Belajar dari Krisis Pangan 2008

Rabu, 25 Agustus 2010

Jakarta,MINDCOMMONLINE.COM –  Waktu dua tahun belum terlalu lama untuk pupus dari ingatan.  Masih segar di benak kita  bagaimana saat itu  perekonomian beberapa negara terguncang, dan berimbas ke  penyediaan pangan. Namun, krisis itu  tak menjalar ke Indonesia. Kalaupun  ada, dampaknya tak separah di negara  lain.

Dalam arahannya pada Sidang Kabinet  Paripurna, Selasa (24/8),  Presiden Susilo  Bambang Yudhoyono mengingatkan para pembantunya  di  bidang ekonomi, untuk belajar dari krisis 2008 dalam mengantisipasi krisis pangan  akibat bencana alam yang terjadi di beberapa negara saat ini.

Menurut Presiden, sikap dasar dan prinsip   dalam menghadapi perkembangan global seperti  saat ini adalah senantiasa antisipatif, kemudian menjalankan semua langkah domestik secara all out dan kemudian selalu siap dengan kontinjensi.

“Menyangkut antisipasi supply dan harga pangan dunia, saya berharap menteri terkait mengikuti secara terus-menerus, karena terus terang dengan bencana alam yang terjadi di berbagai negara telah dinilai mengganggu ketersediaan pangan dunia, global food supply. Kita masih menyaksikan di Pakistan misalnya, di Tiongkok, di India, di Nigeria, dan di tempat-tempat lain sehingga bisa jadi shortage itu cukup signifikan,” dia menjelaskan.

Diingatkannya pula bahwa   sudah ada sejumlah negara yang memutuskan untuk membatasi ekspornya.

“ Itu policy mereka dalam masa krisis sehingga bisa terjadi apa yang kita hadapi di tingkat dunia ini persis seperti tahun 2008, menyangkut harga juga menyangkut supply dari komoditas pangan tertentu. Oleh karena itu, kita harus terus melakukan antisipasi terhadap perkembangan pangan dunia ini,” tegasnya.

Untuk kebutuhan domestik, lanjutnya,   harus  bisa dipastikan bahwa kecukupan pangan itu dapat dipenuhi dengan distribusi yang   berjalan secara efisien dan juga harga pangan yang terjangkau.

Artikel Terkait:   Usia Bukan Halangan untuk Berprestasi

“Oleh karena itu, tiga-tiganya menjadi penting. Panen dari pertanian kita, stok dari yang dikelola Bulog maupun cadangan di tempat lain, pendistribusian sampai dengan pengguna akhir dan harga yang hampir pasti terpengaruh oleh harga pangan dunia. Semua itulah yang saya minta menteri terkait melakukan pengelolaan secara tepat dan terus-menerus. Ambil pengalaman waktu kita melakukan stabilisasi harga pangan pada tahun 2008 yang lalu,” paparnya.

SBY menilai, pemerintah juga harus memiliki  rencana darurat (kontinjensi/plan B), dan menghidupkan kembali  kerja sama   dengan negara-negara sahabat berkaitan dengan pangan.

“Dengan demikian, manakala kita harus melakukan kerja sama pangan itu untuk kepentingan domestik di kala krisis global kalau sungguh terjadi, kita bisa mengatasi masalah yang kita hadapi,” ucapnya.

Dia juga menginstruksikan   Menko Perekonomian dengan jajarannya  untuk melibatkan para gubernur, pimpinan dunia usaha dan pihak-pihak lain untuk menghadapi kemungkinan munculnya permasalahan pangan dunia ini.

“Yang jelas kita dianggap kompeten dulu mengelola krisis pangan atau dampak krisis pangan global di tahun 2008. Yang baik ulangi lagi, kita jaga, kita pertahankan. Policy ataupun langkah-langkah dulu yang kita anggap kurang tepat, kurang efisien, jangan dilakukan, karena kita sudah punya pengalaman menghadapi dan mengatasi masalah seperti ini,” tuturnya.

Mengingat pentingnya masalah pangan tersebut, Presiden  mengingatkan para pembantunya untuk tidak menganggap remeh  persoalan.

“Jangan underestimate, berpikirlah kalau meskipun sudah kita hitung cukup ramalan panen oke, cadangan di pusat oke, di daerah oke, tetapi selalu ada faktor X yang mengubah apa yang kita miliki itu. Dalam kaitan ini, kontinjensi plan diperlukan, plan B diperlukan. Dengan demikian, kalau itu terjadi solusinya ada dan bisa mengatasi masalah,” Presiden menegaskan, (ra)

Artikel Terkait:   Jumlah Kunjungan Wisman Oktober Turun 4,99%

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

WP Facebook Auto Publish Powered By : XYZScripts.com