Wapres Boediono: Terimakasih, Muhammadiyah!

Kamis, 8 Juli 2010

Jakarta, MINDCOMMONLINE.COM –  Wakil Presiden Boediono menyatakan, Muhammadiyah telah dan akan mampu mencapai hasil luar biasa melalui kepeloporan di bidang pendidikan, kesehatan, ekonomi dan bidang-bidang lain. Jaringan Muhammadiyah tersebar hingga ke pelosok Nusantara. Jumlah anggotanya amat besar.

“Saya sendiri adalah contoh hidup kontribusi Muhammadiyah itu. Saya menyelesaikan fondasi pendidikan saya di SD Muhammadiyah di Kota Blitar, lebih dari setengah abad yang lalu.  Saya sekarang dapat berdiri disini, di depan para hadirin sekalian, antara lain karena Muhammadiyah.  Terimakasih, Muhammadiyah!,” katanya dalam sambutan pada  penutupan Muktamar Muhammadiyah Ke-46, Muktamar Aisyiah Ke-46 dan Ikatan Pelajar Muhammadiyah Ke-17 di Yogyakarta, Kamis (8/7).

Menurut Wapres,  pemerintah mendapat amanah yang sama dengan Muhammadiyah, yaitu meningkatkan kesejahteraan rakyat, kesejahteraan umat. Tugas ini memerlukan sinergi antara seluruh komponen masyarakat.

“Saya yakin ada ruang dan peluang lebar bagi Muhammadiyah bersama Pemerintah, dapat bahu-membahu melaksanakan amanah yang amat mulia itu,” ucapnya.

Wapres menilai, Muhammadiyah adalah aset bangsa yang tak ternilai, dan merupakan  bagian yang tak terpisahkan dari bangsa ini.

“Tidaklah berlebihan apabila kita katakan bahwa Muhammadiyah adalah milik bangsa ini. Sebaliknya, Pemerintah yang dipilih secara demokratis oleh rakyat adalah milik rakyat, milik umat, milik para anggota Muhammadiyah.  Rasa saling memiliki antara Muhammadiyah dan Pemerintah    adalah landasan kuat untuk kita bersama-sama mencapai tujuan bersama  yaitu kesejahteraan rakyat Indonesia,”  paparnya.

Tantangan

Pada kesempatan itu Wapres juga menjelaskan tantangan yang dihadapi  umat Islam di Indonesia dan di negara lain.  Salah satu tantangan utama adalah  memerangi kesenjangan kesejahteraan yang ditunjukkan oleh Indeks Pembangunan Manusia (Human Development Index) atau Millennium Development Goals PBB.

Wapres  yakin, seperti yang dilakukan selama ini, Muhammadiyah akan terus ikut turun tangan mengatasi tantangan itu.  Kiprah Muhammadiyah di dunia pendidikan, kesehatan, ekonomi, dan berbagai kegiatan sosial lainnya sudah terbukti memiliki   rekam jejak cemerlang dan sangat panjang.

“Menghadapi tantangan-tantangan baru, saya yakin para ulama dan cerdik-cendekia Muhammadiyah  akan dapat melahirkan gagasan-gagasan baru, cara-cara baru, program-program baru,” katanya.
Mengutip  laporan PBB, Wapres  mengungkapkan  dalam beberapa dekade mendatang, terdapat empat mega trends demografi yang akan mengubah wajah dunia.Keempat mega trend tersebut adalah pertama, penduduk di negara maju akan terus berkurang dibanding penduduk negara-negara berkembang.  Ini akan menjadi faktor penting mengapa akan terjadi pergeseran kekuatan ekonomi dari negara maju ke negara berkembang. Kebangkitan raksasa ekonomi Cina dan India adalah tanda-tanda jaman.  Yang lain pasti akan menyusul.

Mega trend yang kedua adalah bahwa di negara-negara maju, penduduk usia tua akan mendominasi populasinya. Ini akan mengakibatkan rendahnya pertumbuhan ekonomi di negara maju dan pada saat yang bersamaan akan  meningkatkan permintaan imigran tenaga kerja. Implikasinya adalah bahwa pergerakan manusia antar negara akan makin meningkat, dengan segala konsekuensi sosial, politik, ekonomi dan keamanan.

Trend yang ketiga menyebutkan bahwa pusat-pusat pertumbuhan penduduk akan terkonsentrasi di negara-negara Islam. Enampuluh tahun lalu, Bangladesh, Indonesia, Mesir, Nigeria, Pakistan dan Turki bersama-sama memiliki penduduk 242 juta. Pada tahun 2009, total penduduk di enam negara tersebut telah mencapai hampir empat kalinya, yaitu 886 juta. Hingga 2050, penduduk  negara-negara ini diperkirakan menjadi lebih dari 1,3 miliar. Ini angka yang amat fantastis dan akan mempunyai konsekuensi besar terhadap perimbangan global.

Adapun mega-trend keempat adalah bahwa sebagian besar populasi dunia akan tinggal di perkotaan. Manusia semakin meninggalkan desa. Sementara kota-kota seperti Mumbai, Shanghai, termasuk juga Jakarta, akan tumbuh menjadi kota dengan jumlah penduduk terbesar di dunia. Peningkatan kepadatan penduduk yang terjadi akan menimbulkan berbagai persoalan yang terkait dengan urbanisasi.

Indonesia,kata Wapres,  jelas akan berada di tengah-tengah kancah pergeseran sejarah itu. Dalam satu dekade mendatang, penduduk Indonesia akan didominasi oleh kaum muda, berusia di antara 16-65 tahun.
Menurut Wapres, Dekade ini membuka peluang emas, tapi sekaligus membawa tantangan berat.
Di satu sisi, masa transisi itu akan dapat memberikan apa yang disebut “bonus demografi”. Dengan struktur kependudukan yang “muda”seperti itu, lebih mudah untuk mendorong  pertumbuhan ekonomi.

Di sisi lain, perubahan struktur demografi ini akan menimbulkan tantangan yang amat besar.
Tantangan di sektor pendidikan, kesempatan kerja dan penyediaan modal usaha akan menjadi permasalahan pelik yang menuntut respon segera.

Wapres menilai,   sebagian besar dari peningkatan jumlah penduduk itu akan  tinggal di kota.  Dan ini akan beimplikasi luas pada penyediaan fasilitas. Infrastruktur perkotaan, sanitasi, pelayanan kesehatan akan menjadi kebutuhan mendesak. Mengantisipasi dampak mega trend ini dengan program-program nyata adalah tugas besar kita bersama.

Dalam perubahan yang begitu dahsyat itu, Boediono menjelaskan,  tak bisa tidak Muhammadiyah akan dapat dan bahkan wajib memainkan peranan yang penting bersama komponen-komponen bangsa lain, untuk menjawab tantangan bangsa kita.  Sebagai organisasi sosial yang ingin melihat kemajuan dan kesejahteraan rakyat Indonesia Muhammadiyah pasti tidak akan berdiam diri.

“Muhammadiyah sendiri sudah merumuskan tujuan ingin mewujudkan peradaban yang utama, peradaban khaira ummah, umat terbaik. Ini sungguh selaras dengan tujuan pembangunan nasional kita yakni mensejahterakan rakyat.  Muhammadiyah, saya percaya, pasti berada di garis depan dalam perjuangan ini,” demikian Wapres Boediono. (ra)

Leave a Comment

WP Facebook Auto Publish Powered By : XYZScripts.com