48% Minyak Sawit Bersertifikasi RSPO Berasal dari RI

Senin, 9 Juni 2014

Jakarta, MINDCOMMONLINE.COM – Roundtable Sustainable Palm Oil (RSPO) merupakan salah satu jenis dari beragam sertifikasi minyak sawit yang keberterimaannya paling tinggi di pasar ekspor.

Tercatat baru 16% dari produksi minyak sawit dunia memiliki sertifikasi RSPO. “Dari 9,7 juta ton minyak sawit yang bersertifikasi RSPO, Indonesia menyumbang sekitar 48% atau 4,6 juta ton produksi minyak sawit bersertifikasi (certified sustainable palm oil/CSPO) RSPO,” jelas Wakil Menteri Perdagangan Bayu Krisnamurthi  pada pertemuan tahunan European Roundtable Sustainable Palm Oil  di London, pekan lalu.

Pertemuan yang dihadiri oleh lebih dari 100 anggota RSPO ini mengambil tema “100% Certified Sustainable Palm Oil: Our Shared Responsibility”.

Sebagai produsen dan eksportir terbesar minyak sawit dunia,  Bayu menekankan kembali pentingnya minyak sawit bagi Indonesia, sebagaimana pentingnya industri Airbus di Perancis, otomotif di Jerman, atau jasa keuangan di Inggris.

“Minyak sawit bagi Indonesia tidak hanya penting bagi perekonomian nasional, namun menjadi sarana pula bagi pengentasan kemiskinan, pembangunan pedesaan dan sumber mata pencaharian bagi petani,” imbuh Bayu.

RSPO, kata Bayu,  bersifat sukarela. Untuk mendukung komitmen Indonesia terhadap produksi minyak sawit berkelanjutan, maka diimplementasikan regulasi yang mewajibkan perkebunan kelapa sawit di Indonesia untuk memiliki sertifikat Indonesian Sustainable Palm Oil (ISPO) paling lambat 2014.

“Melalui ISPO, target jangka menengah Indonesia untuk dapat mengekspor 100% produksi CSPO diyakini dapat dicapai dalam jangka pendek,” ungkap Bayu.

Wacananya adalah adanya kemungkinan saling dukung antara ISPO-RSPO karena tujuan yang ingin dicapai pun sama yaitu 100% CSPO. Konvergensi antara ISPO-RSPO dimungkinkan karena hanya 11% dari indikator ISPO yang belum tercakup dalam RSPO, sedangkan sekitar 25% dari indikator RSPO yang belum tercakup dalam ISPO.

Berlandaskan pada kesamaan yang cukup banyak itu, diharapkan agar produk yang telah memenuhi persyaratan ISPO juga dapat memenuhi persyaratan RSPO tanpa harus mengulang proses sertifikasi dari awal.

“Perlu ditingkatkan standar dari indikator-indikator pada ISPO, RSPO atau jenis sertifikasi lainnya yang semuanya itu diharapkan dapat mendukung baik produksi maupun ekspor minyak sawit berkelanjutan,” jelas Bayu.

Guna meningkatkan perdagangan produk-produk berkelanjutan, Wamendag mengadakan pertemuan dengan Lord de Mauley, Under Secretary of State for Natural Environment and Science, Department of Environment, Food and Rural Affairs, dan Minister of State for Trade and Investment Lord Livingstone.

Dalam kesempatan tersebut, didiskusikan peningkatan kerja sama perdagangan antara Indonesia–Inggris dan peningkatan investasi, utamanya di sektor infrastruktur. (ra)

Leave a Comment

WP Facebook Auto Publish Powered By : XYZScripts.com