Ekonomi Indonesia belum Menunjukkan “Overheating”

Rabu, 4 Juli 2018

Jakarta, MINDCOMMONLINE.COM-Melebarnya defisit neraca perdagangan dan transaksi berjalan Indonesia hingga pertengahan kuartal II 2018 tidak menunjukkan ekonomi Indonesia sedang “overheating” atau bertumbuh melebihi kapasitasnya.

Deputi Gubernur Senior BI Mirza Adityaswara, Selasa (3/7), mengatakan meningkatnya impor Mei 2018 juga karena kebutuhan pembangunan untuk ekonomi jangka panjang.

Mirza mengakui defisit neraca perdagangan Mei 2018 sebesar US$ 1,52 miliar dapat menambah defisit transaksi berjalan yang diperkirakan di atas 2,5%, tapi tidak melebihi 3% dari Produk Domestik Bruto pada kuartal kedua tahun ini.

Adapun sepanjang Januari hingga Mei 2018, defisit neraca perdagangan sebesar US$ 2,38 miliar.

Dalam impor Januari-Mei 2018 itu, kata Mirza, terdapat impor untuk kebutuhan ekonomi jangka panjang yang antara lain adalah impor untuk pembangunan infrastruktur US$ 4 miliar, impor pertahanan US$ 1,1 miliar dan beras US$ 400 juta.

“Jadi sebenarnya neraca perdagangan Januari-Mei-lah yang defisit, kalau dikeluarkan impor infrastruktur di mana untuk pembangunan jangka panjang, neraca perdagangan indonesia itu surplus,” ujar Mirza.

Mirza mengatakan dengan asumsi itulah, meskipun defisit neraca perdagangan dan transaksi berjalan meningkat, ekonomi Indonesia belum “overheating”.

Selain itu, jika melihat indikator lain, seperti pertumbuhan kredit perbankan yang hanya naik 10,2% (yoy) per Mei 2018 dan 2,9%-3% (ytd), ekonomi Indonesia masih dalam proses pemulihan, bukan proses yang menunjukkan agresivitas pertumbuhan.

“Kondisi ini berbeda dengan semester I 2013, saat itu impor tinggi, pertumbuhan kredit tinggi di atas 20%, harga properti juga tinggi. Jadi situasi semester I 2013 mungkin ekonomi yang sedang `overheat`. Tapi sekarang tidak,” kata Mirza.

Bank Sentral memproyeksikan ekonomi Indonesia tahun ini akan tumbuh di 5,2% (yoy). Dengan melebarnya defisit neraca perdagangan, Mirza memperkirakan defisit neraca transaksi berjalan kuartal II di atas 2,5% PDB, tapi tidak melebihi 3% PDB.

Defisit transaksi berjalan pada kuartal pertama tahun ini sebesar 2,15% PDB. (sr)

Leave a Comment

WP Facebook Auto Publish Powered By : XYZScripts.com