Tenaga Kerja Bersertifikat Kurang dari 10%

Kamis, 7 Juni 2018

Jakarta, MINDCOMMONLINE.COM  –  Dirjen Bina Konstruksi Kementerian PUPR  Syarif Burhanuddin mengingatkan bahwa pertumbuhan rata-rata tenaga kerja konstruksi masih belum mencukupi, yaitu baru 6% dibandingkan dengan pertumbuhan rata-rata nilai konstruksi sebesar 21% / tahun.  Sementara tenaga kerja konstruksi yang bersertifikat juga masih di bawah 10%.

“Oleh karena itu, kemampuan pemberdayaan tenaga kerja konstruksi perlu ditingkatkan, dan menjadi tanggung jawab kita (stakeholder jasa konstruksi) bersama untuk mencetak tenaga ahli dan terampil agar siap memenuhi target pembangunan infrastruktur yang telah dicanangkan,”  ungkap Syarif  saat membuka acara Sosialisasi Ajar Mitra Konstruksi dan Identifikasi Pelatihan Bidang Jasa Konstruksi, Kamis (7/6) di Bandung.

 Kementerian PUPR memberikan inovasi dalam upaya memenuhi target tenaga kerja konstruksi bersertifikat untuk mendukung percepatan pembangunan  infrastruktur. Salah satu inovasi tersebut adalah melalui Pembelajaran dan Pelatihan Mandiri Tenaga Terampil Konstruksi (Ajar Mitra Konstruksi).

Ajar Mitra Konstruksi adalah suatu proses pelatihan konstruksi yang dilakukan oleh instruktur mandiri, dalam hal ini oleh mandor/kepala tukang/ pelaksana lapangan/ pengawas, kepada tukang secara On the Job Training/ on site.

“Kebutuhan tenaga kerja konstruksi yang tinggi tidak bisa kita penuhi jika masih menggunakan pola ‘business as usual’, harus ada inovasi agar dalam waktu singkat namun bisa menghasilkan tenaga kerja konstruksi bersertifikat. Salah satunya adalah dengan menggandeng mitra kerja seperti : Kementerian/Lembaga, Pemda, LPJK, asosiasi-asosiasi, BUJK, kontraktor proyek, maupun masyarakat,” jelas Dirjen   Syarif Burhanuddin

Melalui pola ini diharapkan akan tercipta efisiensi, efektivitas, dan percepatan untuk meningkatkan kapasitas tenaga kerja konstruksi menjadi terampil, yang kemudian dapat mengikuti uji kompetensi dan disertifikasi. Ajar Mitra Konstruksi dan Identifikasi Pelatihan Bidang Jasa Konstruksi ini dilakukan oleh Kementerian PUPR sebagai bentuk pemberdayaan melalui peningkatan kapasitas para stakeholder Jasa Konstruksi, yaitu Provinsi/Pemda/Pemkab, Balai Jasa Konstruksi, Badan Usaha Jasa Konstruksi dan seluruh pihak terkait lainnya.

Dengan demikian Ajar Mitra Konstruksi dapat tersebar luas dan segera dilaksanakan oleh stakeholders konstruksi, serta di saat yang bersamaan teridentifikasi proyek-proyek yang berpotensi untuk diterapkan Pelatihan Mandiri di Daerah.

Sebelumnya, kegiatan Ajar Mitra Konstruksi dan Identifikasi Pelatihan Bidang Jasa Konstruksi ini sudah dilakukan di tiga kota, yaitu  Medan, Surabaya, dan Manado.Terwujudnya kegiatan ini tak mungkin dapat terwujud tanpa adanya dukungan dan kerjasama yang baik diantara para Stakeholder.

Di masa mendatang diharapkan semakin banyak para pemangku kepentingan konstruksi mengimplementasikan ajar mitra konstruksi, sebab dengan semakin banyak tercetak tenaga kerja konstruksi, semakin tinggi pula daya saing bangsa. (udy)

Leave a Comment

WP Facebook Auto Publish Powered By : XYZScripts.com