KKP Ajak Akademisi Kawal 3 Pilar Pembangunan Kelautan

Kamis, 20 September 2018

Jakarta, MINDCOMMONLINE.COM  –   Pemerintah telah menjadikan laut masa depan bangsa sebagai visi dalam membangun sektor, kelautan dan perikanan. Selain itu, Indonesia sebagai poros maritim dunia juga menjadi fokus utama pemerintah Presiden Joko Widodo – Jusuf Kalla yang tercantum dalam Nawacita. Dalam mengemban amanat tersebut, Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) menerjemahkannya ke dalam tiga pilar pembangunan, yakni kedaulatan, keberlanjutan, dan kesejahteraan.

Kepala Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan (BRSDM KP) Sjarief Widjaja mengungkapkan, kedua amanat tersebut seyogyanya harus dijalankan secara kontinuitas dan dijaga keberlanjutannya. Sjarief menyebut, ketiga pilar tersebut merupakan faktor penting dalam menjalankan amanat tersebut.

“Kalimatnya sederhana. Laut Masa Depan Bangsa. Tapi pemikirannya sangat dalam karena laut punya dimensi teritorial. Bahwa ini milik kita. Ini adalah wilayah kita yang harus kita jaga,” ucapnya   saat mengisi kuliah umum  di UGM,  Selasa (18/9).

Hadirnya Sjarief dalam kuliah umum tersebut, sekaligus menggantikan Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti yang berhalangan hadir. Kepada para mahasiswa, Sjarief mengajak agar dapat menumbuhkan keberanian, seperti yang dilakukan oleh Ir.Juanda, yang berhasil mendeklarasikan, laut di antara pulau besar Indonesia, seperti Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, dan Jawa adalah milik Indonesia.

“Bayangkan kalau seorang Juanda tidak berani mendeklarasikan Deklarasi Juanda, laut hanya dari pinggir pantai 3 mil saja. Bayangkan kalau di atas 3 mil semua negara bisa datang ke situ. Negara kita terpecah-pecah dan terpisah-pisah karena laut. Kalian generasi muda harus punya semangat itu juga, menjaga laut kita,” kata   Sjarief, dikutip laman Kementerian Kelautan dan Perikanan.

Sjarief juga menyebutkan, pada 1982, setelah status negara kepulauan diakui dunia dalam sidang PBB, wilayah lautan Indonesia meningkat luar biasa, bahkan melebihi dari luasnya daratan. “Indonesia naik luar biasa. Daratan kita hanya 2,1 juta km, laut kita 5,80 juta km, jadi total 8 juta km persegi wilayah Indonesia. Ini sama dengan luas Amerika,” jelasnya.

Artikel Terkait:   Pertamina EP Temukan Cadangan Migas di Indramayu

Menilik hal tersebut, Indonesia yang memiliki luas 8 juta km persegi, tidak dibarengi dengan adanya peningkatan kontribusi sektor perikanan, yang hanya mencapai 3,89%. Menurut Sjarief, hal ini disebabkan karena kurangnya perhatian pemerintah saat itu kepada sumber daya laut. Sehingga pembangunan saat itu, terkonsentrasi di daratan saja.

“Kalau dilihat seperti itu, kita ini seperti negara yang sedang tidur karena wilayah dengan lautan yang luas, belum berkontribusi secara maksimal. Pertanyaanya sederhana. Mengapa itu terjadi? Karena kita berkonsentrasi pada daratan,” ungkap Sjarief.

Selain itu, keluar masuknya kapal pencuri ikan secara bebas juga menjadi penyebab berkurangnya stok ikan di Indonesia. Kejahatan yang dibarengi dengan pencurian ikan pun perlahan mulai terbongkar, seperti penyelundupan obat-obat terlarang, penyelundupan hewan dan tumbuhan yang dilindungi, hingga perbudakan dan perdagangan manusia.

Setelah melewati empat tahun kinerja, KKP telah berhasil menangani berbagai permasalahan tersebut, dengan konsisten menjalani tiga pilar pembangunan. “Rasanya mungkin perlu berpikir sebuah proses. Proses yang diambil Pemerintah, kalau dilakukan dengan tepat, pada waktu yang tepat, maka efeknya akan bagus. Ini dapat kita pelajari selama empat tahun belakangan ini. Bahwa dengan satu kalimat, pergerakan, dan konsisten maka dampaknya luar biasa,” terang Sjarief.

“Terakhir kesimpulannya bahwa satu kebijakan kalau diberikan dengan tepat, istilahnya dengan benar maka multiplier effectnya banyak. Oleh sebab itu kita harus menjaga cara bagaimana kita harus menghitung neraca, neraca ikan nasional, kakap aman, tuna aman,” tambahnya.

Sjarief juga mengajak peserta kuliah umum mengurangi penggunaan sampah plastik. Hal ini mengingat Indonesia menjadi salah satu negara penyumbang terbesar sampah plastik di lautan. “Kemudian sampah plastik. Mari kita kurangi pemakaian plastik. Suatu saat nanti jumlah plastik lebih banyak dari pada ikan. Indonesia masuk penyumbang terbesar di dunia dan nomor satu cinta dan di lanjutkan dengan Filipina dan Vietnam ini setelah Indonesia,” tutupnya.

Artikel Terkait:   US$ 2,5 Miliar, Defisit Neraca Pembayaran Triwulan II-2013

Dalam acara tersebut, sebanyak 1,3 ton ikan disajikan untuk makan bersama-sama peserta kuliah umum bertema Laut Masa Depan Bangsa.

Ketua Lustrum XI Fakultas Teknologi Perikanan UGM Benjamin Mangitung mengungkapkan, acara ini sekaligus dukungan untuk program Gerakan Memasyarakatkan Makan Ikan (Gemarikan) yang dikampanyekan pemerintah.

“Ikan sebanyak itu diolah oleh sekitar 25 chef profesional dari Indonesian Chef Association. Ikannya dijadikan berbagai macam, ada ikan asam manis, kakap panggang, dan bumbu kuning. Sekitar 1.500 peserta kuliah umum kebagian semua dan mereka menikmati,” imbuhnya. (rud)

 

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

WP Facebook Auto Publish Powered By : XYZScripts.com