Penambahan SBI 12 Bulan Tak Ciptakan Crowding – out di Pasar Uang

Rabu, 7 Juli 2010

Jakarta, MINDCOMMONLINE. COM  –  Bank Indonesia (BI) menegaskan,   penerbitan sertifikat Bank Indonesia (SBI)  12 bulan  tidak dimaksudkan untuk menciptakan crowding- out di pasar  uang, namun untuk  pengayaan   instrumen  tenor terpanjang, sehingga dapat lebih   efisien  dalam mekanisme    pembentukan harga.

“Penerbitan  SBI  12 bulan dapat berfungsi membantu  dalam pembentukan harga  apabila dalam   masa krisis surat perbendaharaan negara (SPN)  tidak dapat  diterbitkan karena  pertimbangan yield yang terlalu tinggi atau tidak   wajar,” demikian dijelaskan dalam artikel bertajuk Dibalik  Paket Kebijakan  Bank Indonesia 16 Juni 2010, yang dilansir BI Jumat (25/6).

Posisi  SPN per  15 Juni 2010   sebesar Rp 27 triliun, atau sekitar 10%  dari total   posisi SBI.

Diterangkan pula bahwa  dengan penjarangan lelang SBI,  pelebaran koridor, dan penyerapan   kelebihan  likuiditas  yang lebih   permanen melalui SBI 6 dan  12 bulan akan mendorong  peningkatan   ‘demand creation’  di pasar uang   pada tenor jangka pendek.

“Ini akan  menjadikan   pasar uang  lebih berkembang, yang pada gilirannya  dapat meningkatkan   peran pasar uang   dalam transmisi  kebijakan moneter,” bank sentral  berpendapat.

Paket Kebijakan 16 Juni  meliputi pelebaran  koridor  suku bunga  Pasar Uang Antarbank (PUAB) O/N;  penyempurnaan ketentuan   mengenai  posisi  devisa netto (PDN);   dan penerapan  minimum one month holding  period  SBI.

Selanjutnya,   penambahan instrumen  moneter  nonsecurities  dalam bentuk   term deposit;  penerbitan SBI   berjangka waktu 9  dan 12 bulan; serta  penerapan mekanisme   triparty  repurchase (repo)   surat berharga negara (SBN).

Dijelaskan bahwa  berbagai kebijakan   yang tertuang  dalam Paket Kebijakan  16 Juni saling  terkait satu sama lain dan  merupakan bagian   dari grand design penyempurnaan  operasi moneter, yang secara   umum diarahkan   untuk mendorong  pasar uang rupiah dapat berfungsi  lebih baik sehingga meningkatkan  peran pasar uang dalam transmisi kebijakan moneter.

Menurut BI,  kebijakan pelebaran koridor  suku bunga PUAB Overnight  dapat membantu  pendalaman  pasar uang.   Sebab pelebaran koridor mendorong  perbankan untuk   tidak  tergantung   pada BI  dalam mengelola   kelebihan  likuiditas  jangka pendek.

Selama ini, BI mengungkapkan,   volume transaksi  di PUAB sangat rendah  karena perbankan  sangat  tergantung   pada BI untuk  menempatkan  likuiditas   jangka  pendek.

“Ini tercermin    dari tingginya  volume  harian  FASBI  dan FTK  yang jauh di atas  volume PUAB,” BI menjelaskan.

Bank sentral menambahkan, dengan   menjarangkan lelang SBI   menjadi bulanan  dari sebelumnya mingguan   serta dilebarkannya   koridor suku bunga  PUAB O/N akan mendorong   bank untuk   terlebih dahulu  bertransaksi   di pasar   uang antarbank, sebelum   menempatkan  kelebihan   likuiditas  ke BI  melalui standing  deposit  facilities  (BI Rate-100 bps)  atau meminjam   dari BI   melalui standing  lending  facilities  (BI Rate + 100 bps).

Sebelumnya,    spread yang relatif sempit   antara rate  FASBI dengan BI Rate (50 bps) menjadi penyebab utama bank-bank   memelihara  dana hariannya  dalam volume  yang jauh   di atas kebutuhan   hariannya sehingga kurang  optimal  menciptakan demand creation  di PUAB yang  volume hariannya   masih sekitar Rp 10 triliun. (ra)

Leave a Comment

WP Facebook Auto Publish Powered By : XYZScripts.com