Senin, 23 September 2019
Jakarta,
MINDCOMMONLINE.COM- Sejumlah masyarakat di Pulau Komodo, Kabupaten Manggarai
Barat, bersikeras menolak penutupan pulau Komodo selama satu tahun yang menurut
rencana akan ditutup pada 1 Januari 2020.
“Kami warga di Pulau Komodo ini menolaknya, karena menurut kami justru
akan merugikan kami yang selama ini mata pencahariannya di sektor
pariwisata,” kata Ketua Pemuda desa Komodo, Akbar M kepada Antara di desa
Komodo, Pulau Komodo, Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur (NTT), Senin (23/9).
Hal ini disampaikannya berkaitan dengan wacana penutupan Pulau Komodo yang
direncanakan akan dilakukan pada Januari 2020 mendatang.
“Setelah Sail Komodo tahun 2013 lalu hampir seluruh warga di desa itu
beralih profesi di sektor pariwisata yang sangat menjanjikan,” tutur dia.
Oleh karena itu, menurut dia, jika memang wacana tersebut terealisasi maka
sudah pasti 500 kepala keluarga dengan jumlah warga sekitar 1.800-an jiwa itu
akan kebingungan mencari pekerjaan baru.
Disamping itu juga kata Akbar, warga di Desa Komodo di Pulau Komodo itu juga
sudah sepakat tak ingin dipindahkan ke daerah lain, karena memang mereka adalah
warga pertama yang mendiami pulau itu, sebelum pulau itu ditetapkan sebagai
pulau konservasi.
“Mereka (pemerintah pemprov) bilang akan merelokasi, tetapi kami
menganggap mereka ingin mengusur kami dari pulau ini dengan embel-embel
konservasi. Padahal ada tujuan lain untuk urusan bisnis nanti di pulau
ini,” tambah dia.
Oleh karena itu, kata dia, jangan mengantasnamakan konservasi, tetapi ada
tujuan lain di balik wacana penutupan dan relokasi itu.
Sementara itu seorang warga di Desa Komodo Irvin H juga mulai kebingungan jika
wacana penutupan dan relokasi itu benar-benar terjadi.
“Selama ini untuk menyekolahkan dan menguliahkan anak-anaknya saya dari
hasil saya bekerja di sektor pariwisata. Jika ini terealisasi akan menjadi
masalah buat saya dan keluarga saya,” tuturnya. (ki)