BI Berlakukan Peraturan tentang Operasi Moneter

Rabu, 7 Juli 2010

Jakarta, MINDCOMMONLINE.COM – Terhitung 7  Juli 2010, Bank Indonesia (BI)  memberlakukan Peraturan Bank Indonesia (PBI)  Nomor 12/11/PBI/2010 tentang Operasi Moneter.

Dijelaskan dalam PBI itu bahwa  operasi moneter   bertujuan mencapai sasaran  operasional kebijakan moneter  dalam rangka mendukung pencapaian sasaran akhir kebijakan   moneter BI.  Sasaran  operasional kebijakan moneter berupa  suku bunga  pasar uang  jangka pendek.

Pencapaian  sasaran operasional  kebijakan moneter itu dilakukan  melalui  pengelolaan  likuiditas  di pasar uang rupiah   dengan cara absorpsi   likuiditas  dan/atau  injeksi likuiditas.

Operasi moneter sendiri  dilakukan  dengan operasi pasar terbuka (OPT)   dan standing  facilities.  Kegiatan OPT meliputi   penerbitan sertifikat Bank Indonesia (SBI);  transaksi repurchase   agreement (repo) dan reverse  repo  surat  berharga;    transaksi  pembelian   dan penjualan surat berharga secara outright; penempatan  berjangka  (term deposit) di BI; dan jual beli  valuta asing terhadap rupiah.

Khusus penempatan berjangka,    dapat dicairkan   sebelum jatuh waktu   (early redemption)  dengan memenuhi persyaratan  tertentu.

OPT  dapat dilaksanakan   setiap hari kerja , dan pelaksanaannya   dilakukan melalui    mekanisme  lelang  dan/atau nonlelang.

Sementara standing  facilities meliputi penyediaan  dana rupiah (lending facility); dan   penempatan  dana rupiah (deposit facility).  Standing  facilities memiliki  jangka waktu satu  hari kerja, dan  dilaksanakan oleh BI   pada setiap hari kerja. Pelaksanaanya    dilakukan  melalui mekanisme  nonlelang.

SBI

Dijelaskan bahwa  SBI yang diterbitkan oleh BI  memiliki karakteristik   sebagai berikut. Pertama,  berjangka waktu  paling singkat    satu bulan  dan paling lama 12 bulan yang dinyatakan   dalam jumlah hari  dan dihitung  sejak satu hari   sesudah tanggal  setelmen  sampai  dengan  tanggal jatuh waktu.

Kedua, diterbitkan   dan diperdagangkan  dengan sistem diskonto.

Ketiga,  diterbitkan   tanpa warkat.

Keempat,  dapat dipindahtangankan.

BI menatausahakan  SBI  dalam suatu  sistem   penatausahaan   secara elektronis  melalui sistem book   entry  registry  dalam BI-SSSS. Sistem penatausahaan itu mencakup  sistem pencatatan  kepemilikan  dan penyelesaian transaksi SBI.

Sistem pencatatan  kepemilikan SBI   dilakukan tanpa warkat (scripless), dan BI  dapat menunjuk pihak lain   untuk mendukung  penatausahaan  SBI.

Jika pihak  lain yang ditunjuk  untuk mendukung   penatausahaan SBI  tidak dapat memenuhi  persyaratan   yang ditetapkan  BI  atau menghentikan  kegiatan usahanya, BI  berwenang  mencabut  penunjukan  yang telah ditetapkan.

Ditegaskan bahwa dalam jangka waktu  tertentu sejak  memiliki SBI,  pemilik SBI  dilarang   melakukan transaksi  atas SBI  yang dimilikinya  dengan pihak lain. Ketentuan itu  tidak berlaku untuk   transaksi SBI   oleh peserta   operasi moneter  dengan BI.

Pihak lain yang ditunjuk   untuk mendukung penatausahaan  SBI  wajib menatausahakan  SBI milik   nasabahnya   dengan memenuhi ketentuan   dalam PBI  Nomor 12/11/PBI/2010.

Dalam PBI itu dijelaskan pula tentang peserta operasi moneter dan lembaga perantara. Peserta operasi moneter terdiri dari peserta OPT, yaitu bank  dan/atau pihak lain  yang ditetapkan oleh  BI; dan peserta standing  facilities, yaitu bank.

Peserta OPT dapat  mengikuti OPT  secara langsung  dan/atau  tidak langsung  melalui lembaga perantara. Sementara peserta standing facilities  hanya dapat  mengikuti   standing facilities  secara   langsung. (ra)

Leave a Comment

WP Facebook Auto Publish Powered By : XYZScripts.com