Senin, 30 September 2019
Jakarta,
MINDCOMMONLINE.COM-Bank Indonesia memperkirakan modal asing akan semakin deras
masuk ke negara-negara berkembang termasuk Indonesia, menyusul berlanjutnya
perlambatan pertumbuhan ekonomi global yang direspons dengan pelonggaran
kebijakan moneter negara-negara maju.
Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI Onny Widjanarko mengatakan, melambatnya
pertumbuhan ekonomi dunia semakin terlihat dengan menurunnya volume dan nilai
perdagangan dunia. βHal itu juga sebagai imbas perang dagang Amerika Serikat dan
China yang tak kunjung usai,β katanya dalam pembukaan rangkaian diskusi di
Kuta, Badung, Bali, Sabtu (28/9),
Menurut dia, negara-negara besar di dunia merespons dengan pelonggaran kebijakan
moneter agar mampu menahan perlambatan yang semakin dalam.
Bank Sentral Eropa misalnya, pada 19
September 2019 lalu memangkas suku bunga penyimpanan dana perbankan (deposit
facility/DF) sebesar 0,1% menjadi minus
0,5% agar dana banyak mengalir ke pasar.
Selain itu, seperti yang sudah menjadi konsensus pasar, Bank Sentral AS The
Federal Reserve juga menurunkan suku bunga acuannya sebesar 0,25% ke 1,75%.
Lalu Tiongkok juga melonggarkan kebijakan moneter dengan memangkas kewajiban
bank untuk menempatkan dana cadangan (RRR) sehingga menambah likuiditas
perbankan Negara Tembok Raksasa itu.
“Dunia terlihat dengan kebijakan suku bunga yang probabilitas menurun.
Negara-negara ’emerging market’ bisa kelimpahan modal asing,” ujarnya.
Namun Onny mengingatkan likuiditas yang masuk ke negara-negara berkembang
memiliki tingkat volatilitas yang tinggi. Artinya sewaktu-waktu aliran
likuiditas itu juga dapat keluar tergantung tingkat imbal hasil yang ditawarkan
dan juga iklim investasi di negara yang bersangkutan.
BI, ujarnya, akan menjaga agar imbal hasil aset keuangan domestik atau
berdenominasi rupiah tetap menarik di tengah merebut limpahan likuiditas.
Bank Sentral mencatat aliran modal asing yang masuk hingga 19 September 2019 sebesar
Rp 189,9 triliun.
Kebijakan moneter negara-negara besar yang longgar itu tidak lepas dari
melambatnya proyeksi pertumbuhan ekonomi di lima negara yang menjadi mesin
penggerak perekonomian dunia seperti AS, Eropa, Jepang, China, dan India.
BI meramal pertumbuhan ekonomi dunia pada 2019 hanya sebesar 3,2% dan meningkat terbatas menjadi 3,3% pada 2020.
Sementara itu pertumbuhan ekonomi AS meningkat menjadi 2,3% di 2019, kemudian melambat
menjadi 2,0% di tahun depan.
Sementara itu, pertumbuhan ekonomi domestik diperkirakan BI bisa mencapai 5,1%-5,2%
dan di 2020 menjadi 5,3%. (ki)