Membangung Demokrasi Tak Bisa Instan

Senin, 11 Juli  2011

Jakarta, MINDCOMMONLINE.COM –   Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mengingatkan,   membangun demokrasi konstitusional yang matang  bukanlah proses sekali jadi. Sukses tidaknya perwujudan demokrasi konstitusional yang matang, sering ditentukan oleh tingkat pendidikan sebuah bangsa, kondisi kehidupan ekonomi rakyat, serta karakter kehidupan masyarakatnya.

“Bagi kita semua, termasuk bangsa Indonesia, kita perlu terus meningkatkan kualitas pendidikan rakyat kita, kondisi ekonomi dan kesejahteraan mereka, serta kehidupan masyarakat yang baik di negara kita masing-masing,” SBY menjelaskan   saat menyampaikan sambutan dan pidato kunci pada acara  peresmian  pembukaan  Simposium   Internasional Constitutional  Democratic  State   dalam  rangka  Peringatan  Ulang Tahun ke-8 Mahkamah Konstitusi,  Senin (11/7).

Menurut dia, jalan demokrasi di Indonesia   berbeda dengan jalan yang ditempuh oleh Amerika Serikat, Turki, Jerman, Korea Selatan, Thailand, dan negara-negara lainnya.  Hal itu dikarenakan tiap  negara  memiliki perspektif tersendiri dalam menerapkan nilai-nilai demokrasi.

Bagi Indonesia, dia menambahkan,  demokrasi merupakan sistem yang dipilih sejak awal negara ini didirikan. Di dalam konstitusi Indonesia, gagasan demokrasi tidak pernah tergantikan walaupun konstitusi dan rezim pemerintahan telah beberapa kali mengalami perubahan.

“Dengan demikian, demokrasi dengan segenap nilai luhur dan nilai universalnya, telah melekat sepanjang sejarah, rakyat dan bangsa ini. Demokrasi di Indonesia, selain seiring dan sejalan dengan modernitas, juga didasarkan atas falsafah Pancasila yang menjadi pondasi negara Indonesia,” paparnya.

Pada kesempatan itu SBY menyatakan rasa syukur karena  transisi demokrasi di Indonesia  dapat  dilalui dengan  relatif  lancar.

Dia menilai, transisi demokrasi merupakan fase kritis yang sangat menentukan masa depan demokrasi itu sendiri.  Sebab bisa saja dalam masa transisi, demokrasi yang hendak bersemi tiba-tiba berubah layu tanpa harapan.

Artikel Terkait:   Pengundian Nomor Urut

Bisa pula   negara  bersangkutan   tergoda untuk kembali ke era otoritarian, atau bisa jadi demokrasi yang lahir menjadi kebablasan sehingga tidak sesuai dengan nilai-nilai luhur demokrasi itu sendiri.

Alhamdulillah, Indonesia berhasil keluar dari transisi demokrasi yang berbahaya, karena proses demokratisasi berada dalam koridor konstitusional. Selama fase transisi demokrasi, negara dan pemerintah melakukan reformasi politik dengan memulainya dari reformasi konstitusi. Reformasi konstitusi disesuaikan dengan tuntutan Indonesia baru yang lebih demokratis,” tuturnya.

SBY juga membanggakan  penerapan nilai-nilai demokrasi di Indonesia  yang  menunjukkan kemajuan yang sangat cepat, dan  Indonesia telah tampil sebagai negara demokrasi terbesar ketiga di dunia, setelah Amerika Serikat dan India.

Namun diakuinya pula bahwa   proses demokrasi ke arah yang lebih baik belum selesai mengingat  proses demokrasi masih terus berjalan. Sementara proses demokrasi tidak hanya pada tataran normatif legal formal, tetapi yang lebih utama pada tataran implementasi secara konsisten ke dalam praktik-praktik yang lebih substantif.

“Kita ingin di era reformasi gelombang kedua, demokrasi tidak hanya tumbuh mekar, tetapi juga berbuah dalam bentuk kesejahteraan rakyat yang makin meningkat. Demokrasi yang kita bangun, esensi dan tujuan utamanya adalah untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat,”demikian SBY. (ra)

 

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

WP Facebook Auto Publish Powered By : XYZScripts.com