Dinamika Perekonomian RI 2014 Membuahkan Tiga Pelajaran Berharga

Kamis, 30 April 2015

Jakarta, MINDCOMMONLINE.COM –  Gubernur Bank Indonesia Agus Martowardojo menilai,   dinamika perekonomian Indonesia pada tahun 2014 membuahkan   beberapa pelajaran berharga bagi upaya mendukung pertumbuhan ekonomi yang berkesinambungan.

Pelajaran pertama yang mengemuka ialah pentingnya menjaga konsistensi kebijakan makroekonomi, baik kebijakan fiskal maupun moneter.

“Terjaganya konsistensi akan menumbuhkan kepercayaan dan kredibilitas kebijakan,” tegasnya pada  Diskusi dan Peluncuran Buku Laporan Perekonomian Indonesia (LPI) 2014 di Jakarta, Rabu.

Pelajaran kedua menunjukkan bahwa  di tengah berbagai tantangan perekonomian yang semakin kompleks dan dihadapkan pada berbagai kerentanan, termasuk tingginya defisit transaksi berjalan dan inflasi, maka dibutuhkan sinergi kebijakan moneter, fiskal, dan reformasi struktural sehingga ekonomi dapat tumbuh lebih
tinggi dengan stabilitas makro yang terjaga.

Pelajaran ketiga adalah pentingnya ketepatan waktu dalam mengambil kebijakan. “Bank Indonesia
memandang bahwa bauran kebijakan sebaiknya dapat diimplementasikan secara tepat waktu (timely) dengan takaran yang terukur (measurable),” jelasnya.

Menurut dia,  meskipun tantangan eksternal dan internal perekonomian nasional ke depan semakin berat, tidak serta merta berarti bahwa prospek pencapaian perekonomian  saat ini gairahnya akan meredup.

“Kami (Bank Indonesia -Red) berpandangan bahwa optimisme tentang perekonomian kedepan tetap
tinggi.  : Dengan optimisme tersebut kami memprakirakan bahwa ekonomi Indonesia dapat tumbuh 5.4 – 5.8 % di 2015, serta 5,6% – 6,0% di 2016, dengan defisit neraca transaksi berjalan yang membaik,” paparnya.

Dengan prognosa tersebut, lanjutnya,  diperkirakan kurs nilai tukar secara riil akan cukup stabil. Untuk memastikan bahwa berbagai program reformasi struktural penopang pertumbuhan ekonomi dapat diimplementasikan, bank sentral  konsisten mengupayakan agar laju inflasi dan ekspektasinya terjangkar pada kisaran sasaran jangka menengah sebesar 4±1%.

” Namun demikian, berbagai prospek positif tersebut tidak serta merta dapat kita raih dengan mudah, karena beberapa risiko dan tantangan ke depan masih mengemuka. Kondisi ekonomi global kedepan masih sarat
akan ketidakpastian. Divergensi kebijakan moneter global akan menyebabkan pasar keuangan dunia rentan terhadap pergeseran persepsi. Risiko guncangan global dapat merambat dengan cepat ke perekonomian kita melalui jalur pasar keuangan, diikuti ke jalur perdagangan,” tuturnya.

Sementara itu,   di dalam negeri masih bergelut dengan berbagai hambatan rigiditas dan ketidakefisienan, yang sudah struktural sifatnya, sehingga membentuk struktur sisi produksi (supply-side) dalam
perekonomian kita menjadi kurang responsif.

“Menimbang keseluruhan konstelasi ekonomi global dan domestik tersebut, mensyaratkan kebijakan moneter yang konsisten berorientasi pada stabilitas, dan kebijakan reformasi struktural yang “tegas” untuk
meningkatkan kapasitas dan daya saing di sisi produksi, sehingga kita berharap perekonomian kita ke depan mampu tumbuh tinggi berkesinambungan dari kekuatan yang “tidak artifisial”,” demikian Agus Martowardojo. (RAy)

 

Leave a Comment

WP Facebook Auto Publish Powered By : XYZScripts.com