Harga Tembakau Anjlok

Rabu, 25 September 2019

Jakarta, MINDCOMMONLINE.COM – Para petani di Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur, mengeluhkan anjloknya harga tembakau. Kini hargnya hanya mencapai Rp 32.000 per kilogram.

Kondisi ini mengakibatkan petani tembakau terpaksa harus menerima kerugian. Pasalnya, dengan harga tersebut, berdampak tidak imbang pendapatan dengan pembiayaan perawatan tembakaunya, serta mahalnya obat-obatan ditambah mahalnya harga pupuk.

Menurut Munir, salah satu petani, jika dibandingkan dengan harga tahun 2018 lalu, bisa mencapai Rp 38.000 – 40.000 per kilogram. Seharusnya, katanya, pada masa awal panen seperti saat ini, harga tembakau cukup tinggi. Tapi yang terjadi harga tembakau malah anjlok.

“Dengan harga Rp 32.000 hingga 34.000 saat ini, tidak mampu menutupi besarnya biaya perawatan dan biaya pekerja. Kalau harganya Rp 38.000 itu masih bisa ada untungnya. Padahal ini sudah daun bagian tengahnya yang kita panen,” kata Munir, kemarin.

Munir mengatakan, biasanya jika daun tembakau semakin ke atas panennya, harganya semakin mahal, namun kali ini harganya semakin merosot. Untuk harga daun bagian bawah, saat ini harganya Rp 24.000 hingga 26.000 per kilogram.

“Jika harga seperti ini sampai masa panen habis, maka kita sebagai petani tak bisa mengharapkan dari tanaman tembakau tahun 2019 ini. Selain rugi tenaga, kita petani juga rugi segalanya,” kata Munir menambahkan.

Harga tak Konsisten

Sementara itu, Ketua APTI (Asosiasi Petani Tembakau Indonesia) Kabupaten Probolinggo, Mudzakir mengungkapkan, harga tembakau saat ini memang tidak konsisten, harganya merosot yaitu Rp 34.000 per kilogram.

“Seharusnya harga itu harus di pertengahan bulan Oktober 2019, kalau sekarang harusnya harga itu masih lumayan tinggi, kasihan petani. Kami minta kepada pihak gudang untuk menaikan harga tembakau ini,” kata Mudzakir mengungkapkan.

Mudzakir menilai, salah satu pemicu anjloknya harga tembakau ini karena pihak gudang mengambil tembakau dari Situbondo, padahal seharusnya murni mengambil tembakau dari Kabupaten Probolinggo saja. Jika masih ambil tembakau dari luar, maka harga tembakau di Probolinggo tak akan pernah naik harganya, jauh lebih mahal dari tahun sebelumnya. (au)

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *