Tutup Keketuaan Chile di Singapura, APEC Rangkum Sejumlah Capaian

Selasa, 10 Desember 2019

Jakarta, MINDCOMMONLINE.COM – Forum Kerja Sama Ekonomi di Kawasan Asia Pasifik (Asia-Pacific Economic Cooperation/APEC), di bawah keketuaan Chile, menutup pertemuan APEC 2019 dengan sejumlah capaian. Capaian tersebut dirangkum dalam Pertemuan Tingkat Pejabat Senior (Concluding Senior Officials’ Meeting/CSOM) di Sekretariat APEC di Singapura, Sabtu (7/12).

Direktur Perundingan APEC dan Organisasi Internasional Kementerian Perdagangan Antonius Yudi Triantoro yang hadir dalam pertemuan tersebut mengungkapkan, selama keketuaannya, Chile memprioritaskan upaya mewujudkan masyarakat digital Asia Pasifik dan peningkatan integrasi kawasan melalui pemanfaatan industri 4.0.

“Perwujudan masyarakat digital Asia Pasifik dilakukan melalui implementasi peta jalan internet dan digital ekonomi yang disepakati pada 2017. Dalam implementasinya, Indonesia menekankan pentingnya upaya APEC mengurangi kesenjangan digital di kawasan, meningkatkan kapasitas sumber daya manusia dalam menguasai teknologi dan inovasi, serta mengakui kondisi sosial ekonomi dan regulasi domestik yang berbeda di antara anggota APEC,” jelas Yudi.

Selain itu, Chile juga memprioritaskan pemberdayaan perempuan untuk mewujudkan pertumbuhan inklusif dan langkah nyata komitmen mewujudkan pertumbuhan yang berkelanjutan. Untuk itu, Ekonomi APEC menyepakati peta jalan untuk mendorong pemberdayaan perempuan (Santiago Roadmap), memerangi praktik perikanan ilegal, dan memperkuat ketahanan ekosistem laut.

“Santiago Roadmap menunjukkan keseriusan APEC mendorong pertumbuhan inklusif dan memastikan pertumbuhan ekonomi dapat dinikmati secara merata. APEC juga melihat pentingnya perhatian terhadap kelestarian lingkungan hidup dan sumber daya alam untuk mencapai pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan,” tambah Yudi.

Pada CSOM APEC juga dibahas upaya-upaya peningkatan integrasi ekonomi regional melalui perwujudan kawasan perdagangan bebas Asia Pasifik (The Free Trade Area of the AsiaPacific/FTAAP), serta peningkatan konektivitas kawasan melalui pemanfaatan perkembangan industri 4.0.

“Dalam mewujudkan FTAAP di masa mendatang, APEC sebagai inkubator ide dapat belajar dari kesuksesan negosiasi RCEP yang merupakan perjanjian perdagangan regional terbesar di kawasan Asia Pasifik saat ini,” imbuh Yudi.

Yudi menambahkan, seiring perkembangan rantai nilai global (global value chains/GVC) yang menjadi tren baru dalam perdagangan modern saat ini, kemampuan ekonomi untuk lebih berpartisipasi dalam GVC menjadi tantangan tersendiri bagi APEC. Keterlibatan dalam GVC dapat mendukung terciptanya integrasi ekonomi regional.

Menyadari hal tersebut, Indonesia mengambil peran sebagai salah satu pelopor (champion economy) dalam mendukung implementasi cetak biru GVC 2.0 yang diusulkan Chile. Cetak biru tersebut bertujuan untuk merancang program peningkatan kapasitas bagi Ekonomi APEC dalam mengambil manfaat lebih dari GVC.

Selain itu, anggota Ekonomi APEC juga membahas pencapaian target Bogor Goals tahun 2020 dan penyusunan visi APEC pasca-Bogor Goals. Ekonomi APEC sepakat mempercepat pencapaian Bogor Goals yang difokuskan pada sektor jasa dan menyusun langkah kongkret pencapaian target pada Keketuaan Malaysia tahun 2020.

“Sebagai salah satu perumus Bogor Goals, Indonesia berkepentingan untuk berkontribusi dalam pencapaian target penyelesaiannya di tahun 2020. Namun yang lebih penting adalah mengawal visi APEC pasca-Bogor Goals agar tetap selaras dengan kepentingan nasional,” pungkas Yudi.

Situasi politik dalam negeri Chile tidak menghentikan Pemerintah Chile menyelesaikan tanggung jawab keketuaan APEC pada 2019. Sebelumnya, Presiden Chile Sebastian Pinera, telah mengambil keputusan membatalkan penyelenggaraan KTT APEC pada pertengahan November 2019 lalu akibat gelombang demonstrasi massa yang mengancam kondisi keamanan dalam negeri.

Asia-Pacific Economic Cooperation (APEC) adalah forum kerja sama 21 Ekonomi di lingkar Samudera Pasifik. Kegiatan utama di APEC meliputi kerja sama perdagangan dan investasi, serta kerja sama ekonomi lainnya untuk mendorong perdagangan dan investasi di antara sesama ekonomi anggotanya.

Ekonomi APEC terdiri dari Australia, Brunei Darussalam, Filipina, Kanada, Chile, Tiongkok, Hong Kong, Indonesia, Jepang, Korea Selatan, Malaysia, Meksiko, Selandia Baru, Peru, Papua Nugini, Rusia, Singapura, Taiwan, Thailand, Amerika Serikat, dan Vietnam.

Kerja sama APEC bersifat nonpolitis dimana keputusan-keputusan yang dihasilkan sering kali tidak bersifat mengikat. APEC bertujuan mendorong pertumbuhan ekonomi dan peningkatan kesejahteraan di Asia Pasifik.

Pada 2019, anggota ekonomi APEC mewakili 39 persen penduduk dunia (2,9 miliar), 47 persen dari perdagangan global (USD 22 triliun), dan 60 persen dari total riil GDP dunia (USD 48 triliun). Ekspor perdagangan Indonesia dengan kawasan APEC secara nilai menunjukkan peningkatan pada 2018. Total nilai ekspor Indonesia tahun 2018 keanggota APEC meningkat sebesar USD 129,2 miliar, dibandingkan tahun 2017 sebesar USD 117,9 miliar USD. (udy)

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *