Inilah Tantangan Perekonomian Indonesia 2012

 

Selasa, 13 Desember 2011

Jakarta, MINDCOMMONLINE.COM – Gubernur Bank Indonesia (BI) Darmin Nasution mengingatkan,  asumsi stabilitas  makro ke depan akan terus berlanjut  dapat menyebabkan  terjebak  pada  zona kenyamanan  yang melunturkan  kemampuan  mengantisipasi  tantangan ke depan secara lebih dini.

Menurut dia,  perekonomian 2012 akan menghadapi tantangan, baik eksternal maupun domestik. Tantangan eksternal  yang semakin  menguat intensitasnya adalah terkait risiko kerentanan  pemulihan ekonomi global,   yang dapat lebih buruk  dari perkiraan awal .

“Ini mengingat kompleksitas krisis yang  dihadapi  Eropa  dari jeratan utang, dapat cukup berpengaruh terhadap  ekonomi global.  IMF memperkirakan pertumbuhan  ekonomi global  di 2012   akan mencapai  4%. Namun dengan skenario  downside risk ini, IMF memperkirakan  kemungkinan besar akan merosot di bawah 2%,” Darmin memaparkan dalam forum  Pertemuan Tahunan Perbankan 2011 di Jakarta, pekan lalu.

Dengan potret buram tersebut, dia melanjutkan,  mesin pertumbuhan ekonomi  nasional akan  bergantung pada  efektivitas daya  serap sumber-sumber pertumbuhan domestik  dan kemampuan  memanfaatkan pasar domestik.

“Kemampuan   untuk menjaga momentum  pertumbuhan akan  terbatas bila intermediasi  perbankan  dan penyerapan  belanja fiskal  berjalan  secara suboptimal,” katanya.

Dari tantangan domestik, Darmin menambahkan, masih banyak pekerjaan rumah  yang perlu dituntaskan, bahkan beberapa diantaranya  merupakan beban bawaan yang ditanggung dari tahun ke tahun dan melahirkan “inefisiensi”  dalam perekonomian.

“Di pasar keuangan,  industri perbankan nasional  pascakrisis 1998  telah jauh  lebih tangguh. Namun kontribusinya  dalam  pembangunan  ekonomi nasional  masih suboptimal,” tuturnya.

Pada kesempatan itu Darmin memaparkan gambaran paradoksial   pada sejumlah fakta.  Rasio total  aset industri perbankan  terhadap PDB  di Indonesia, misalnya, telah mencapai 47,2%  (September 2011). Namun  rasio  penyaluran kredit terhadap PDB hanya  29% (September 2011).

Artikel Terkait:   Ini 9 Komoditas Unggulan yang Didorong Masuk e-Smart IKM

Sebagai perbandingan,  data Bank Dunia  memperlihatkan rasio  penyaluran kredit  perbankan terhadap PDB  di Malaysia, Thailand dan Cina  masing-masing 114%, 117%,  dan 131%.

“Fakta ini menggambarkan  demikian strategisnya perbankan di ketiga negara tersebut dalam menentukan  denyut nadi  perekonomian, meskipun  pertumbuhan kreditnya  lebih rendah dari  Indonesia,” dia menjelaskan.

Sementara itu,  pangsa kredit  bank dari total  pembiayaan  perusahaan sangat minim. Untuk modal kerja hanya 25% dan untuk investasi  hanya 21%.

Sebaliknya,  dana internal  merupakan sumber  utama  pembiayaan perusahaan, yaitu  61% untuk investasi  dan 48%  untuk modal kerja.

“Tingginya  aset industri perbankan  kita tidak diikuti secara seimbang  dengan peningkatan   kontribusinya  bagi perekonomian. Ini  karena terdapat bagian dari aset perbankan, yang dari perspektif  makro tidak  produktif, yaitu dalam bentuk ekses likuiditas yang ditempatkan dalam instrumen  moneter dan Surat Berharga Negara (SBN),” Darmin memaparkan. (ra)

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

WP Facebook Auto Publish Powered By : XYZScripts.com