terdampak Covid-19.

Untuk strategi jangka menengah—panjang, selain program Gerai Maritim, beberapa kebijakan
Kementerian Perdagangan lainnya adalah melalui kebijakan stabilisasi harga, kebijakan pengendalian impor dalam mendukung substitusi impor, pengembangan sumber daya manusia (SDM) UMKM dalam IT, dan fasilitasi akses terhadap sumber-sumber pembiayaan.

Mendag menambahkan, Kementerian Perdagangan juga telah memperluas akses keuangan petani dan nelayan melalui pemanfaatan instrumen Sistem Resi Gudang dan Pasar Lelang Komoditas.

“Dengan skema SRG, manfaat yang dirasakan petani dan nelayan antara lain sebagai instrumen manajemen stok dan risiko fluktuasi harga, pembiayaan usaha dengan jaminan komoditas, peningkatan daya saing komoditas, serta manajemen pascapanen yang memberikan nilai tambah komoditas,” jelas Mendag.

Sedangkan, manfaat Pasar Lelang Komoditas bagi petani dan nelayan adalah adanya kepastian pasar, fokus pada proses produksi, dan harga yang kompetitif. Sedangkan bagi pelaku usaha, manfaat yang didapat adalah kepastian ketersediaan komoditas, pengaturan persediaan, harga yang kompetitif, dan efisiensi perdagangan.

“Selanjutnya, langkah yang perlu diambil yaitu memaksimalkan potensi pasar domestik, khususnya
produk pangan. Hal ini harus dilakukan dengan sinergi yang solid antar para pemangku kepentingan agar ekonomi Indonesia tetap terus berjalan dan kehidupan petani, peternak, dan nelayan semakin maju dan sejahtera,” pungkas Mendag. (ray)

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *