Belasungkawa Wapres atas Meninggalnya Pendukung Garuda Muda

 

 

Rabu, 23 November 2011

Jakarta, MINDCOMMONLINE.COM –  Final  sepakbola  SEA Games   ke-26 Senin lalu menyisakan duka, baik di dalam maupun luar  lapangan. Di dalam lapangan Garuda Muda  harus mengakui  keunggulan Malaysia setelah kalah adu penalti 3-4 (1-1). Kekalahan ini  membuat Gelora Bung Karno senyap karena puluhan ribu pendukung   diam membisu menyaksikan kekalahan  Timnas U-23.

Sementara di luar lapangan   terjadi tragedi yang tak kalah menyedihkan.   Dua pendukung Timnas  tewas karena  terinjak-injak  sesama suporter saat akan masuk ke dalam stadion.  Kedua korban itu adalah anak muda yang  ingin memberikan dukungannya kepada Garuda Muda. Tragis.

Tragedi ini tak luput dari perhatian pemerintah. Saat menutup SEA Games   ke-26 di Palembang, Selasa (22/11),  Wakil Presiden Boediono  menyampaikan rasa dukanya.

“Sungguh sayang, di tengah keriaan ini terselip kabar duka. Kemarin dua pendukung tim sepakbola Indonesia meninggal. Atas nama Pemerintah maupun pribadi, kepada keluarga yang ditinggalkan saya sampaikan belasungkawa sedalam-dalamnya,” katanya.

Pesta olahraga dua tahunan itu telah berakhir Selasa lalu. Indonesia kembali menjadi juara umum setelah  terpuruk selama  14 tahun.  Semoga   prestasi ini bisa dipertahankan dalam SEA Games berikutnya.

Wapres menegaskan,   pemenang sesungguhnya dari pesta olahraga ini adalah kita semua, bangsa-bangsa Asia Tenggara.

“Melalui SEA Games kali ini, kita tunjukkan kepada dunia prestasi atlet-atlet kita. Melalui SEA Games ini kita tunjukkan kepada dunia betapa masyarakat Asia Tenggara terjalin erat dalam tali persahabatan sejati,” ucapnya.

Khusus kepada Kontingen Indonesia, Wapres  menyampaikan selamat atas keberhasilan menjadi juara umum. “Kita   semua, seluruh Bangsa Indonesia, sangat bangga atas prestasi Anda semua,” tuturnya.

Ya, kita semua bangga atas prestasi atlet-atlet kita  yang  telah  berjibaku  mengharumkan  nama bangsa di kancah SEA Games. Namun  setelah  merayakan kemenangan dan berbagi bonus, perlu dilakukan evaluasi   atas kekurangan  yang ada.

Evaluasi yang paling penting adalah  menyangkut  kepanitiaan  untuk cabang olahraga yang   diminati penonton, seperti sepakbola.  Sebelum final berlangsung,  sudah  terjadi kericuhan berupa pembakaran loket akibat kemarahan penonton yang  sudah mengantre namun  tidak kebagian tiket.

Selain itu, ada pula kasus  tiket palsu yang beredar  pada pertandingan  babak penyisihan sepakbola.

Panitia  sudah mengantisipasi ledakan penonton dengan memasang beberapa layar lebar di luar stadion. Namun rupanya  animo  penonton kelewat besar. Bahkan mungkin melebihi   jumlah penonton saat final piala AFF 2010 lalu.

Serbuan penonton, yang  mungkin di luar dugaan panitia,  rupanya tak bisa dihindari.  Pintu stadion pun jebol sehingga  penonton pun berebutan masuk. Akhirnya terjadilah tragedi itu. Ada yang terhimpit  dan terinjak-injak. Ada yang pingsan, ada pula yang  tak bernyawa lagi. Sungguh malang nasib anak-anak muda itu.

Siapa  yang bertanggung jawab atas tragedi ini? Pemerintah, melalui  Wapres Boediono, sudah menyatakan belasungkawa kepada keluarga korban. Tapi adakah perhatian dari panitia kepada keluarga korban yang ditinggalkan?  Hingga kini  belum ada pihak yang menyatakan bertanggungjawab atas tragedi itu.

Tragedi ini semoga tak lagi terulang. (ra)

 

Leave a Comment

WP Facebook Auto Publish Powered By : XYZScripts.com