Fokus Bangun SDM, Pemerintah Ajak Daerah Susun Kurikulum Vokasi Bagi Sektor Agribisnis

Jumat, 15 Maret 2019

Jakarta, MINDCOMMONLINE.COM – Pengembangan Sumber Daya Manusia (SDM) melalui revitalisasi kualitas pendidikan vokasi terus dipacu pemerintah sesuai dengan Roadmap Kebijakan Peningkatan Kualitas Pendidikan dan Pelatihan Vokasi 2017-2025.

Kali ini, pemerintah pusat menggandeng pemerintah daerah untuk merumuskan kurikulum Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) dan Balai Latihan Kerja (BLK) untuk sektor agribisnis dengan empat kompetensi, yakni Kopi, Teh, Sawit, dan Kakao. 

Workshop kali ini kita fokuskan pada penyusunan kurikulum SMK untuk sektor agribisnis sebagai salah satu dari 6 sektor prioritas dalam roadmap. Tidak hanya itu, kami juga fokuskan workshop kali ini untuk penyusunan kurikulum pelatihan BLK untuk jurusan kopi,” ungkap Deputi Bidang Koordinasi Ekonomi Kreatif, Kewirausahaan, dan Daya Saing Koperasi dan UMKM Kemenko Perekonomian Rudy Salahuddin saat membuka acara Workshop Penyusunan Kurikulum SMK  Sektor Agribisnis, Kamis (14/03), di Batam. 

Workshop ini merupakan workshop kedua dalam rangkaian kegiatan pilot project revitalisasi SMK dan BLK dengan melibatkan Pemerintah Daerah secara aktif. Workshop pertama untuk sektor Pariwisata telah dilakukan pada 19 Februari 2019 di Surabaya, Jawa Timur, yang berfokus pada 3 kompetensi, yakni fashion, usaha perjalanan wisata, dan kuliner.

Pada workshop tersebut telah dilakukan penyusunan kurikulum dan modul Training of Trainers (ToT) yang melibatkan seluruh stakeholder, seperti Industri mitra, SMK, dan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud). Adapun, workshop untuk empat sektor prioritas lainnya, yakni manufaktur, tenaga kesehatan, ekonomi digital, dan pekerja migran, akan dilakukan secara intensif hingga akhir Maret 2019.

“Pasca workshop selesai, Pemerintah akan mengadakan ToT bagi para guru di SMK dan instruktur di BLK dan dilanjutkan dengan mempersiapkan penerimaan siswa baru. Dengan demikian dalam tahun ajaran baru tahun 2019, kurikulum yang telah kita susun dapat dijalankan,” tambah Rudy. 

Artikel Terkait:   Pengunjung TEI 2017 Naik 78%, Transaksi Naik 37,36%

Penyusunan kurikulum SMK ini dipilih pemerintah untuk menjadi fokus utama dalam menindaklanjuti roadmap revitalisasi vokasi. Melalui kerja sama dengan para stakeholder, aspek ini diharapkan mampu menjawab kebutuhan industri dan sesuai dengan tantangan global sekaligus meningkatkan kualitas guru, pelatih, ataupun instruktur dari industri yang mampu mengajarkan kurikulum tersebut. 

“Proporsi ideal kurikulum, haruslah bobot praktek lebih besar dibandingkan teori. Diperlukan juga penentuan lokasi pembelajaran sebagai tempat kerja praktek di industri, sehingga siswa lulusan SMK pilot project ini memiliki kompetensi yang sesuai dengan kebutuhan industri,” pungkas Rudy. 

 Pada workshop sebelumnya, pemerintah pusat dan daerah menyepakati beberapa muatan peminatan kejuruan yang disesuaikan dengan kebutuhan industri. Misalnya, Kompetensi Fashion seluruh muatan perminatan kejuruan di sesuaikan, yang awalnya 13 mata pelajaran peminatan kejuruan menjadi  9 mata pelajaran sebagaimana kebutuhan industri, seperti mata pelajaran trend forecasting, textile knowledge color dan pattern making

Adapun untuk Kompetensi Kuliner dan Perjalanan Wisata, muatan peminatan kejuruan yang menjadi fokus antara lain memasukkan Meeting, Incentive for Business Manage, Convention dan Exhibition untuk Perjalanan wisata, dan Hazard Analysis Critical Control Point untuk Kuliner. 

“Kesuksesan workshop pertama tempo lalu tidak lepas dari peran aktif semua pihak. Keberhasilan pilot project ini membutuhkan dukungan dan kerjasama semua pihak, sehingga harapan Bapak Presiden untuk fokus peningkatan kualitas SDM melalui pendidikan dan pelatihan vokasi pada tahun 2019 dan lima tahun kedepan dapat terwujud,” tutup Rudy. (ray)

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

WP Facebook Auto Publish Powered By : XYZScripts.com