Indonesia Berpeluang Jadi Industri Mutiara Terbesar Dunia

Senin, 25 NOvember 2019

Jakarta, MINDCOMMONLINE.COM – Hari ketiga gelaran Indonesia Pearl Festival (IPF) ke-8 Tahun 2019 dihadiri Menteri Kelautan dan Perikanan, Edhy Prabowo. Menteri Edhy hadir didampingi Sekjen Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), Nilanto Prabowo, Dirjen Penguatan Daya Saing Produk Kelautan dan Perikanan (PDSPKP), Agus Suherman, Penasehat Dharma Wanita Persatuan (DWP) KKP, Iis Edhy Prabowo, beserta Ketua DWP KKP, Muttiah R.S. Nilanto pada Sabtu (23/11) siang.

Rombongan Menteri Edhy tiba di lokasi dan langsung meninjau stand IPF ke 8 yang berlangsung dari tanggal 21 – 24 November 2019 di Atrium Lippo Mall Kemang Jakarta Selatan.

IPF ke-8 ini terselenggara atas kerja sama KKP bersama DWP KKP, Asosiasi Budidaya Mutiara Indonesia (Asbumi), dan Pemerintah Provinsi Sulawesi Utara. Kegiatan ini mengusung tema “The Marvelous Indonesian South Sea Pearl”, dan mengangkat keunikan dan keindahan Provinsi Sulawesi Utara dan Bunaken yang merupakan wilayah potensi budidaya dan produksi kerang mutiara.

Menurut Menteri Edhy, Sulawesi Utara itu daerah strategis. Selain dekat dengan perbatasan laut utara juga punya daya tarik yang luar biasa sehingga jadi salah satu provinsi yang menjadi fokus pemerintahan saat ini untuk dikembangkan.

“Ada 10 destinasi wisata, salah satunya ada di Sulawesi Utara. Mudah mudahan itu nanti yang akan mendorong industri mutiara kita di sana,” tutur Menteri Edhy dalam sambutannya.

“Saya melihat sendiri banyak kekayaan alam kita yang belum kita optimalkan. Dulu Indonesia, yang namanya mutiara ini kita adalah rajanya di dunia. Kalau melihat sekarang, kita nomor 5 di dunia. Padahal kita mempunyai laut dengan jumlah pulau sekitar 17.000. Berbudidaya mutiara ini pasti berhubungan dengan pantai dan laut yang bersih. Saya yakin Indonesia mempunyai peluang yang besar untuk bisa menjadi nomor 1 di dunia,” lanjutnya, dikutip laman KKP.

Dalam kesempatan tersebut, Menteri Edhy mengucapkan terima kasih kepada pelaku usaha budidaya dan perhiasan mutiara yang masih setia menekuni bisnis mutiara untuk menguatkan industri mutiara. “Sudah ditugaskan Presiden kepada kami untuk mendorong budidaya di sektor perikanan, termasuk juga mutiara. Kami berkomitmen, KKP akan menjadi pembina, akan menjadi mitra yang mencari jalan keluar bagi solusi-solusi yang selama ini belum selesai. Kami akan membuka diri, kami juga akan terbuka menerima masukan supaya industri mutiara ini bisa berkembang,” tegasnya.

Sementara itu, Direktur Jenderal PDSPKP Agus Suherman menyampaikan, IPF kali ini mengusung pesona mutiara laut selatan Indonesia (Indonesian South Sea Pearl) dari tiram Pinctada maxima hasil alam maupun hasil budidaya.

Ia menambahkan, sumber mutiara laut selatan ini tersebar di berbagai wilayah Indonesia di antaranya Bali, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tengara Timur, Sulawesi Utara, Sulawesi Tenggara, Sulawesi Tengah, Maluku, Maluku Utara, Papua, dan Sumatera Barat.

Selain itu, Ia juga mengatakan gelaran IPF kali ini diikuti oleh 32 booth yang terdiri dari 21 booth pelaku usaha budidaya dan perhiasan, 1 booth Provinsi Sulut, 3 booth sponsor, dan 3 booth penunjang.

“IPF ini diharapkan dapat menarik retailers maupun pengguna dan pecinta mutiara yang datang dari dalam dan luar negeri, dan meningkatkan industri mutiaran Indonesia,” ungkap Agus.

Di sela-sela ajang IPF juga diselenggarakan seminar tentang potensi mutiara dan pariwisata di Sulawesi Utara dengan narasumber Penasehat DWP KKP, Iis Edhy Prabowo dan Kepala Dinas Pariwisata Provinsi Sulawesi Utara, Daniel Mawengkang.

Iis Edhy Prabowo mengatakan, Indonesian South Sea Pearl (ISSP) atau mutiara laut selatan Indonesia berkontribusi 50% dari produksi South Sea Pearl dunia.

“Adalah PR kita bersama bagaimana agar dunia Internasional itu mengetahui bahwa mutiara terbaik itu berasal dari Indonesia, sehingga diharapkan potensi produksi mutiara menjadi penopang ekonomi untuk kesejahteraan masyarakat,” ucapnya.

“Kami sangat mengapresiasi animo para pengusaha, pelaku usaha, dan juga masyarakat yang ingin mengenal mutiara lebih dekat. Event IPF ini adalah salah satu ajang untuk memberikan pengetahuan kepada masyarakat bahwa South Sea Pearl Indonesia adalah aslinya dari Indonesia dan menjadikan mutiara sebagai primadona perhiasan wanita,” imbuhnya.

Sementara itu, Daniel Mawengkang mengungkapkan, saat ini sektor pariwisata Sulawesi Utara tengah berkembang pesat. Hal ini mengharuskan Sulawesi Utara mengikuti arus globalisasi yang menuntut adanya peningkatan baik infrastruktur objek maupun daya tarik termasuk sumber daya manusia sebagai subjek dinamisasi.

“Sebagai sektor yang bersifat multiplier effect, pariwisata diharuskan menjaga sinkronisasi kebijakan nasional serta globalisasi yang semakin kompetitif,” kata Daniel.

“Kegiatan sosialisasi pengembangan potensi destinasi pariwisata ini diharapkan dapat meningkatkan pemahaman dan inovasi untuk mengembangkan destinasi pariwisata, menjadi keunggulan daerah dan sumber devisa bagi negara,” pungkasnya. (rud)

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *