Ini 3 Risiko Global dan Domestik yang Diwaspadai Pemerintah

Oleh rudya

Selasa, 24 Mei 2022

Jakarta, MINDCOMMONLINE.COM  – Pemulihan ekonomi di tahun 2022 terus berlanjut dan makin kuat seiring dengan terus terkendalinya pandemi Covid-19. Pemerintah akan tetap mewaspadai 3 risiko global dan domestik yaitu  kenaikan inflasi;  kenaikan cost of fund ; serta  perlambatan ekonomi sebagai ancaman pemulihan ekonomi akibat dari  eskalasi geopolitik Rusia-Ukraina dan dinamika kebijakan moneter Amerika Serikat. APBN harus menjadi shock absorber atas berbagai gejolak dan tekanan global.

Ke depan harus terus diseimbangkan tiga tujuan yang semuanya sama penting, yaitu: a) menjaga kesehatan dan keselamatan rakyat; b) menjaga kesehatan dan pemulihan ekonomi; dan c) mengembalikan kesehatan APBN.

Guncangan yang terjadi sekarang ini, baik karena kemarin pandemi, sekarang bergeser menjadi guncangan dari sisi komoditas, jadi itulah instrumen APBN sebagai stabilizer, atau shock absorber, atau counter cyclical, semuanya itu adalah terminologi di dalam menggambarkan APBN selalu menjadi instrumen utama dan pertama yang diandalkan rakyat dan perekonomian,”  ungkap  Menkeu Sri Mulyani, Senin.

Kinerja APBN di bulan April  masih mencatatkan surplus, namun transmisi risiko global ke belanja dan pembiayaan perlu diantisipasi dengan upaya optimalisasi yang terus dilakukan. Realisasi Belanja Negara sampai dengan akhir April 2022 mencapai Rp750,46 triliun (27,65 persen dari pagu APBN 2022), tumbuh 3,79 persen (yoy) dari tahun sebelumnya. Realisasi Belanja Negara tersebut meliputi realisasi Belanja Pemerintah Pusat sebesar Rp508,03 triliun dan Transfer ke Daerah dan Dana Desa (TKDD) sebesar Rp242,43 triliun.  Kinerja belanja Kementerian / Lembaga bulan April 2022 mencapai Rp103,6 triliun, lebih tinggi dibandingkan realisasi bulan Maret 2022 (Rp71,4 triliun).

Pertumbuhan realisasi Belanja Pemerintah Pusat periode April 2022 diantaranya didorong realisasi belanja non-Kementerian/Lembaga untuk subsidi, kompensasi BBM, dan pembayaran pensiun (termasukTHR)/jaminan kesehatan ASN. Pemerintah berkomitmen untuk meningkatkan kinerja penyerapan pada bulan-bulan berikutnya melalui penyaluran bansos dan pelaksanaan berbagai program penanganan Covid-19 dan pemulihan ekonomi.

Realisasi belanja subsidi sampai dengan April 2022 mencapai Rp56,63 triliun (27,36 persen dari pagu APBN 2022), atau meningkat 39,01 persen (yoy). Realisasi belanja subsidi energi mencapai 34,59 persen dari pagu APBN 2022 yang utamanya bersumber dari subsidi BBM dan subsidi LPG Tabung 3 Kg yang mencapai Rp34,77 triliun (44,84 persen dari pagu), atau mengalami peningkatan 25,48 persen (yoy). Sementara itu, realisasi subsidi listrik mencapai Rp11,59 triliun atau 20,51 persen dari pagu.

Kemudian, realisasi belanja subsidi nonenergi pada Januari-April 2022 sebesar Rp10,27 triliun, atau 14,08 persen dari pagu APBN 2022Realisasi tersebut terdiri dari realisasi subsidi kredit program sebesar Rp8,34 triliun, subsidi pupuk sebesar Rp1,58 triliun, dan subsidi PSO sebesar Rp0,14 triliun.

Kinerja PC-PEN Tahun 2022 didorong oleh perlindungan masyarakat.  Penanganan bidang kesehatan terutama percepatan vaksinasi terus dilakukan, tunggakan klaim segera diselesaikan dan penguatan pemulihan ekonomi terus berproses. PC-PEN terdiri dari penanganan kesehatan sebesar Rp122,54 triliun, perlindungan masyarakat sebesar Rp154,76 triliun, dan penguatan pemulihan ekonomi sebesar Rp178,32 triliun.

Realisasi PC-PEN hingga 13 Mei 2022 mencapai Rp80,79 triliun (17,73 persen dari alokasi), meliputi: a) Kesehatan Rp15,21 triliun (utamanya untuk pembayaran klaim dan insentif nakes, serta insentif perpajakan vaksin/alkes dan penangan covid melalui dana desa); b) Perlinmas Rp51,09 triliun (PKH, sembako, BLT minyak goreng. BLT Desa, dan kartu pra kerja); c) Penguatan Pemulihan Ekonomi Rp14,48  triliun (pariwisata, ICT dan pangan KL, dan insentif perpajakan).

TKDD melanjutkan pertumbuhan positif seiring perbaikan pemenuhan syarat salur DAU. Sementara penyaluran DAK telah sesuai pola bulananRealisasi Transfer ke Daerah dan Dana Desa (TKDD) sampai dengan 30 April 2022 mencapai Rp242,43 triliun atau 31,50 persen dari pagu APBN 2022Realisasi TKDD tersebut lebih tinggi Rp9,22 triliun atau 3,96 persen (yoy) dibandingkan dengan realisasi periode yang sama tahun 2021 yang didukung kepatuhan daerah yang lebih baik. Realisasi TKDD bersumber dari Transfer ke Daerah (TKD) sebesar Rp220,13 triliun (31,38 persen dari pagu APBN 2022) dan Dana Desa Rp22,30 triliun (32,79 persen dari pagu APBN 2022).

Surplus APBN dan Keseimbangan Primer meningkat.Sementara Pembiayaan Investasi sejalan kinerja dan urgensi penerima investasi dan Pembiayaan utang dilakukan fleksibel merespon dinamika pasar, namun  terukur dan hati-hati.  Pembiayaan investasi terus didorong untuk meningkatkan nilai aset dan manfaat. Pencairan alokasi Pembiayaan Investasi dilakukan berdasarkan analisis kinerja dan urgensi agar dicairkan sesuai dengan kebutuhan penerima investasi dan disertai dengan Key Performance Indicator (KPI) yang terkait dengan investasi untuk meningkatkan akuntabilitas dan dapat dipertanggungjawabkan. Sampai dengan 17 Mei 2022, realisasi pembiayaan investasi mencapai Rp17 triliun, terdiri dari pencairan diantaranya kepada BLU Lembaga Manajemen Aset Negara (LMAN) dan kepada BLU Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP).

Hingga akhir April 2022, realisasi pendapatan negara dan hibah tercatat mencapai Rp853,55 triliun atau 46,23 persen terhadap target pada APBN 2022. Capaian tersebut lebih tinggi Rp268,69 triliun dibandingkan capaian periode yang sama tahun lalu. Kinerja positif pendapatan negara masih terus berlanjut yang juga tercermin dari pertumbuhannya, dimana realisasi pendapatan negara dan hibah tumbuh 45,94 persen (yoy). Secara nominal, realisasi komponen pendapatan yang bersumber dari perpajakan mencapai Rp676,07 triliun, penerimaan negara bukan pajak (PNBP) mencapai Rp177,37 triliun, dan realisasi hibah mencapai Rp0,11 triliun.

Penerimaan perpajakan bersumber dari penerimaan pajak dan realisasinya hingga akhir April 2022 tercatat sebesar Rp567,69 triliun atau telah mencapai 44,88 persen terhadap target pada APBN 2022Realisasi penerimaan pajak tersebut tumbuh 51,49 persen secara yoy. Secara nominal, capaian penerimaan pajak terutama berasal dari penerimaan Pajak Penghasilan (PPh) Nonmigas dan Pajak Pertambahan Nilai serta Pajak Penjualan atas Barang Mewah (PPN/PPnBM), dimana masing-masing kontribusinya terhadap total penerimaan pajak sebesar 60,33 persen dan 33,84 persen. Penerimaan Pajak sangat baik, dampak harga komoditas, pemulihan ekonomi, dan dampak kebijakan (phasing-out insentif fiskal dan PPS)Ke depannya, penerimaan pajak diperkirakan akan mengalami normalisasi.

Realisasi penerimaan komponen perpajakan dari Kepabeanan dan Cukai hingga akhir April 2022 sebesar Rp108,38 triliun atau telah mencapai 44,24 persen terhadap target pada APBN 2022Kinerja penerimaan tersebut tumbuh 37,66 persen (yoy). Secara nominal, penerimaan Kepabeanan dan Cukai didukung terutama oleh penerimaan dari Cukai, khususnya Cukai Hasil Tembakau (CHT) yang kontribusinya mencapai 70,39 persen dari total realisasi penerimaan Kepabeanan dan Cukai.

Realisasi PNBP sampai dengan akhir April 2022 mencapai Rp177,37 triliun (52,86 persen dari pagu APBN 2022)atau tumbuh positif 35,04 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya (yoy). PNBP tumbuh terutama didorong kenaikan pendapatan SDA dan Pendapatan KND

Di tahun 2022, target defisit sebesar 4,85 persen dari PDB dan Pembiayaan Utang dilakukan terukur dan hati-hatiStrategi pembiayaan utang disesuaikan merespon gejolak pasar keuangan, dinamika APBN dan kas, serta demand investor. Penyesuaian strategi utang mulai dilakukan pada akhir Februari 2022, meliputi penyesuaian jumlah penerbitan, tenor penerbitan, timing penerbitan, dan komposisi mata uang.

Pembiayaan Utang sampai akhir April 2022 mencapai Rp155,87 triliun (16,0 persen dari pagu APBN 2022), turun 62,4 persen dibanding periode yang sama tahun lalu. Realisasi Pembiayaan Utang tersebut terdiri atas realisasi Surat Berharga Negara (Neto) sebesar Rp142,23 triliun dan realisasi Pinjaman (Neto) sebesar Rp13,65 triliun yang berasal dari Pinjaman Dalam Negeri sebesar Rp343,90 miliar dan Pinjaman Luar Negeri sebesar Rp13,30 triliun. Sementara pembelian SBN oleh BI sampai dengan 19 Mei 2022 mencapai Rp30,17 triliun (instrumen SUN sebesar Rp15,43 triliun dan SBSN sebesar Rp14,74 triliun), (rud)

        .

 

 

Silakan baca juga

Gunung Lewotobi Laki-Laki Erupsi, BNPB Tambah Dukungan Dana Siap Pakai

Jalan Tol Binjai – Langsa Seksi Kuala Bingai – Tanjung Pura Segera Beroperasi

Kementerian PUPR Jajaki Kerja Sama dengan Finlandia dalam Pengembangan Smart City di IKN

Leave a Comment